Hari Anak Nasional 2026 Tanggal Berapa? Ini Sejarah, Tema, dan Maknanya

Hari Anak Nasional 2026 Tanggal Berapa? Ini Sejarah, Tema, dan Maknanya

Mira Rachmalia - detikJatim
Rabu, 08 Jul 2026 14:45 WIB
Poster Hari Anak Nasional 2023
Ilustrasi hari anak nasional (Foto: canva)
Surabaya -

Hari Anak Nasional (HAN) 2026 kembali diperingati sebagai momentum untuk mengingatkan seluruh masyarakat bahwa setiap anak Indonesia memiliki hak untuk hidup, tumbuh, berkembang, serta memperoleh perlindungan yang layak. Lantas, Hari Anak Nasional 2026 tanggal berapa?

Hari Anak Nasional 2026 diperingati pada Kamis, 23 Juli 2026. Selain mengetahui tanggal peringatannya, masyarakat juga perlu memahami sejarah penetapan Hari Anak Nasional, tema yang diusung pada tahun ini, hingga makna di balik peringatan tersebut. Berikut penjelasan lengkapnya.

Hari Anak Nasional 2026 Tanggal Berapa?

Hari Anak Nasional 2026 diperingati pada Kamis, 23 Juli 2026.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengutip informasi dari Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, peringatan Hari Anak Nasional tahun 2026 akan dipusatkan di Kota Tanjungpinang. Penyelenggaraan tingkat nasional tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat komitmen pemerintah dalam mewujudkan lingkungan yang aman, sehat, inklusif, dan ramah bagi anak.

Perayaan Hari Anak Nasional 2026 mengusung konsep "Main Raya Anak Nusantara". Konsep tersebut menegaskan bahwa anak-anak Indonesia berhak menikmati masa kanak-kanak yang bahagia melalui ruang bermain yang aman, memperoleh pendidikan yang layak, serta tumbuh dalam lingkungan yang mendukung perkembangan fisik, mental, maupun sosial mereka.

ADVERTISEMENT

Dalam pelaksanaannya, peringatan Hari Anak Nasional 2026 direncanakan menghadirkan berbagai permainan tradisional sebagai sarana edukasi sekaligus pelestarian budaya.

Selain itu, Tari Boria, kesenian khas Kepulauan Riau yang telah memiliki Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), juga diproyeksikan menjadi salah satu sajian utama yang melibatkan partisipasi anak-anak sebagai pembuka rangkaian acara.

Sejarah Hari Anak Nasional

Penetapan 23 Juli sebagai Hari Anak Nasional memiliki perjalanan sejarah yang cukup panjang.

Tanggal tersebut dipilih karena bertepatan dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak. Regulasi tersebut menjadi salah satu tonggak awal hadirnya perlindungan hukum terhadap hak dan kesejahteraan anak di Indonesia.

Beberapa tahun kemudian, pemerintah menetapkan Hari Anak Nasional secara resmi melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1984 yang ditandatangani pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Sejak saat itu, setiap tanggal 23 Juli diperingati sebagai Hari Anak Nasional.

Penetapan tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran seluruh elemen bangsa bahwa anak bukan hanya generasi penerus, tetapi juga individu yang memiliki hak untuk mendapatkan perlindungan, pendidikan, pelayanan kesehatan, serta kesempatan berkembang secara optimal.

Seiring perkembangan zaman, tema Hari Anak Nasional terus berubah mengikuti tantangan yang dihadapi anak Indonesia. Meski demikian, tujuan utamanya tetap sama, yaitu memperkuat pemenuhan hak anak sekaligus mendorong terciptanya lingkungan yang aman, inklusif, dan mendukung tumbuh kembang mereka.

Apa Makna Hari Anak Nasional?

Hari Anak Nasional bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan pengingat bahwa pemenuhan hak anak merupakan tanggung jawab bersama, mulai dari keluarga, sekolah, masyarakat hingga pemerintah.

Makna tersebut tercermin melalui berbagai upaya untuk memastikan setiap anak memperoleh kesempatan yang sama dalam mengakses pendidikan, layanan kesehatan, perlindungan dari kekerasan, eksploitasi, diskriminasi, maupun perundungan.

Selain itu, Hari Anak Nasional juga menjadi momentum untuk memperkuat partisipasi anak dalam berbagai kebijakan yang berkaitan dengan kehidupan mereka. Anak dipandang bukan hanya sebagai objek perlindungan, tetapi juga sebagai subjek yang memiliki suara dan berhak menyampaikan pendapat sesuai usia dan tingkat perkembangannya.

Pada akhirnya, investasi terhadap kesejahteraan anak merupakan investasi bagi masa depan bangsa. Anak-anak yang tumbuh sehat, terlindungi, dan memperoleh pendidikan yang baik akan menjadi fondasi bagi pembangunan Indonesia di masa mendatang.

Bagaimana Hari Anak Nasional Diperingati?

Setiap tahun, Hari Anak Nasional diperingati melalui berbagai kegiatan yang melibatkan anak, keluarga, sekolah, komunitas, hingga pemerintah daerah.

Rangkaian kegiatan umumnya meliputi program edukasi mengenai hak anak, forum suara anak, kampanye perlindungan anak, lomba kreativitas, pertunjukan seni budaya, permainan tradisional, hingga kegiatan sosial yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan anak.

Sejumlah organisasi sosial maupun lembaga kemanusiaan juga memanfaatkan momentum ini untuk menggelar kegiatan donasi, pemeriksaan kesehatan, pendampingan pendidikan, serta kampanye mengenai pentingnya menciptakan lingkungan yang aman dan ramah anak.

Melalui berbagai kegiatan tersebut, Hari Anak Nasional diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, tetapi menjadi penggerak kolaborasi seluruh pihak dalam memenuhi hak-hak anak Indonesia.

Hari Anak Nasional dan Hari Anak Sedunia, Apa Bedanya?

Masih banyak masyarakat yang mengira Hari Anak Nasional sama dengan Hari Anak Sedunia. Padahal, keduanya merupakan peringatan yang berbeda.

Hari Anak Nasional diperingati setiap 23 Juli dan berlaku secara khusus di Indonesia. Tanggal tersebut berkaitan dengan sejarah perlindungan anak di Indonesia melalui lahirnya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 dan penetapan Hari Anak Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 44 Tahun 1984.

Sementara itu, Hari Anak Sedunia (World Children's Day) diperingati setiap 20 November. Tanggal ini ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memperingati diadopsinya Deklarasi Hak Anak pada 1959 dan Konvensi Hak Anak pada 1989. Peringatan tersebut menjadi momentum global untuk mendorong perlindungan serta pemenuhan hak anak di seluruh dunia.

Dengan demikian, meski memiliki tujuan yang sama, Hari Anak Nasional dan Hari Anak Sedunia memiliki latar belakang sejarah dan ruang lingkup yang berbeda.




(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads