Amalan Hari Arafah untuk Wanita Haid, Tetap Bisa Raih Keutamaan Besar

Amalan Hari Arafah untuk Wanita Haid, Tetap Bisa Raih Keutamaan Besar

Salma Nisrina Fahriyyah - detikJatim
Selasa, 26 Mei 2026 11:00 WIB
Ilustrasi ibadah sebelum Idul Adha. Niat puasa Tarwiyah.
Ilustrasi Ibadah (Foto: Gemini AI)
Surabaya -

Hari Arafah menjadi salah satu momen paling istimewa dalam Islam. Di hari ini, banyak umat muslim berlomba memperbanyak ibadah, terutama puasa Arafah yang dikenal memiliki keutamaan besar. Namun, tidak sedikit wanita yang merasa sedih ketika Hari Arafah datang bersamaan dengan masa haid karena tidak bisa ikut berpuasa maupun salat.

Padahal, wanita haid tetap memiliki kesempatan besar meraih pahala dan keberkahan di Hari Arafah. Islam tidak menutup pintu ibadah hanya karena seorang perempuan sedang berhalangan. Masih banyak amalan yang bisa dilakukan, simak selengkapnya!

Apakah Wanita Haid Bisa Mendapat Keutamaan Hari Arafah?

Haid bukanlah penghalang bagi seorang muslimah untuk tetap mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam Islam, haid merupakan kondisi alami yang sudah menjadi ketetapan Allah SWT bagi perempuan. Karena itu, wanita haid tidak berdosa ketika tidak menjalankan salat maupun puasa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal ini sebagaimana dijelaskan Rasulullah SAW kepada Aisyah RA ketika beliau menangis karena mengalami haid saat berhaji:

"Sesungguhnya ini adalah perkara yang telah ditetapkan oleh Allah atas putri-putri Adam. Lakukanlah apa yang dilakukan oleh jemaah haji, hanya saja jangan melakukan tawaf di Ka'bah sebelum bersuci." (HR Bukhari dan Muslim)

ADVERTISEMENT

Hadis tersebut menunjukkan bahwa perempuan yang sedang haid tetap bisa menjalankan berbagai ibadah lain dan tidak kehilangan kesempatan meraih pahala di Hari Arafah.

Keutamaan Hari Arafah yang Sayang Dilewatkan

Hari Arafah bukan hanya menjadi momen umat Muslim untuk mengejar keutamaan atau hikmah puasa sunnah. Dalam banyak riwayat, hari ini disebut sebagai salah satu hari paling mulia dalam Islam. Bahkan, pada Hari Arafah Allah SWT menurunkan ayat tentang kesempurnaan agama Islam.

Hal ini tergambar dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim tentang dialog Umar bin Khattab dengan seorang Yahudi mengenai turunnya ayat:


آيَةٌ فِى كِتَابِكُمْ تَقْرَءُونَهَا لَوْ عَلَيْنَا مَعْشَرَ الْيَهُودِ نَزَلَتْ لاَتَّخَذْنَا ذَلِكَ الْيَوْمَ عِيدًا . قَالَ أَىُّ آيَةٍ قَالَ ( الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا ) . قَالَ عُمَرُ قَدْ عَرَفْنَا ذَلِكَ الْيَوْمَ وَالْمَكَانَ الَّذِى نَزَلَتْ فِيهِ عَلَى النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - وَهُوَ قَائِمٌ بِعَرَفَةَ يَوْمَ جُمُعَةٍ


"Ada ayat dalam kalian yang kalian membacanya dan seandainya ayat tersebut turun di tengah-tengah orang Yahudi, tentu kami akan menjadikannya sebagai hari perayaan (hari ide)." "Ayat apakah itu? Tanya Umar". Ia berkata, "(ayat yang artinya): Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu."

"Umar berkata: Kami telah mengetahui hal itu yaitu hari dan tempat di mana ayat tersebut diturunkan pada Nabi saw. Beliau berdiri di Arafah pada hari Jumat." (HR Bukhari no.45 dan Muslim no.3017).

Maka jelas bahwa hari Arafah merupakan sebuah hari yang begitu mulia. Saking agungnya, bahkan umat Yahudi sekalipun akan menjadikan hari tersebut sebagai hari raya jika itu diwahyukan kepada mereka. Sebab pada hari tersebut, Allah SWT telah menurunkan wahyu yang menutup seluruh syariat dan dinyatakan sempurna.

Amalan Hari Arafah untuk Wanita Haid

Dilansir dari detikHikmah yang merangkum karya Himatu Mardiah Rosana dalam buku Ibadah Penuh Berkah Ketika Haid dan Nifas serta buku Do'a dan Amalan Istimewa Ketika Datang Bulan, berikut sejumlah amalan sunnah yang tetap bisa dikerjakan.

Memperbanyak Zikir dan Doa

Hari Arafah dikenal sebagai salah satu waktu terbaik untuk berdoa. Wanita haid tetap dianjurkan memperbanyak istighfar, zikir, serta memanjatkan doa-doa terbaik untuk diri sendiri maupun keluarga.

Salah satu zikir ringan yang dianjurkan Rasulullah SAW adalah:

"Subhanallahil azhim, subhanallahi wa bihamdihi."

Dalam hadis riwayat Bukhari disebutkan bahwa kalimat tersebut ringan di lisan tetapi berat dalam timbangan amal dan sangat dicintai Allah SWT. Selain doa-doa ma'tsur dari Al-Qur'an dan hadis, muslimah juga boleh berdoa dengan bahasa sendiri sesuai harapan masing-masing.

Bersedekah di Hari Arafah

Sedekah menjadi salah satu amalan yang sangat dianjurkan di hari-hari mulia. Wanita haid tetap bisa memanfaatkan Hari Arafah dengan membantu sesama, berbagi makanan, atau memberikan bantuan kepada yang membutuhkan.

Rasulullah SAW bersabda:

"Wahai kaum wanita, bersedekahlah kalian dan perbanyaklah istighfar." (HR Muslim)

Sedekah tidak harus selalu dalam jumlah besar. Memberikan makanan, membantu tetangga, atau berbagi kepada orang yang membutuhkan juga termasuk amal yang bernilai pahala.

Menyiapkan Makanan untuk Orang yang Puasa Arafah

Jika tidak bisa menjalankan puasa Arafah, muslimah tetap bisa memperoleh pahala besar dengan membantu orang lain berbuka puasa.

Rasulullah SAW bersabda:

"Barang siapa memberi makan orang yang berbuka, maka ia mendapat pahala seperti orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang tersebut sedikit pun." (HR At-Tirmidzi)

Amalan ini bisa dilakukan dengan cara sederhana, seperti menyiapkan sahur, memasak untuk keluarga, atau berbagi makanan berbuka kepada tetangga dan kerabat.

Memperbanyak Sholawat Nabi

Mengisi Hari Arafah dengan memperbanyak sholawat juga menjadi amalan yang dianjurkan. Selain mendatangkan ketenangan hati, sholawat menjadi salah satu bentuk cinta kepada Rasulullah SAW.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 56:

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya."

Rasulullah SAW juga bersabda:

"Orang yang paling berhak mendapatkan syafaatku pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak bersholawat kepadaku." (HR Tirmidzi dan An-Nasa'i)

Mengisi Hari dengan Menuntut Ilmu

Hari Arafah juga bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas diri melalui ilmu agama. Wanita haid tetap diperbolehkan menghadiri kajian, mendengarkan ceramah, membaca buku Islami, atau mengikuti kelas keislaman secara online.

Selain menambah wawasan, menuntut ilmu juga bisa menjadi momen refleksi diri agar hubungan dengan Allah SWT semakin baik.

Mengajak Orang Lain Berbuat Kebaikan

Mengajak orang lain melakukan amal saleh juga termasuk ibadah yang berpahala besar. Misalnya mengingatkan keluarga untuk puasa Arafah, membangunkan sahur, atau mengajak orang lain bersedekah.

Rasulullah SAW bersabda:

"Barang siapa menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya." (HR Muslim)

Karena itu, meski sedang haid, seorang muslimah tetap bisa ikut mengambil bagian dalam menyebarkan kebaikan di Hari Arafah.

Menjaga Hati dan Menghindari Maksiat

Selain memperbanyak ibadah, Hari Arafah juga menjadi momentum untuk menjaga hati dan memperbaiki diri. Hindari gibah, perkataan menyakitkan, amarah berlebihan, maupun perdebatan yang tidak perlu. Sebab, esensi Hari Arafah adalah tentang memperbaiki hubungan dengan Allah SWT dan sesama manusia.

Apakah Wanita Haid Boleh Membaca Al-Qur'an saat Hari Arafah?

Dilansir dari detikHikmah, menurut buku Fiqih Kontroversi Jilid 2: Beribadah antara Sunnah dan Bid'ah karangan HM Anshary, ada kebolehan dalam hukum wanita haid membaca Al-Qur'an. Keterangan ini didasarkan dari salah satu riwayat hadits shahih dari sabda Rasulullah SAW kepada istrinya Aisyah RA.

افْعَلِيْ مَا يَفْعَلُ الحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوْفِيْ بِالبَيْتِ حَتَّي تَطْهُرِي

Artinya: Dari Aisyah RA, ia berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Bila kamu mendapat haid, lakukan semua praktek ibadah haji, kecuali bertawaf di sekeliling Kakbah hingga kamu suci," (Muttafaq 'alaih).

Anshary menafsirkan, membaca Al-Qur'an bagi wanita haid dibolehkan sebab hal itu termasuk dalam amalan yang paling utama saat menunaikan ibadah haji.

"Seandainya haram baginya dan wanita muslimah membaca Al-Qur'an dalam keadaan haid, tentunya Rasulullah SAW akan menjelaskannya sebagaimana beliau menerangkan hukum sholat ketika haid," tulis Anshary dalam bukunya.

Hal ini kemudian diperkuat kembali dengan hadits yang mengisahkan pada suatu ketika, Rasulullah SAW meminta kepada Aisyah, "Bawakan kepadaku tikar kecil itu!" Kemudian Aisyah menjawab, "Saya sedang haid, wahai Rasulullah." Maka beliau bersabda, "Sesungguhnya, haidmu itu tidak di tanganmu." (HR Bukhari).

Selain itu, sebagaimana dikutip oleh Syekh Muhammad al-Utsaimin dalam Fiqh Mar'ah al-Muslimah, Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa tidak ada satu pun sunnah yang melarang wanita haid membaca Al-Qur'an. Tidak ada riwayat yang mengatakan Rasulullah SAW melarang wanita haid membaca Al-Qur'an sebagaimana melarang mengerjakan sholat dan puasa.



(ihc/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads