Jawa Timur (Jatim) rupanya menyimpan jejak panjang sejarah perkembangan agama Budhha di Indonesia, termasuk keberadaan vihara-vihara tua yang masih berdiri dan aktif digunakan hingga sekarang.
Tidak hanya menjadi tempat ibadah, vihara-vihara ini juga menyimpan cerita panjang perjalanan spiritual, budaya, hingga sejarah perkembangan ajaran Buddha di Nusantara.
Menariknya, beberapa vihara di Jatim sudah dikenal sejak puluhan tahun lalu, dan memiliki ciri khas tersendiri, mulai dari arsitektur megah, suasana pegunungan yang tenang, hingga bangunan ikonik yang menjadi tujuan wisata religi. Berikut deretan vihara tertua dan paling bersejarah di Jatim.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Vihara Tertua di Jatim
Perkembangan vihara di Jatim tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang masuknya ajaran Buddha ke Nusantara. Seiring waktu, berbagai vihara dibangun sebagai pusat ibadah, meditasi, hingga pendidikan spiritual umat Buddha.
Beberapa vihara bahkan berkembang menjadi destinasi wisata religi karena memiliki nilai sejarah, arsitektur unik, dan suasana yang menenangkan.
Salah satu vihara tertua dan paling dikenal di Jatim adalah Vihara Padepokan Dhammadipa Arama di Kota Batu. Selain itu, ada pula Maha Vihara Mojopahit dan Vihara Avalokitesvara yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan agama Buddha di wilayah Jatim.
1. Vihara Padepokan Dhammadipa Arama Batu
Vihara Padepokan Dhammadipa Arama dikenal sebagai salah satu vihara tertua di Kota Batu, sekaligus salah satu pusat ibadah Buddha terbesar di wilayah Jatim. Vihara yang berada di Jalan Raya Mojorejo, Dusun Ngandat, Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu ini telah berdiri lebih dari 50 tahun.
Begitu memasuki kawasan vihara di dataran tinggi ini, suasana religius langsung terasa. Udara sejuk, lingkungan tenang, serta lokasi yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan membuat tempat ini kerap menjadi tujuan umat Buddha dari berbagai daerah untuk beribadah, bermeditasi, hingga mengikuti berbagai kegiatan spiritual.
Menurut Bhikkhu Jayamendho dalam wawancaranya dengan detikJatim, vihara ini mulai dirintis sekitar lima dekade lalu bersama para bhikkhu senior. Awalnya, kawasan tersebut hanya berupa lahan kecil yang kemudian berkembang menjadi kompleks vihara luas seperti sekarang.
Pemilihan kawasan Mojorejo bukan tanpa alasan. Selain karena dahulu banyak masyarakat beragama Buddha tinggal di wilayah tersebut, kawasan ini juga diyakini memiliki jejak sejarah spiritual masa lampau. Di sekitar area vihara bahkan pernah ditemukan prasasti dan sumber air yang dianggap sakral oleh warga setempat.
Kompleks vihara ini memiliki sejumlah bangunan ikonik yang menarik perhatian pengunjung. Salah satunya Pagoda Patirupaka Shwedagonn berwarna emas yang diresmikan pada 2003, dan terinspirasi dari pagoda terkenal di Myanmar. Bangunan tersebut digunakan sebagai tempat meditasi dan ibadah umat Buddha.
Kawasan vihara juga dilengkapi museum yang menyimpan berbagai benda terkait sejarah perkembangan agama Buddha. Selain itu, terdapat patung Buddha tidur berukuran besar berwarna emas yang menjadi salah satu ikon utama vihara.
Tak hanya menjadi tempat ibadah, Vihara Padepokan Dhammadipa Arama juga berfungsi sebagai pusat pendidikan agama Buddha. Di area vihara berdiri Sekolah Tinggi Agama Buddha Kertarajasa (STAB Kertarajasa) yang digunakan untuk mendidik calon bhikkhu dan praktisi Dhamma.
Bhikkhu Jayamendho menyebut ada puluhan samanera dan atthasilani dari berbagai daerah di Indonesia yang menempuh pendidikan di tempat ini. Mereka menjalani pembinaan spiritual dan pendidikan keagamaan layaknya sistem pesantren.
Saat perayaan hari raya Waisak, vihara ini menjadi pusat berbagai kegiatan keagamaan, mulai dari pindapata atau penerimaan dana makanan dari umat, puja bakti Waisak, hingga kegiatan sosial dan ziarah.
2. Maha Vihara Mojopahit Mojokerto
Maha Vihara Mojopahit Mojokerto. Foto: AFP via Getty Images/JUNI KRISWANTO |
Maha Vihara Mojopahit menjadi salah satu destinasi wisata religi Buddha yang ikonik di Jatim, terutama saat perayaan hari raya Waisak. Vihara yang berada di kawasan Trowulan, Mojokerto ini dikenal luas karena memiliki patung Buddha tidur raksasa berwarna emas yang menjadi daya tarik utama pengunjung.
Maha Vihara Mojopahit mulai dibangun pada 1987, sementara patung Buddha tidurnya dibuat beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 1993. Seiring waktu, kawasan ini berkembang menjadi salah satu pusat wisata religi dan budaya yang cukup populer di Mojokerto.
Patung Buddha tidur berwarna emas di vihara ini menjadi ikon paling mencolok dengan panjang sekitar 22 meter, lebar 6 meter, dan tinggi mencapai 4,5 meter. Letaknya berada di tengah kolam ikan di area selatan kompleks vihara sehingga terlihat megah saat memasuki kawasan tersebut.
Patung raksasa itu menggambarkan sosok Siddhartha Gautama dalam posisi Maha Parinibbana atau menjelang wafat. Dalam tradisi Buddha, posisi tersebut memiliki makna spiritual mendalam tentang ketenangan dan pelepasan dari kehidupan duniawi.
Keunikan lainnya, patung Buddha tidur ini menghadap ke arah selatan yang dianggap sebagai arah sakral bagi umat Buddha. Relief pada bagian tubuh patung juga menggambarkan perjalanan Buddha saat menyebarkan ajaran dharma dan hukum sebab akibat.
Pada 2001, Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) menetapkan patung Siddhartha Gautama dalam posisi Maha Parinibbana ini sebagai patung Buddha tidur terbesar di Indonesia, dan salah satu yang terbesar di Asia Tenggara.
Meski dikenal sebagai tempat ibadah umat Buddha, Maha Vihara Mojopahit juga terbuka untuk masyarakat umum. Banyak wisatawan datang untuk menikmati suasana tenang, melihat arsitektur vihara, hingga mempelajari sejarah perkembangan agama Buddha di kawasan bekas pusat Kerajaan Majapahit tersebut.
Menjelang perayaan Waisak, vihara ini rutin menggelar berbagai ritual keagamaan. Salah satu tradisi yang menarik perhatian adalah ritual memandikan patung Buddha tidur.
Saat dimandikan, seluruh bagian patung disiram menggunakan air bercampur bunga mawar, melati, kantil, dan kenanga. Setelah itu, permukaan patung dibersihkan perlahan sebagai simbol penyucian dan penghormatan menjelang Waisak.
Maha Vihara Mojopahit berada di Gang I Siti Inggil, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Vihara ini buka setiap hari pukul 08.00-17.00 WIB dengan harga tiket Rp 3.000 untuk dewasa dan Rp 2.000 untuk anak-anak.
3. Vihara Avalokitesvara
Vihara Avalokitesvara Foto: Sekber Mitra Praja Utama |
Vihara Avalokitesvara memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan perkembangan agama Buddha di Madura. Vihara ini disebut bermula dari penemuan empat arca Buddhis di kawasan Pantai Talang Siring sekitar abad ke-15.
Dilansir dari jurnal "Bentuk Kerukunan Antara Umat Beragama di Vihara Avalokitesvara Candih Polagan Galis Pamekasan Madura Tahun 1959-1962" karya Abdur Rahman dan Septina Alrianingrum, nama Avalokitesvara diambil dari Bodhisattva Avalokitesvara dalam ajaran Buddha Mahayana.
Arca utama di vihara ini merupakan arca bergaya Majapahit yang diperkirakan berasal dari masa Kerajaan Majapahit. Dalam tradisi Buddha, Avalokitesvara dikenal sebagai simbol welas asih dan kasih sayang terhadap seluruh makhluk. Sementara dalam tradisi Buddha Tionghoa, sosok ini lebih dikenal dengan Kwan Im Po Sat.
Sejarah vihara ini juga berkaitan dengan perkembangan agama Buddha di Pamekasan pada abad ke-15 melalui tokoh Ki Ario Minak Sanoyo, yang disebut sebagai keturunan Prabu Brawijaya V.
Pada masa itu, penguasa Jamburingin dikisahkan pernah memesan arca Dwi Avalokitesvara dan Sam Po Hud dari Majapahit sebagai perlengkapan ibadah umat Buddha.
Namun, arca-arca tersebut tidak pernah sampai ke tujuan dan justru terpendam di kawasan Talang Siring selama ratusan tahun sebelum akhirnya ditemukan kembali di area yang kini menjadi kompleks vihara.
Bangunan vihara saat ini juga bukan bangunan asli karena sempat mengalami penjarahan dan dibakar sekitar 1947. Vihara kemudian dibangun kembali pada 1951 dan terus direnovasi hingga sekarang.
Di tengah mayoritas masyarakat muslim di kawasan Candih dan Talang Siring, Vihara Avalokitesvara tetap berdiri sebagai simbol toleransi dan kerukunan antarumat beragama di Madura.
Keberadaan vihara-vihara bersejarah di Jatim ini tidak hanya menjadi tempat ibadah umat Buddha, tetapi menyimpan jejak perkembangan budaya dan sejarah Nusantara. Selain menjadi wisata religi, vihara-vihara tersebut memperlihatkan nilai toleransi, spiritualitas, dan keberagaman telah tumbuh sejak ratusan tahun lalu.
(irb/hil)


