Kemacetan parah terjadi di ruas Jalan Raya Domas, Kecamatan Menganti hingga Kecamatan Kedamean, Kabupaten Gresik, akibat proyek pelebaran jalan yang dikerjakan Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Provinsi Jawa Timur.
Berdasarkan pantauan di lokasi, Rabu (3/6/2026), antrean kendaraan mengular hingga sekitar 6,5 kilometer. Dari arah Morowudi, kemacetan terjadi mulai Balai Desa Boteng, Kecamatan Menganti, hingga Jalan Mojotengah.
Sementara dari arah sebaliknya, antrean kendaraan terlihat mulai Jalan Raya Kedamean, tepatnya di wilayah Balongjerambah, Desa Legundi, Kecamatan Kedamean.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemacetan dipicu penerapan sistem buka-tutup jalan karena sebagian badan jalan digunakan untuk pekerjaan pelebaran. Kendaraan dari kedua arah harus melintas secara bergantian, sehingga arus lalu lintas tersendat, terutama saat kendaraan berat melintas.
Proyek pelebaran jalan tersebut telah dimulai sejak pertengahan Mei 2026 dan diperkirakan berlangsung selama sekitar tiga bulan.
Kondisi ini menuai beragam tanggapan dari masyarakat. Sebagian pengendara mengeluhkan kemacetan yang terjadi hampir sepanjang hari, selain debu yang muncul akibat aktivitas proyek.
"Sejak ada perbaikan, kemacetan terjadi hampir sepanjang waktu, dari pagi sampai malam. Soalnya kendaraan harus bergantian melintas," ujar Wahyu, warga Banyuurip, Kecamatan Kedamean.
Wahyu yang setiap hari melintas di jalur tersebut untuk bekerja di kawasan Bunder mengaku kerap terlambat masuk kerja akibat kemacetan.
"Padahal saya sudah berangkat satu jam lebih awal dari biasanya. Tetap saja kadang terlambat. Kalau lewat tol, tarif Tol Krian-Bunder cukup mahal, jadi menambah biaya perjalanan," katanya.
Keluhan serupa disampaikan Sutejo, sopir truk pengangkut besi asal Tuban yang hendak menuju Driyorejo. Ia mengaku tidak mengetahui adanya proyek perbaikan jalan di Mojotengah.
"Kalau tahu ada perbaikan, saya lebih pilih lewat tol. Ini saya sudah hampir dua jam terjebak macet dan jalannya pelan sekali," ujarnya.
Menurut Sutejo, tarif Tol Krian-Bunder masih dianggap cukup tinggi oleh para sopir truk. Meski telah terhubung dengan jaringan Tol Trans Jawa, faktor biaya membuat banyak pengemudi memilih tetap menggunakan jalan arteri.
"Kalau keluar Belahanrejo memang lebih murah, tapi jaraknya jauh dari Driyorejo. Kalau keluar Legundi atau Driyorejo tarifnya lebih mahal. Apalagi kondisi ekonomi sekarang sedang sulit," tuturnya.
Di sisi lain, tidak sedikit warga yang mendukung proyek pelebaran jalan tersebut. Mereka menilai pekerjaan itu akan memberikan manfaat jangka panjang karena selama ini ruas Jalan Mojotengah dikenal sempit dan kerap tergenang saat musim hujan.
"Memang macetnya mungkin beberapa bulan saja. Tapi setelah selesai, jalan jadi lebih lebar dan semoga tidak banjir lagi. Mudah-mudahan bisa mengatasi masalah yang selama ini terjadi," kata Santoso, warga Wringinanom.
(auh/hil)
