Masuk hari ke-4 kemacetan yang terjadi di pelabuhan Ketapang Banyuwangi, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Banyuwangi akhirnya angkat bicara. DPRD mendesak ASDP sebagai pengelola pelabuhan untuk mencari solusi strategis jangka pendek.
Desakan itu disampaikan dalam kunjungan komisi 4 DPRD ke kantor pusat ASDP Ketapang. Ketua Komisi 4 DPRD Banyuwangi Patemo menegaskan bahwa DPRD telah menyerap informasi dari masyarakat tentang pemicu kemacetan. Patemo mempertanyakan terkait kemacetan yang terjadi di luar momentum Idul fitri dan Nataru.
"Masyarakat ini gelisah dengan adanya kemacetan yang berkepanjangan. Kami ini juga diwaduli dari banyak pihak. Nah, bagaimana ini solusi segera dalam jangka pendek? Karena ini perlu penanganan cepat," kata Patemo, Kamis (25/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Politisi dari PDI Perjuangan itu juga mempertanyakan terkait keberadaan kantung parkir yang berada di Bulusan. Menurutnya posisi kantung parkir Bulusan memicu kemacetan yang seharusnya dapat dihindari karena terjadi crossing kendaraan dari Bulusan menuju Ketapang saat kendaraan akan masuk kapal melalui dermaga di pelabuhan ASDP.
"Ini juga, kantung parkir di Bulusan kendaraan jadi crossing yang beresiko ini. Karena sudah pegang tiket antre dulu di Bulusan. Mau naik kapal keluar parkiran masuk ke Ketapang lagi. Ini memakan waktu dan memicu kemacetan juga. Kenapa tidak dicari solusinya?" Ungkap Patemo.
Menanggapi hal tersebut, General Manager ASDP Ketapang Arief Eko Kurniansjah menjelaskan saat ini ASDP Ketapang tengah menunggu informasi pemenang tender proyek pembangunan dermaga yang pengerjaannya ditargetkan bisa dilakukan mulai Juli.
"Sudah ada pengumuman pemenang tahun ini bisa dilakukan dan targetnya saat Nataru sudah bisa dioperasikan. Selain itu, jika ada perbaikan disini maka di Gilimanuk juga akan terhambat karena memang ini sepasang-sepasang. Targetnya setiap tahun akan ada dermaga yang direvitalisasi sepasang," ungkap Arief.
Saat ini, kapasitas dermaga di pelabuhan ASDP Ketapang ada di angka 30 ton dan hanya dermaga LCM yang mampu mengakomodir muatan berkapasitas sekitar 80 ton. Arief menyebut, dermaga yang akan dibangun manampung muatan hingga 50 ton.
"Saat ini di Ketapang ada 0 dermaga sementara di Gilimanuk ada 7 dermaga dan yang berkapasitas 80 ton hanya LCM. Sisanya ada MB dan Ponton yang hanya mampu menampung kapasitas 30 ton. Sementara mayoritas kendaraan didominasi logistik dengan muatan di atas 30 ton," ungkap Arief.
ASDP menargetkan pada 2028 akan ada 3 pasang dermaga dengan kapasitas lebih dari 50 ton. Menanggapi permintaan solusi dalam jangka pendek, ASDP mengaku telah mengoptimalkan operasional kapal yang ada dengan mengoperasikan 28 kapal setiap harinya.
(auh/dpe)
