Tujuh Kelurahan di Kota Blitar tercatat sebagai wilayah rawan terdampak kekeringan panjang atau El Nino. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Blitar tengah melakukan pemantauan dan menyiapkan sejumlah sarana untuk menanggulangi dampak kekeringan panjang tersebut.
"Jadi potensi kekeringan tahun ini secara nasional ya, menurut BMKG akan terjadi di wilayah Indonesia bagian timur. Mulai dari NTT, NTB, Bali, dan Jawa yang berpotensi kekeringan. Nah, di Kota Blitar termasuk yang terdampak salah satunya," kata Kepala BPBD Kota Blitar, Agus Suherli kepada detikJatim, Rabu (1/7/2026).
Agus menyebut, pihaknya tengah melakukan pemantauan untuk melakukan mitigasi dampak bencana kekeringan tersebut. BPBD Kota Blitar mencatat ada sekitar tujuh kelurahan yang berpotensi mengalami kekeringan akibat kemarau panjang. Hal itu berdasarkan catatan laporan kekeringan dan krisis air pada tahun sebelumnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun tujuh titik wilayah itu yakni Kelurahan Ngadirejo, Tanggung, Jatimalang, Sentul, Gedog dan dua kelurahan di Kecamatan Sukorejo.
"Kami lakukan pemantauan karena tidak menutup kemungkinan tahun ini akan terjadi wilayah itu. Menurut BMKG, tahun ini kekeringan ini akan terjadi lebih kering ya dari tahun-tahun sebelumnya," terangnya.
Selain melakukan pemantauan, Agus menegaskan pihaknya juga telah menyiapkan sejumlah prasarana pendukung yang dibutuhkan untuk menangani apabila terdapat laporan kekeringan di wilayah tempat tinggal warga. Termasuk menyiapkan sekitar 21 unit tandon air yang dapat digunakan untuk suplai air bersih kepada warga yang terdampak kekeringan.
"Sudah kami siapkan sekitar 21 tandon air, dan armada untuk menyuplai air bersih kepada warga. Jadi kami siap menerima laporan dari warga apabila kesulitan air bersih, karena musim kemarau ini diperkirakan akan terjadi puncaknya itu sekitar pertengahan Agustus 2026," tandasnya.
(auh/hil)
