BMKG menjelaskan soal potensi gempa darat yang dapat ditimbulkan oleh aktivitas Sesar Kendeng di Pulau Jawa, yang disebut berpotensi mencapai magnitudo 7. Meski demikian, masyarakat diminta tetap tenang dan tidak panik terhadap informasi yang beredar di media sosial.
Hal ini ramai diperbincangkan dalam unggahan Threads akun @hsuliz2021. Dalam unggahannya, ia menyebut, gempa Palu berpotensi terjadi di Bojonegoro hingga sesar Kendeng berpotensi menimbulkan gempa di daratan mencapai Magnitudo 7.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Malang, Ricko Kardoso, S.Tr mengatakan, potensi gempa darat mencapai Magnitudo 7 akibat Sesar Kendeng memang ada.
"Sesar Kendeng dalam Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) 2024 digabung penamaannya dengan Sesar Baribisa dan Sesar Semarang menjadi Java Back-arc Thrust. Magnitudo tertarget dalam Pusgen 2024 yang dimungkinkan terjadi sebagai skenario terburuk dari tiap segmen sesar aktif di segmen tersebut bervariasi Magnitudo enam sampai tujuh," kata Ricko saat dikonfirmasi detikJatim, Jumat (19/6/2026).
Meski ada potensi gempa darat Magnitudo 7, Ricko meminta warga tidak perlu panik. Apalagi, sudah banyak sosialisasi terkait keselamatan warga apabila terjadi gempa bumi.
"Namun kita jangan menjadi panik dengan angka-angka tersebut, tapi marilah kita meningkatkan kapasitas kita dengan mengetahui langkah-langkah apa yang harus dilakukan sebelum, sesaat, dan setelah kejadian gempa bumi," jelasnya.
"Karena sekali lagi hingga kini gempa belum bisa diprediksi secara tepat kapan, di mana, dan berapa magnitudonya kalau gempa bumi tersebut belum terjadi?," tambahnya.
Ricko menyebut, Sesar Kendeng memang ada di sejumlah wilayah di Jawa Timur, termasuk di dekat Kabupaten Bojonegoro. Sesar ini melintang sejauh 300 kilometer di Pulau Jawa.
"Zona Sesar Kendeng melintang sepanjang kurang lebih 300 Kilometer di bagian Utara Pulau Jawa, membentang dari selatan Semarang Jawa Tengah hingga ke wilayah Jawa Timur," terangnya.
Sesar ini, kata Ricko terbagi menjadi enam segmen utama yang melewati berbagai wilayah perkotaan dan kabupaten di Pulau Jawa. Yakni Segmen Demak, Segmen Purwodadi, Segmen Cepu, Segmen Blumbang (melintasi Lamongan), Segmen Surabaya (melintasi jantung Kota Surabaya), Segmen Waru (melintasi Sidoarjo).
"Secara administratif, jalurnya meliputi Salatiga, Grobogan, Blora, Madiun, Nganjuk, Jombang, Bojonegoro, Lamongan, Mojokerto, Sidoarjo, hingga Kota Surabaya," bebernya.
Ricko menyebut terakhir kali Sesar Kendeng beraktivitas dan berdampak cukup parah terjadi pada tahun 1915. Menurutnya, Sesar Kendeng merupakan sesar yang pergerakannya lambat.
"Sesar Kendeng adalah sesar dengan pergerakan lambat, sekitar 5 milimeter per tahun dan memiliki periode ulang gempa yang cukup panjang. Karena itu, gempa besar merusak atau destructive earthquake akibat sesar ini sebagian besar tercatat dalam sejarah masa lalu," jelasnya.
Ricko kemudian membeberkan gempa bumi akibat Sesar Kendeng yang berdampak buruk di antaranya terjadi pada tahun 1836 dan 1837 di mana gempa merusak di wilayah Mojokerto dan Ploso Jombang. Kala itu, estimasi kekuatannya mencapai Magnitudo 6 hingga 7 apabila dikonversi ke skala modern.
Selanjutnya gempa akibat Sesar Kendeng terjadi pada tahun 1862 dan 1915, di mana gempa merusak melanda wilayah Madiun. Lalu pada tahun 1867, gempa kuat merusak wilayah Surabaya.
Lebih lanjut, Ricko membeberkan kondisi Sesar Kendeng dalam beberapa tahun terakhir.
"Dalam beberapa tahun terakhir, kami mendeteksi adanya aktivitas seismik berupa gempa-gempa dangkal berskala kecil hingga menengah dengan Magnitudo 4 sampai 5 di sepanjang jalur sesar ini," tandasnya.
Simak Video "Video: Siap-siap! Puncak Kemarau Diprediksi pada Agustus dan Lebih Kering"
(auh/hil)