Perayaan Tri Suci Waisak di Candi Borobudur selalu identik dengan pelepasan lampion ke langit malam. Ribuan lampion yang diterbangkan menjadi salah satu rangkaian paling terkenal dalam perayaan yang diikuti umat Buddha dari berbagai daerah, bahkan mancanegara.
Tradisi ini bukan sekadar pertunjukan visual, tetapi memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan ajaran Buddha. Lampion dipahami sebagai simbol pencerahan dan pelepasan hal-hal negatif, yang kemudian menjadi bagian penting dari rangkaian peringatan Waisak setiap tahun di Borobudur.
Makna Lampion Waisak
Tradisi pelepasan lampion dalam perayaan Waisak tidak hanya menjadi rangkaian acara di Candi Borobudur, tetapi juga memiliki sejumlah makna simbolis yang saling berkaitan dalam ajaran Buddha. Berikut beberapa makna utama yang melekat pada tradisi tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Bagaimana Sistem Penanggalan Waisak? |
1. Api sebagai Simbol Penerangan Batin
Dalam ajaran Buddha, api pada lampion melambangkan semangat dan petunjuk. Cahaya api dimaknai sebagai kebijaksanaan yang menghapus kegelapan batin atau kebodohan (moha).
Simbol ini juga dikaitkan dengan momen pencapaian pencerahan Siddhartha Gautama. Karena itu, lampion yang menyala menjadi pengingat agar manusia selalu dipandu kebijaksanaan dalam hidup.
2. Melepaskan Hal Negatif
Pelepasan lampion dimaknai sebagai simbol pelepasan hal-hal negatif seperti amarah, keserakahan, dan kesedihan. Sebelum diterbangkan, peserta biasanya menuliskan doa dan harapan pada lampion.
Saat lampion naik ke udara, prosesi ini dipercaya sebagai bentuk harapan agar doa-doa dan niat baik tersampaikan ke langit, sekaligus meninggalkan beban negatif yang ada.
Festival Lampion Waisak di Candi Borobudur
Candi Borobudur dipilih sebagai pusat perayaan Waisak di Indonesia bukan tanpa alasan. Candi Borobudur dianggap memiliki nilai sakral dan diyakini menyimpan relik rambut Buddha.
Dalam catatan sejarah, perayaan Waisak mulai digelar di Borobudur pada 1937, kemudian berkembang menjadi perayaan nasional pada 1953. Sosok Tee Boan An tercatat sebagai pelopor perayaan nasional pertama yang kala itu juga dihadiri duta besar negara-negara sahabat.
Seiring waktu, tradisi pelepasan lampion Waisak di Candi Borobudur berkembang menjadi salah satu rangkaian utama peringatan hari raa Waisak yang menarik perhatian wisatawan lintas agama.
Sementara itu, tradisi perayaan Waisak dengan unsur cahaya juga ditemukan di sejumlah negara lain. Di Korea Selatan, perayaan Yeondeunghoe ditandai dengan parade lentera yang berlangsung meriah di berbagai wilayah.
Di Vietnam, perayaan Phat Dan identik dengan penggunaan lampion berbentuk teratai sebagai simbol penghormatan. Sementara di Jepang, Hana Matsuri atau Festival Bunga menampilkan perpaduan antara unsur alam dan simbol cahaya dalam rangka memperingati hari kelahiran Buddha.
Dengan demikian, tradisi lampion dalam perayaan Waisak tidak hanya menjadi rangkaian acara, tetapi juga memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan refleksi diri dan nilai-nilai dalam ajaran Buddha.
(irb/hil)
