Sejumlah peternak ayam petelur di Kabupaten Blitar tengah menjerit akibat harga jual telur yang anjlok. Saat ini, harga telur ayam hanya sekitar Rp 21 ribu per kilogram di tingkat peternak, sementara harga pokok produksi (HPP) Rp 24 ribu per kilogram.
Salah seorang peternak, Damiri (58) mengaku resah dengan harga telur ayam yang kian menurun sejak sebulan terakhir. Penurunan harga jual telur ayam itu terjadi secara bertahap. Kini, harga telur ayam sekitar Rp 21 ribu per kilogram.
"Sekarang ya harganya Rp 21 ribu per kilogram, tapi kadang tidak full. Kadang bolong, bisa Rp 20 ribu lebih sedikit. Tiap hari harganya ganti, sudah sejak sekitar sebulan yang lalu," katanya saat ditemui detikJatim, Jumat (22/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, anjloknya harga telur ayam itu membuat peternak merugi. Sebab ada selisih harga Rp 3 ribu dari HPP. Sementara permintaan pasar juga lesu. Padahal kebutuhan secara nasional masih cukup tinggi.
"Permintaan pasar lesu, jadi sementara ya tetap dijual seperti ini meskipun rugi Rp 3 ribu per kilonya dari HPP. Sehari bisa dapat sekitar 4 kwintal dari total 8.000 ribu ekor ayam petelor," katanya.
Damiri menyebut sempat ada rencana suply telur ayam ke Sumatera usai adanya kunjungan anggota DPRD ke tempatnya. Namun, rencana itu masih dalam tahap tindak lanjut oleh Dinas Peternakan Kabupaten Blitar.
"Sebenarnya beberapa waktu lalu DPRD dari Sumatera itu studi banding ke sini, mereka bilang di sana kebutuhan telur di sana cukup tinggi termasuk untuk MBG (makan bergizi gratis). Harganya juga baik Rp 25 ribu per kilogram, nah ada rencan untuk suppai kesana tapi masih dikomunikasikan," jelasnya.
Terpisah, Kabid Budidaya dan Pengembangan Peternakan Disnakkan Kabupaten Blitar Andy Mulya MK mengaku masih menunggu keputusan resmi dari pihak DPRD Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan. Menurut, rencana itu disambut baik untuk membantu meningkatkan harga jual telur dari Kabupaten Blitar.
"Iya memang beberapa waktu lalu mereka datang ke peternak di Kabupaten Blitar. Kami memang mengharapkan adanya MoU itu, tapi keputusannya tergantung mereka. Kalau kami ya siap saja," terangnya, Jumat (22/6/2026).
Andy menyebut, penurunan harga telur ayam memang terjadi secara nasional. Para peternak mengeluhkan harga telur ayam yang di bawah HPP. Namun, pihaknya tidak dapat melakukan intervensi terhadap penentuan harga tersebut.
Selain itu, daya beli masyarakat memang mengalami penurunan di wilayah Kabupaten Blitar. Sementara untuk penyerapan telur ayam pada program MBG masih belum jelas.
"Kalau untuk serapan itu kami tidak tahu karena kami tidak menerima laporan. Kalau pun memang ada instruksi khusus untuk penggunaan olahan telur ayam, maka akan sangat membantu serapan telur di Kabupaten Blitar," jelasnya.
Menurutnya, Kabupaten Blitar masih menjadi daerah penghasil telur terbesar. Ada sekitar 4 ribu peternak dengan populasi sekitar 30 juta ekor ayam.
"Blitar masih jadi yang terbesar, bisa menghasilkan sekitar 800 ton per hari. Jadi besar harapan kami agar pemerintah bisa melindungi para peternak, dengan penyerapan telur yang maksimal," tandasnya.
