Gonjang-ganjing Isu Erupsi Besar Gunung Lawu yang Dipastikan Hoaks

Round-Up

Gonjang-ganjing Isu Erupsi Besar Gunung Lawu yang Dipastikan Hoaks

Denza Perdana - detikJatim
Sabtu, 20 Jun 2026 09:20 WIB
Lebih dari 1.600 hektare hutan di Gunung Lawu rawan kebakaran. Perhutani Kawasan Pemangkuan Hutan (KPH) Lawu Ds menyiapkan satgas pencegahan dini kebakaran hutan.
Gunung Lawu. (Foto: dok. Sugeng Harianto/detikJatim)
Magetan -

Jagat media sosial mendadak dihebohkan unggahan viral dari akun penyebar hoaks kebencanaan yang mengeklaim Gunung Lawu menempati urutan nomor 7 sebagai gunung yang akan mengalami erupsi besar dalam waktu dekat. Narasi liar itu menyebut adanya kenaikan lava akibat tekanan tektonik dari jalur Bojonegoro.

Menanggapi kepanikan publik tersebut, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) langsung turun tangan dan memastikan bahwa informasi yang beredar luas tersebut adalah hoaks demi meredam keresahan.

Ketua Tim Gunung Api PVMBG, Heruningtyas Desi Purnamasari menjelaskan secara ilmiah Gunung Lawu merupakan gunung api tipe B. Artinya, gunung yang berdiri di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah ini tidak memiliki catatan erupsi magmatik dalam sejarah modern setelah tahun 1600.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Memang Gunung Lawu saat ini tipenya B ya, atau gunung api tipe B itu disebut juga gunung api yang ketika erupsi magmatik ya itu minimal satu kali dari tahun 1600 sampai sebelumnya. Jadi sejak 1600 itu Gunung Lawu belum pernah erupsi lagi," jelas Heruningtyas saat dihubungi detikJatim, Jumat (19/6/2026).

Heruningtyas menambahkan bahwa tim dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) telah diterjunkan ke lapangan untuk mengecek laporan masyarakat melalui survei geokimia. Hasilnya, tidak ditemukan adanya indikasi aktivitas magma naik.

ADVERTISEMENT

"Nah, dari hasil itu didapatkan lah bahwa untuk yang Gunung Lawu pada waktu itu aktivitasnya itu masih normal seperti itu ya. Jadi tidak ada anomali seperti yang diinformasikan oleh masyarakat," tegasnya.

Karena berstatus tipe B, Gunung Lawu juga tidak memiliki tingkat status aktivitas seperti Level Normal, Waspada, Siaga, atau Awas yang biasa diterapkan pada gunung api tipe A. PVMBG mengidentifikasi bahwa isu ini sengaja digulirkan oleh akun media sosial fiktif.

"Setelah ditelusuri oleh tim kami, ini memang ada akun yang dia itu khusus untuk menyebarkan berita-berita hoaks seperti itu ya. Jadi, dia tuh tidak hanya terkait tentang gunung api, tapi juga terkait tentang adanya gempa besar, tsunami, segala macam," ujarnya.

"Masyarakat diharapkan untuk tetap tenang dan tidak panik serta mengkonfirmasi berita-berita hoax itu dari kanal-kanal resmi Badan Geologi. Jadi Badan Geologi itu ada Magma Indonesia, di dalamnya itu juga dapat melihat aktivitas Gunung Api Tertinggi. Juga untuk berita-berita yang menimbulkan kepanikan itu untuk masyarakat diimbau tidak langsung panik atau percaya. Jadi harus di-crosscheck kebenarannya," imbau Heruningtyas.

Letusan Gunung Lawu di Masa Lalu

Klarifikasi ilmiah tersebut diperkuat oleh catatan sejarah dari pihak Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Lawu. Asisten Perhutani BKPH Lawu Selatan, Mulyadi, membeberkan aktivitas vulkanik terakhir Lawu terjadi ratusan tahun lalu, itu pun bukan letusan dahsyat yang destruktif.

"Memang Gunung Lawu pernah erupsi tapi tidak besar. Ratusan tahun lalu," ujar Mulyadi.

"Erupsi kecil saat itu dalam sejarah tahun 1885 dan hanya kecil terdengar suara dentuman," paparnya menambahkan.

Mulyadi menerangkan, meski berstatus aktif tapi tidur, Gunung Lawu memiliki karakteristik kawah belerang yang berada di jalur pendakian Cemoro Kandang wilayah Karanganyar, Jawa Tengah.

"Status gunung berapi aktif tapi tidur ratusan tahun terakhir erupsi 1885. Ada kawah juga yang berbau belerang," ungkap Mulyadi.

"Untuk kawah di wilayah Karanganyar jalur pendakian lewat Cemoro Kandang. Jarak dari pos masuk Cemoro Kandang mungkin sekitar 2 km," tandasnya.

Perhutani membenarkan ada penurunan tren jumlah pendaki pada momen bulan Suro tahun ini jika dibandingkan dengan tahun lalu. Namun, Mulyadi memastikan penurunan angka tersebut merupakan siklus kunjungan reguler dan sama sekali tidak berkaitan dengan kepanikan akibat isu erupsi di media sosial.

"Kalau jumlah pendaki bulan Suro ini dibanding tahun lalu menurun. Tapi bukan pengaruh isu Gunung Lawu erupsi," ungkap Mulyadi.

"Kita imbau pendaki tidak panik namun waspada. Karena Gunung Lawu salah satu gunung berapi aktif yang lama tidur. Ada kawah juga berada di pos dua kawasan Karanganyar," pungkasnya.

Santainya Pendaki Tanggapi Isu Erupsi Besar

Pantauan langsung di pos pendakian Cemoro Sewu, Kabupaten Magetan menunjukkan situasi riil di lapangan sangat kontras dengan kehebohan di dunia maya. Para pendaki yang baru saja turun dari puncak justru merespons isu tersebut dengan sangat santai.

Salah satu pendaki, Aurel (20), bersaksi bahwa situasi di atas gunung dalam kondisi yang sangat aman dan normal tanpa adanya tanda-tanda alam yang mencurigakan.

"Saya baru turun mendaki, alhamdulillah aman. Kita tidak perlu langsung percaya dan cari kebenaran dulu," ujar Aurel saat ditemui detikJatim, Jumat (19/6/2026).

Aurel mengaku dirinya bahkan baru mengetahui kabar miring tersebut setelah kembali tiba di pos bawah. "Saya belum lihat media sosial dan baru dengar ini," tandasnya.

Senada dengan Aurel, Muhammad (20), seorang pendaki asal Aceh yang tengah menempuh studi di Kampung Inggris, Kediri, mengaku tidak menangkap adanya kegaduhan ataupun kepanikan dari sesama pendaki di sepanjang jalur.

"Belum dengar, saya dari Aceh kebetulan sedang di Kediri di Kampung Inggris," papar Muhammad.

Ia mengingatkan kepada publik dan komunitas pencinta alam agar selalu menyandarkan informasi keselamatan pada lembaga resmi milik pemerintah seperti BMKG dan PVMBG. "Kita jangan panik, tunggu kabar dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)," imbaunya.



(auh/dpe)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads