Mendiktisaintek Minta Riset Kampus Jadi Solusi Masalah Bangsa

Mendiktisaintek Minta Riset Kampus Jadi Solusi Masalah Bangsa

Charolin Pebrianti - detikJatim
Minggu, 12 Jul 2026 12:00 WIB
Menristekdikti saat berada di Pondok Gontor
Menristekdikti saat berada di Pondok Gontor/Foto: Charolin Pebrianti/detikJatim
Ponorogo -

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mendorong Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor agar hasil riset dan penelitian kampus memberi dampak nyata bagi masyarakat. Hal itu disampaikan saat menghadiri Milad ke-63 UNIDA yang dirangkai dengan peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor.

Brian mengatakan, Gontor telah lama dikenal melahirkan lulusan berintegritas dengan bekal akhlak dan kemampuan bahasa yang kuat. Menurutnya, nilai tersebut harus terus dikembangkan dan diwujudkan dalam kontribusi nyata bagi bangsa.

"Kami berharap kader-kader Pondok Modern Gontor semakin banyak mengisi lembaga-lembaga strategis di negara ini sehingga kekuatan integritas itu bisa mewarnai berbagai kebijakan," ujar Brian, Minggu (12/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia juga meminta seluruh riset, mulai skripsi, tesis hingga disertasi di UNIDA diarahkan untuk menjawab persoalan riil di masyarakat.

ADVERTISEMENT

"Kalau bisa dihubungkan dengan permasalahan bangsa, baik di Ponorogo, Jawa Timur maupun Indonesia. Sehingga karya-karya dari Pondok Modern Gontor bisa menjadi solusi yang benar-benar dirasakan masyarakat," tambahnya.

Sementara itu, Rektor UNIDA Gontor, Prof. Hamid Fahmy Zarkasyi, melaporkan kampus yang dipimpinnya kini memiliki 6.577 mahasiswa dengan 29 mahasiswa asing, sembilan fakultas, serta 28 program studi. Sejak 2023, UNIDA telah meraih akreditasi unggul yang menjadi dasar pembukaan Fakultas Kedokteran.

"Alhamdulillah tahun ini Fakultas Kedokteran sudah memasuki tahun kedua menerima mahasiswa," kata Hamid.

Ia menegaskan UNIDA tetap mempertahankan sistem perguruan tinggi berbasis pesantren. Seluruh mahasiswa diwajibkan tinggal di asrama dan dibina selama 24 jam.

"Kami menggunakan sistem penilaian yang holistik. Tidak hanya akademik, tetapi juga aktivitas organisasi, hafalan Al-Qur'an, hingga pembinaan karakter," jelasnya.

Dalam bidang pengabdian masyarakat, Hamid menyebut setiap tahun UNIDA membina sedikitnya 50 desa melalui program KKN. Mahasiswa diterjunkan untuk mendampingi masyarakat dalam bidang pertanian, UMKM, teknologi informasi hingga pendidikan keagamaan.

Pada Milad ke-63 ini, UNIDA juga meluncurkan berbagai capaian, di antaranya 100 karya dosen dan alumni tentang sistem pendidikan Gontor, 100 buku ajar, 100 karya pemikiran Islam kontemporer, serta mengumumkan telah memiliki 100 dosen bergelar doktor.

Presiden UNIDA Gontor KH Hasan Abdullah Sahal menegaskan pendidikan di Gontor tidak berorientasi mencetak lulusan yang mengejar kepentingan pribadi.

"Kami tidak mendidik anak-anak menjadi egois, materialistis atau hedonis. Kami mendidik mereka agar menjadi manusia yang bermanfaat bagi umat," tegas Hasan.

Ia mengatakan filosofi pendidikan Gontor selalu mengajarkan santri untuk memberi manfaat bagi masyarakat.

"Orang datang ke Gontor apa yang kau cari? Setelah keluar dari Gontor apa yang kau beri? Itu yang selalu kami tanamkan kepada para santri," pungkasnya.



(hil/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads