Hidup tak selalu berjalan mulus. Kadang berliku, kadang-kadang terjatuh dan perlu bangkit lagi. Seperti itulah gambaran perjuangan Ni'matul Zahro, seorang anak petani asal Desa Gredek, Kecamatan Duduksampeyan, Gresik mengejar pendidikan tinggi.
Perjalanannya meraih mimpi justru dipenuhi kegagalan, keterbatasan ekonomi, hingga perjuangan panjang yang menguji keteguhan hati. Tetapi dari berbagai rintangan itu lahir sebuah pencapaian membanggakan. Kini dia tengah menempuh pendidikan doktor (PhD) di Australia.
Perempuan kelahiran Oktober 1999 itu tumbuh di lingkungan keluarga yang jauh dari kemewahan. Sejak kecil ia terbiasa menyaksikan ibunya bekerja keras demi memenuhi kebutuhan keluarga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi ekonomi serba terbatas tidak membuatnya menyerah. Sebaliknya, keadaan itu menjadi bahan bakar yang terus mendorongnya untuk belajar dan memperluas cakrawala pengetahuan.
Impian untuk menempuh pendidikan di luar negeri sebenarnya telah tumbuh sejak ia masih duduk di bangku kuliah S1 Pendidikan Kimia Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Di tengah kesibukan kuliah ia mulai membayangkan suatu hari bisa mengenyam pendidikan di negara lain dan melihat dunia yang lebih luas.
Mimpi itu tidak hanya berhenti sebagai angan-angan. Setelah lulus kuliah dan bekerja, Ni'matul mulai mempersiapkan diri dengan serius. Salah satu langkah yang ditempuh adalah mengikuti seleksi beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Tapi perjuangan tidak semulus yang dia bayangkan. Pada percobaan pertama ia harus menerima kenyataan pahit saat gagal lolos seleksi. Kegagalan itu sempat menjadi pukulan telak bagi mentalnya. Tetap Ni'matul memilih bangkit dan kembali mencoba.
"Saya memang sudah bermimpi bisa belajar ke luar negeri sejak kuliah S1. Setelah lulus dan bekerja, saya terus mempersiapkan diri. Saya juga ambil S2 di Inggris. Saya mengikuti seleksi LPDP. Percobaan pertama gagal, tetapi saya mencoba lagi hingga akhirnya lolos," ujarnya, Senin (6/7/2026).
Keberhasilan memperoleh beasiswa LPDP menjadi titik balik yang membuka jalan menuju pendidikan internasional. Ia kemudian menjalani berbagai tahapan lanjutan, termasuk mengikuti tes IELTS sebagai syarat mendaftar ke sejumlah universitas luar negeri. Baginya, setiap pencapaian besar selalu lahir dari proses yang panjang.
"Keberhasilan tidak datang secara instan. Yang paling penting adalah kemauan, usaha yang terus dilakukan, dan doa kepada Tuhan," katanya.
Buku untuk Persiapan SBMPTN Pinjam Tetangga
Di balik pencapaiannya hari ini, tersimpan kisah perjuangan yang tidak banyak diketahui orang. Saat hendak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, kondisi ekonomi keluarga menjadi tantangan tersendiri. Bahkan buku persiapan SBMPTN yang digunakannya saat itu merupakan pinjaman dari tetangga.
"Buku SBMPTN yang saya gunakan waktu itu meminjam dari tetangga. Saya mengikuti seleksi melalui jalur Bidikmisi sehingga tidak perlu membayar biaya. Kekhawatiran ibu saat itu adalah bagaimana biaya kuliah nanti. Tapi saya terus berjuang hingga akhirnya mimpi itu tidak berhenti di sana," kenangnya.
Kesulitan ekonomi bukan satu-satunya ujian yang dihadapi. Sejak kecil, Ni'matul tumbuh tanpa kehadiran ayah yang bekerja sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri dan tidak pernah kembali pulang. Dalam kondisi itu sang ibu jadi tulang punggung keluarga sekaligus sosok paling berpengaruh dalam hidupnya.
Ia menyaksikan sendiri bagaimana ibunya berjuang membesarkan dirinya dan mengurus keluarganya dengan segala keterbatasan yang ada. Dari perempuan itulah ia belajar arti kerja keras dan keteguhan.
"Beliau mengajarkan arti kerja keras, pantang menyerah, dan selalu memberikan restu dalam setiap langkah saya," tuturnya.
Meski berasal dari keluarga petani dengan kondisi ekonomi sederhana, Ni'matul tidak pernah merasa rendah diri. Baginya, latar belakang keluarga tidak menentukan sejauh apa seseorang bisa melangkah.
"Latar belakang keluarga tidak menentukan seseorang bisa atau tidak meraih cita-cita. Saya percaya semua orang memiliki kesempatan yang sama. Hal yang membuat saya ingin ke luar negeri sederhana saja, saya hanya ingin melihat dunia yang lebih luas," ujarnya.
Keinginan Melihat Dunia Lebih Luas
Keinginan untuk mengenal dunia itu tumbuh sejak usia muda. Kegemarannya membaca buku membuka banyak jendela pengetahuan tentang berbagai negara dan budaya. Salah satu buku yang paling membekas dalam ingatannya adalah '99 Cahaya di Negeri Eropa' yang membuatnya semakin penasaran terhadap kehidupan di luar Indonesia.
Perjalanan akademiknya terus berkembang. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana melalui jalur Bidikmisi di Unesa, ia berhasil melanjutkan studi magister MA Science Education di University College London, Inggris.
Kini, langkahnya berlanjut lebih jauh lagi. Ni'matul sedang menempuh pendidikan doktor (PhD Education) di Southern Cross University, Australia. Di sela aktivitas akademiknya, ia juga mengajar Kimia IGCSE di Timedoor Academy.
Untuk mencapai titik itu, proses yang dijalani tidak lah singkat. Ia harus mencari berbagai program PhD fully funded di sejumlah negara, menghubungi calon profesor pembimbing, mengikuti wawancara, menyusun proposal penelitian, hingga akhirnya menerima surat penerimaan sekitar 2 bulan setelah proses seleksi berlangsung.
Di tengah kesibukan hidup di negeri orang, ada satu nasihat sederhana dari sang ibu yang terus menemaninya hingga kini. "Kata ibu, harus selalu Ingat Tuhan," tuturnya.
Kalimat singkat itu menjadi pegangan ketika ia harus hidup jauh dari keluarga dan lingkungan yang selama ini dikenalnya.
"Saat berada di negeri orang, jauh dari keluarga dan tidak mengenal siapa pun, saya hanya bisa bersandar kepada Tuhan. Nasihat itu membuat hati saya lebih tenang dan langkah saya lebih ringan," katanya.
Meski kini berada ribuan kilometer dari kampung halamannya, Ni'matul tidak melupakan Desa Gredek yang membesarkannya. Ia meyakini ilmu, pengalaman, dan jejaring yang diperoleh selama belajar di luar negeri suatu saat dapat dibawa pulang untuk memberi manfaat bagi masyarakat.
"Saya percaya membangun desa tidak harus selalu dengan tinggal di desa. Ilmu, pengalaman, dan jaringan yang saya peroleh bisa saya bawa pulang melalui kolaborasi dengan pemerintah desa, sekolah, komunitas, maupun generasi muda," ujarnya.
Di akhir perbincangan, perempuan berusia 26 tahun itu menitipkan pesan kepada generasi muda yang mungkin sedang berjuang menghadapi keterbatasan ekonomi atau merasa mimpinya terlalu tinggi untuk diraih.
"Yang perlu diubah pertama adalah pola pikir. Pendidikan bukan sekadar untuk mendapatkan pekerjaan bergaji tinggi, tetapi untuk mengubah cara berpikir. Saat ini peluang beasiswa sangat banyak. Tinggal bagaimana kita mau mencari informasi, mempersiapkan diri, dan memenuhi persyaratan yang dibutuhkan," pungkasnya.
(auh/dpe)
