Idul Adha Mencekam di Blitar Saat Petasan Balon Udara Tewaskan 1 Orang

Round-Up

Idul Adha Mencekam di Blitar Saat Petasan Balon Udara Tewaskan 1 Orang

Denza Perdana - detikJatim
Kamis, 28 Mei 2026 07:32 WIB
TKP ledakan petasan balon udara di Blitar
TKP ledakan petasan balon udara di Blitar. (Foto: Istimewa)
Jakarta -

Sukacita perayaan Hari Raya Idul Adha di Kabupaten Blitar mendadak berubah menjadi tragedi berdarah. Sebuah petasan berukuran besar yang dipasang pada balon udara tanpa awak meledak hebat sebelum sempat mengangkasa di area persawahan Dusun Tekik, Desa Tambakan, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar.

Insiden maut yang terjadi di tengah kekhusyukan masyarakat yang sedang melaksanakan ibadah salat Id tersebut menelan tiga orang korban. Satu orang pemuda dilaporkan tewas mengenaskan dengan kondisi tubuh memprihatinkan, sementara dua anak-anak di bawah umur yang berada di dekat lokasi ikut menjadi korban dan menderita luka-luka.

Pihak kepolisian dari Polres Blitar langsung bergerak cepat menerjunkan tim ke lokasi kejadian begitu menerima laporan dari warga setempat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Benar, masih dalam penyelidikan," kata Kasi Humas Polres Blitar Aiptu Muheni saat dikonfirmasi detikJatim, Rabu (27/5/2026).

Meledak Saat Dipegang Jelang Salat Id

Berdasarkan data yang dihimpun, peristiwa kelam ini dilaporkan terjadi sekitar pukul 06.30 WIB. Di saat sebagian besar warga bersiap menuju tempat ibadah, tiga orang warga Desa Tambakan ini justru berkumpul di area persawahan Dusun Tekik untuk menerbangkan balon udara tradisional yang telah dimodifikasi dengan rangkaian petasan.

ADVERTISEMENT

Nahas, proses peluncuran tersebut tidak berjalan mulus. Petasan yang digantungkan di bagian bawah balon udara itu justru meledak secara prematur tepat saat masih dipegang oleh salah satu korban.

"Balon udara itu dipasangi petasan. Kemudian petasan itu meledak dan mengenai korban. Korban IH mengalami luka serius," terang Muheni.

Akibat ledakan tersebut, korban berinisial IH (23) yang memegang sumbu petasan langsung terkapar di tanah dalam kondisi kritis dan tidak sadarkan diri. Korban menderita luka yang sangat mengerikan, di antaranya lengan kanan putus total hingga bagian siku, serta luka bakar parah yang menyelimuti area wajah hingga perutnya.

Sementara itu, dua korban lain yang masih anak-anak, yakni ADR (11) dan DS (12), bernasib lebih beruntung. Keduanya berhasil selamat dari hantaman gelombang ledakan utama dan hanya mengalami luka lecet ringan di beberapa bagian tubuh dalam kondisi tetap sadar.

Warga yang panik mendengar suara dentuman keras langsung mendatangi sumber suara di area sawah dan mengevakuasi ketiga korban ke fasilitas medis terdekat dengan menggunakan kendaraan darurat.

"Selanjutnya para korban dibawa ke RSUD Ngudi Waluyo, untuk mendapatkan perawatan. Namun, korban IH dinyatakan meninggal dunia," jelasnya. Nyawa pemuda berusia 23 tahun tersebut tidak dapat diselamatkan sesampainya di rumah sakit akibat pendarahan hebat dan luka bakar yang terlampau parah.

Identitas Korban

Guna memberikan kejelasan informasi kepada publik, Polres Blitar merilis secara struktural identitas lengkap serta status medis terakhir dari ketiga warga Desa Tambakan tersebut pasca-penanganan darurat di rumah sakit.

"Tiga korban yakni dengan inisial IH (23), ADR (11) dan DS (12). Seluruhnya merupakan warga Desa Tambakan Kecamatan Gandusari," kata Muheni.

Berdasarkan hasil identifikasi menyeluruh, korban tewas adalah IH (23), seorang warga Dusun Krajan. Sementara untuk dua korban luka ringan di antaranya ADR (11) yang menderita luka lecet di jari dan dagu, serta DS (12) yang mengalami luka lecet serupa pada jari tangan kiri dan area wajah.

Kedua anak itu kini masih menjalani perawatan intensif guna memulihkan trauma psikis dan luka fisik mereka di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi.

Hingga saat ini, area persawahan Dusun Tekik telah dipasangi garis polisi. Tim Satreskrim Polres Blitar bersama unit identifikasi masih berada di lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) susulan guna mengumpulkan sisa-sisa material balon udara dan serpihan petasan sebagai barang bukti hukum.

Pihak kepolisian menegaskan tidak akan tinggal diam atas insiden ini dan akan terus mendalami asal-usul bubuk mercon serta pembuat balon udara ilegal tersebut.

"Untuk penyebab masih belum bisa dipastikan, masih dalam penyelidikan. Anggota sudah di TKP, mohon waktu," tandas Muheni.

"Anggota masih terus melakukan penyelidikan dan pendalaman, untuk penanganan lebih lanjut. Mohon waktunya," pungkasnya menegaskan komitmen penegakan hukum dalam kasus ini.



(ihc/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads