Pada tahun 2026, Segoro Topeng Kaliwungu kembali terpilih sebagai salah satu bagian dari Kharisma Event Nusantara 2026. Pencapaian ini menjadi bentuk apresiasi yang membanggakan bagi kesenian dan budaya lokal Lumajang.
Segoro Topeng Kaliwungu merupakan pertunjukan seni tradisional yang memadukan tari topeng khas dengan latar pesisir Lumajang. Kesenian ini menjadi daya tarik karena menampilkan budaya lokal dalam balutan pertunjukan yang unik.
Sejarah Segoro Topeng Kaliwungu
Melansir dari laman Jatimprov, Segoro Topeng Kaliwungu merupakan event yang mengusung konsep branding destinasi dengan menampilkan pertunjukan kolosal yang melibatkan ratusan penari. Tari Topeng Kaliwungu sendiri telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Kabupaten Lumajang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak sembarang pertunjukan, Segoro Topeng Kaliwungu merupakan bentuk kolosal dari Tari Topeng Kaliwungu, tarian sakral yang berasal dari Desa Kaliwungu, Lumajang.
Pada 2022, acara ini pertama kali digelar secara besar-besaran. Tujuan acara ini adalah untuk kebangaan daerah dan menampilkan wajah baru promosi pariwisata berbasis budaya.
Nama "Segoro Topeng" sendiri berasal dari perpaduan dua kekuatan utama. "Segoro" (Samudera Hindia) mempresentasikan kecantikan pantai selatan.
Sedangkan, kata "Topeng menggambarkan kekayaan nilai-nilai budaya lokal. Perpaduan ini menciptakan pengalaman yang tak terlupakan, yang mana seni tradisi berdialog langsung dengan alam.
Namun, di balik kemeriahan acara tersebut, ada makna yang tak boleh dilupakan. Segoro Topeng merupakan representasi suara masyarakat, warisan dari masa lalu, dan cahaya untuk masa depan.
Dalam setiap gerak topeng yang ditampilkan, tersimpan harapan akan hadirnya masyarakat yang semakin menghargai dan mencintainya budayanya. Pada akhirnya, siapapun yang menyaksikan Segoro Topeng tidak hanya membawa pulang potret visual semata.
Lebih dari itu, mereka turut membawa kisah, emosi, serta kebanggaan bahwa Indonesia melalui Lumajang memiliki cara yang unik untuk memperkenalkan diri kepada dunia.
Asal-usul Tarian Topeng Getak Kaliwungu
Tari Topeng Getak Kaliwungu merupakan pertunjukan utama yang ditampilkan dalam event Segoro Topeng Kaliwungu, menghadirkan tarian tradisional khas Lumajang dalam kemasan kolosal.
Seni tarian ini diciptakan oleh seniman asal Desa Kaliwungu, Kecamatan Tempeh, yakni Sanemo. Hingga kini, kesenian ini masih terjaga turun menurun.
Pada 2021, Tari Topeng Getak Kaliwungu ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WTB) oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi Republik Indonesia.
Menurut Pimpinan Generasi ke III Paguyuban Sri Katon Budaya Tirto Hadi (Cucu Mbah Nemo), tari Topeng Getak Kaliwungu merupakan wujud perpaduan Tari Topeng Madura dan Tari Topeng Jawa. Dengan demikian, tarian ini merupakan hasil dari seni pendalungan, yaitu gabungan budaya Madura dan Jawa.
Terdapat keunikan dari tarian ini, yaitu mengenai sisi topeng yang jadi sarana utama Tarian Topeng Getak Kaliwungu. Topeng asli peninggalan Mbah Nemo tersebut dipercayai mempunyai sifat sakral.
Artinya, topeng ini tidak dapat dibuat main-main atau digunakan secara sembarangan. Bahkan terdapat semacam ritual khusus sebelum memakai topeng tersebut dan tampil dalam pertunjukan.
Jadwal Segoro Topeng Kaliwungu 2026
Segoro Topeng Kaliwungu 2026 kembali menjadi salah satu agenda budaya unggulan di Kabupaten Lumajang. Tahun ini, festival yang memadukan pertunjukan seni topeng dengan panorama Pantai Watu Pecak tersebut kembali masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026 yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata.
Bagi masyarakat yang ingin menyaksikan kemeriahan acara ini, berikut jadwal lengkap pelaksanaannya. Berdasarkan informasi resmi Instagram Pariwisata Lumajang, Segoro Topeng Kaliwungu 2026 akan digelar selama dua hari sebagai berikut.
- Tanggal: 27-28 Juni 2026
- Lokasi: Pantai Watu Pecak, Lumajang, Jawa Timur
Mengusung tema "Lamajang: The Land of Glory", pertunjukan rakyat spektakuler ini akan menghadirkan perpaduan tari Topeng Kaliwungu dengan keindahan pesisir selatan Lumajang.
Penonton dapat menikmati sajian seni dan tradisi yang berpadu dengan suasana Pantai Watu Pecak, termasuk momen matahari terbenam yang menjadi daya tarik khas festival tersebut.
(irb/hil)
