Warga Desa Petisbenem, Kecamatan Duduksampeyan, Kabupaten Gresik melaporkan dugaan penebangan pohon asem yang dianggap keramat dan memiliki nilai sejarah bagi masyarakat setempat. Pohon di area telaga desa itu diketahui telah tumbang setelah ditebang oleh pihak yang belum diketahui secara pasti.
Penebangan itu membuat warga meradang, karena pohon asem itu diyakini memiliki keterkaitan dengan leluhur desa, Mbah Buyut Pupon. Selain pohon asem, sedikitnya 11 pohon trembesi di sekitar lokasi juga dilaporkan ikut ditebang.
Salah seorang pemuda desa, Ahsin, mengatakan warga memergoki aktivitas penebangan sekitar dua pekan lalu. Saat itu, warga sempat mengamankan seorang pria yang diduga terlibat dalam kegiatan tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekitar dua pekan lalu warga mengetahui ada aktivitas penebangan pohon asem yang selama ini dianggap sakral. Sekarang pohonnya sudah roboh. Selain itu, ada sekitar 11 pohon trembesi yang juga ditebang," ujar Ahsin, Kamis (4/6/2026).
Menurutnya, pohon asem tersebut bukan sekadar pohon tua, melainkan bagian dari sejarah dan tradisi masyarakat Desa Petisbenem. Setiap tahun, warga menggelar doa bersama dan berbagai kegiatan adat di lokasi tersebut dalam rangka haul Mbah Buyut Pupon.
"Setiap tahun ada kegiatan doa bersama dan pamit sebelum pelaksanaan haul Buyut Pupon," tuturnya.
Pohon asem keramat di Gresik ditebang pihak yang tidak diketahui. Warga meradang dan melaporkan penebangan liar ini. Foto: Istimewa) |
Berdasarkan cerita para sesepuh desa, area pohon asem itu dulunya menjadi tempat penyimpanan benda-benda pusaka milik leluhur desa. Karena itu, keberadaannya memiliki nilai budaya dan spiritual bagi masyarakat setempat.
"Menurut cerita para sesepuh, dahulu di area pohon asem itu disimpan benda-benda pusaka milik leluhur desa. Ada nilai sejarahnya juga" jelasnya.
Selain menjadi lokasi kegiatan haul, area tersebut juga kerap digunakan warga untuk berbagai tradisi desa, seperti walimatul ursy, sedekah bumi, dan kegiatan keagamaan lainnya.
"Biasanya ada kegiatan sedekah bumi atau tradisi lainnya tiap tahun," tambahnya.
Ahsin menambahkan, Pemerintah Desa Petisbenem telah memfasilitasi mediasi antara warga, pihak yang diduga terlibat, Polsek Duduksampeyan, serta Koramil setempat. Namun, warga akhirnya sepakat untuk menempuh jalur hukum agar kasus tersebut dapat diproses sesuai ketentuan yang berlaku.
"Sudah kita laporkan ke Polsek Duduksampeyan," pungkasnya.
Sementara itu, Kapolsek Duduksampeyan AKP Bakri membenarkan adanya laporan dari warga terkait dugaan penebangan pohon tersebut. Saat ini pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap fakta dan pihak yang bertanggung jawab.
"Benar, ada pengaduan terkait penebangan pohon yang dipercaya warga sebagai pohon keramat. Saat ini masih dalam tahap penyelidikan," kata Bakri.
(auh/dpe)

