Banyak orang mengenal Sidoarjo sebagai Kota Udang atau Kota Bandeng. Namun, ada satu julukan lain yang sudah lama melekat pada kabupaten yang berbatasan langsung dengan Surabaya ini, yakni Kota Delta. Julukan tersebut bukan sekadar slogan daerah, melainkan berakar kuat pada kondisi geografis dan sejarah panjang perkembangan wilayah Sidoarjo sejak ratusan tahun lalu.
Lalu, mengapa Sidoarjo disebut Kota Delta? Jawabannya berkaitan dengan posisi wilayah ini yang berada di kawasan Delta Brantas, yaitu daratan yang terbentuk dari endapan Sungai Brantas selama berabad-abad. Dari kawasan delta inilah lahir pusat perdagangan, pertanian, perikanan, hingga peradaban yang ikut membentuk identitas Sidoarjo seperti sekarang.
Asal Usul Julukan Kota Delta pada Sidoarjo
Julukan Kota Delta muncul karena sebagian besar wilayah Sidoarjo berada di kawasan Delta Brantas, yakni wilayah daratan yang terbentuk dari proses sedimentasi atau pengendapan material yang dibawa aliran Sungai Brantas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam ilmu geografi, delta merupakan daratan baru yang terbentuk di sekitar muara sungai akibat tumpukan lumpur, pasir, dan material endapan lainnya yang terbawa arus sungai selama waktu yang sangat panjang.
Kondisi inilah yang terjadi di Sidoarjo. Selama ratusan hingga ribuan tahun, aliran Sungai Brantas membawa material endapan menuju pesisir timur Jawa. Endapan tersebut kemudian membentuk dataran rendah yang luas dan subur yang kini menjadi wilayah Kabupaten Sidoarjo.
Karena keberadaannya yang sangat identik dengan kawasan Delta Brantas, masyarakat dan pemerintah daerah kemudian mengenal Sidoarjo dengan sebutan Kota Delta.
Letak Geografis Sidoarjo yang Membentuk Kawasan Delta
Alasan utama Sidoarjo mendapat julukan Kota Delta dapat dilihat dari posisi geografisnya. Dilansir data dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Provinsi Jawa Timur, Kabupaten Sidoarjo berada di antara 2 cabang utama Sungai Brantas.
- Kali Surabaya atau Kali Mas di bagian utara
- Kali Porong di bagian selatan
Kedua sungai tersebut sama-sama bermuara ke Selat Madura dan membentuk kawasan delta yang sangat luas.
Secara geografis, Kabupaten Sidoarjo memiliki karakteristik:
- Berada pada koordinat 112,5Β° BT-112,9Β° BT dan 7,3Β° LS-7,5Β° LS
- Luas wilayah sekitar 634,39 kilometer persegi
- Menjadi kabupaten dengan luas wilayah terkecil di Jawa Timur
- Memiliki ketinggian rata-rata antara 0-25 meter di atas permukaan laut
- Didominasi tanah aluvium atau tanah hasil endapan sungai
Kondisi geografis tersebut membuat sebagian besar wilayah Sidoarjo berupa dataran rendah yang cocok untuk tambak, pertanian, dan permukiman.
Peran Sungai Brantas dalam Membentuk Sidoarjo
Jika berbicara tentang julukan Kota Delta, maka sulit memisahkan sejarah Sidoarjo dari Sungai Brantas. Sejak masa lampau, Sungai Brantas tidak hanya membentuk bentang alam wilayah ini, tetapi juga menjadi urat nadi kehidupan masyarakat.
Pada masa ketika transportasi darat belum berkembang seperti sekarang, Sungai Surabaya dan Sungai Porong menjadi jalur perdagangan yang sangat penting. Berbagai hasil pertanian, perikanan, dan kebutuhan pokok masyarakat didistribusikan melalui jalur sungai.
Selain sebagai sarana transportasi, aliran Sungai Brantas juga menjadi sumber irigasi utama bagi lahan pertanian warga.
Tanah hasil sedimentasi yang kaya unsur hara membuat kawasan Sidoarjo berkembang menjadi wilayah pertanian yang produktif. Kondisi ini kemudian didukung oleh melimpahnya kawasan tambak yang tumbuh di daerah pesisir dan dataran rendah.
Tak heran jika Sidoarjo kemudian dikenal sebagai salah satu sentra produksi bandeng, udang, dan hasil tambak lainnya di Jawa Timur.
Delta Brantas dan Jejak Kerajaan Kuno di Sidoarjo
Julukan Kota Delta ternyata juga memiliki keterkaitan dengan sejarah panjang kawasan Delta Brantas pada masa kerajaan-kerajaan kuno di Jawa Timur.
Wilayah ini diketahui pernah menjadi bagian penting dari sejumlah kerajaan besar, antara lain:
- Kerajaan Jenggala
- Kerajaan Singasari
- Kerajaan Majapahit
Salah satu yang paling sering dikaitkan dengan kawasan Sidoarjo adalah Kerajaan Jenggala.
Dalam sejumlah catatan sejarah, Kerajaan Jenggala yang berdiri pada tahun 1042 disebut pernah berkembang di kawasan Delta Brantas yang berada di sekitar wilayah Gedangan dan sekitarnya.
Posisinya yang berada di jalur sungai menjadikan kawasan ini strategis sebagai pusat perdagangan, pelayaran, dan aktivitas ekonomi masyarakat pada masanya.
Fakta ini menunjukkan bahwa kawasan Delta Brantas telah menjadi wilayah penting jauh sebelum lahirnya Kabupaten Sidoarjo modern.
Baca juga: 5 Wisata Sidoarjo untuk Libur Long Weekend |
Dari Sidokare Menjadi Sidoarjo
Perjalanan sejarah Sidoarjo berlanjut hingga masa kolonial Belanda. Sebelum bernama Sidoarjo, wilayah ini dikenal dengan nama Sidokare dan masih menjadi bagian dari Kabupaten Surabaya. Pemerintahan saat itu dipimpin oleh seorang patih bernama Raden Ngabei Djojohadjo.
Berdasarkan Keputusan Pemerintah Hindia Belanda Nomor 9 Tahun 1859 tertanggal 31 Januari 1859, nama Sidokare kemudian resmi diubah menjadi Sidoarjo. Nama tersebut terus digunakan hingga sekarang dan menjadi identitas resmi daerah yang dikenal luas sebagai Kota Delta.
Meski kini berkembang menjadi kawasan industri, perdagangan, dan permukiman modern, identitas Kota Delta masih sangat melekat pada Sidoarjo. Hal ini karena karakter geografis Delta Brantas masih terlihat jelas hingga saat ini.
Ribuan hektare tambak masih menjadi bagian penting dari lanskap wilayah Sidoarjo. Begitu pula jaringan sungai yang terus berperan dalam kehidupan masyarakat.
Selain itu, sektor perikanan, tambak, dan industri pengolahan hasil laut masih menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah.
Dengan kata lain, julukan Kota Delta bukan sekadar warisan sejarah, tetapi juga cerminan kondisi geografis dan kehidupan masyarakat Sidoarjo yang terus berlangsung hingga sekarang.
Julukan Kota Delta yang melekat pada Sidoarjo lahir dari perpaduan antara faktor geografis dan perjalanan sejarah yang panjang. Posisi wilayah yang berada di antara Kali Surabaya dan Kali Porong membentuk kawasan Delta Brantas yang subur dan strategis sejak zaman kerajaan hingga era modern.
Tak hanya membentuk bentang alam, kawasan delta juga menjadi fondasi berkembangnya perdagangan, pertanian, perikanan, hingga industri yang membuat Sidoarjo tumbuh menjadi salah satu daerah paling dinamis di Jawa Timur. Karena itulah, sebutan Kota Delta masih tetap relevan dan menjadi bagian penting dari identitas Kabupaten Sidoarjo hingga hari ini.
(ihc/dpe)
