Di tengah gempuran berbagai minuman kekinian, deretan teh legendaris asal Jawa Timur ternyata masih mampu mempertahankan eksistensinya hingga sekarang. Bukan sekadar pelepas dahaga, teh-teh ini juga menyimpan cerita panjang, aroma khas, hingga nostalgia yang melekat di ingatan banyak orang.
Mulai dari warung sederhana hingga sajian di rumah makan lawas, sejumlah teh tradisional ini masih setia menemani keseharian masyarakat. Ada yang sudah kamu coba atau justru masih jadi favoritmu sampai sekarang?
Asal-usul Teh
Dirangkum dari Asosiasi Teh Inggris, sejarah teh bermula di Tiongkok sekitar ribuan tahun lalu. Legenda menyebutkan teh pertama kali ditemukan pada 2737 SM oleh Kaisar Shen Nung setelah daun dari pohon Camellia sinensis tidak sengaja jatuh ke dalam air yang sedang direbus.
Sejak saat itu, teh mulai menjadi bagian penting budaya masyarakat Tiongkok. Pada masa Dinasti Tang (618-905 M), teh bahkan telah menjadi minuman nasional dan diabadikan dalam buku klasik "Ch'a Ching" karya Lu Yu.
Dari Tiongkok, budaya minum teh kemudian menyebar ke Jepang melalui para biksu Buddha. Di Jepang, teh berkembang menjadi tradisi penting lewat upacara minum teh yang tidak hanya berkaitan dengan minuman, tetapi seni, ketenangan, dan spiritualitas.
Teh mulai masuk ke Eropa pada akhir abad ke-16 melalui pedagang dan misionaris Portugis. Namun, Belanda menjadi negara Eropa pertama yang mengimpor teh secara komersial dari Tiongkok pada 1606. Saat itu, teh masih tergolong minuman mewah yang hanya dinikmati kalangan bangsawan.
Di Inggris, teh mulai populer sejak 1658, dan semakin dikenal setelah Raja Charles II menikahi Chaterine dari Braganza yang gemar minum teh. Popularitasnya terus meningkat hingga East India Company mengimpor teh dalam jumlah besar.
Pada abad ke-18, teh menjadi minuman sehari-hari masyarakat Inggris meski sempat terkendala pajak tinggi yang memicu penyelundupan teh. Setelah pajak diturunkan pada 1784, teh menjadi lebih mudah dijangkau masyarakat luas.
Inggris kemudian mulai membudidayakan teh di India, khususnya Assam, setelah mengakhiri monopoli perdagangan dengan Tiongkok pada 1834. Sejak saat itu, produksi teh dari India berkembang pesat, dan pada 1888 impor teh India bahkan melampaui teh asal Tiongkok.
Memasuki abad ke-20, teh semakin melekat dalam kehidupan masyarakat Inggris, termasuk saat masa Perang Dunia ketika pemerintah mengatur impor teh untuk menjaga pasokan. Seiring perkembangan zaman, teh celup mulai populer pada 1970-an.
Teh celup pun menjadi pilihan praktis yang banyak digunakan hingga sekarang. Kini, teh tidak hanya menjadi minuman populer dunia, tetapi juga bagian penting budaya dan industri global yang menopang kehidupan jutaan orang di berbagai negara.
Teh Legendaris Khas Jawa Timur
Selain dikenal dengan kuliner pedas dan budaya ngopinya, Jawa Timur juga punya sederet teh khas yang masih bertahan hingga sekarang. Beberapa di antaranya bahkan sudah jadi bagian dari kebiasaan masyarakat sejak puluhan tahun lalu, dan identik dengan aroma maupun rasa yang khas.
Teh ini dianggap sebagai teh khas yang populer dan dikenal luas di Jawa Timur, meskipun tidak ada klasifikasi resmi pemerintah sebagai teh khas daerah secara formal, namun sudah melekat di budaya minum teh masyarakat setempat, dan mudah ditemukan di warung, kafe, dan toko oleh‑oleh di daerah tersebut.
Menariknya, setiap teh punya karakter berbeda. Ada yang terkenal karena aroma vanilanya yang kuat, ada juga yang dikenal sebagai teh premium hasil perkebunan dataran tinggi di Jawa Timur.
1. Teh Naga, Teh Wangi yang Melekat dengan Warga Malang
Bagi masyarakat Malang, Teh Naga bukan sekadar minuman biasa. Teh ini sudah lama dikenal sebagai teh legendaris yang banyak dijumpai di warung-warung lawas hingga rumah makan tradisional.
Ciri khas utama Teh Naga ada pada aroma vanila yang harum dan rasa tehnya yang cukup kuat. Dulu, teh ini identik dengan kemasan kertas berbentuk balok bergambar naga berwarna kuning, meski kini sudah tersedia dalam kemasan modern dan teh celup.
Popularitas Teh Naga juga tidak lepas dari kuatnya budaya minum teh di kalangan masyarakat Malang. Minuman ini kerap ditemui di warung-warung makan hingga tempat kuliner legendaris, sehingga tetap bertahan dan menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari warga hingga sekarang.
2. Teh Rolas, Teh Perkebunan Khas Jawa Timur
Nama Teh Rolas cukup dikenal di kalangan penikmat teh di Jawa Timur, khususnya karena berasal dari perkebunan teh milik PTPN I Regional 5 atau sebelumnya dikenal sebagai PTPN XII.
Produk teh ini dibuat dari hasil perkebunan teh dataran tinggi di Jawa Timur, termasuk kawasan Wonosari Malang yang memang terkenal sebagai salah satu sentra teh sejak masa kolonial. Salah satu varian yang paling banyak diburu adalah teh hitam premium karena punya aroma dan rasa yang lebih pekat dibanding teh biasa.
Selain teh hitam, Teh Rolas juga memiliki varian teh melati hingga teh celup yang cukup mudah ditemukan di berbagai daerah. Kini, Teh Rolas juga mulai banyak disajikan di cafe dan tempat nongkrong modern yang mengangkat konsep minuman lokal.
3. Teh Villa, Teh Hitam Khas Surabaya sejak 1981
Selain Malang, Surabaya juga punya teh legendaris yang masih bertahan sampai sekarang, yakni Teh Villa. Berdasarkan informasi dari laman resminya, Teh Villa mulai dikenal masyarakat sejak tahun 1981 sebagai bisnis keluarga yang berbasis di kawasan Rungkut Industri Surabaya.
Teh ini terkenal karena aroma vanila yang cukup kuat dan rasa teh hitamnya yang khas. Awalnya, Teh Villa banyak dijual dalam kemasan kotak tradisional berbahan kertas.
Namun, seiring perkembangan zaman, produk ini juga hadir dalam bentuk teh celup hingga kemasan premium. Hingga kini, Teh Villa masih cukup mudah ditemukan di warung makan, rumah tangga, hingga toko oleh-oleh khas Jawa Timur.
Meski tren kopi dan minuman kekinian terus berkembang, teh tradisional khas Jawa Timur ternyata masih punya tempat tersendiri di masyarakat. Banyak orang justru mencari rasa nostalgia dari aroma teh tubruk, teh melati, hingga teh vanila yang dulu sering disajikan di rumah maupun warung makan.
Tidak sedikit pula merek teh lawas dari Jawa Timur yang tetap bertahan dengan mempertahankan cita rasa khas mereka selama puluhan tahun. Karena itu, momen Hari Teh Sedunia juga menjadi pengingat bahwa budaya minum teh di Indonesia, khususnya Jawa Timur, masih terus hidup sampai sekarang.
Hari Teh Sedunia
Dilansir dari laman Food and Agriculture Organization (FAO), Hari Teh Sedunia atau International Tea Day diperingati setiap tanggal 21 Mei sebagai bentuk penghargaan terhadap sejarah panjang, budaya, hingga kontribusi industri teh di berbagai negara.
Tradisi minum teh sendiri disebut sudah ada sejak lebih dari 5.000 tahun lalu, dan hingga kini masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat dunia. Selain identik sebagai minuman sehari-hari, teh juga memiliki peran besar dalam sektor sosial dan ekonomi.
Industri teh menjadi sumber mata pencarian bagi jutaan orang, mulai dari petani kecil, pekerja perkebunan, hingga pelaku usaha yang bergantung pada rantai produksi dan perdagangan teh.
Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kemudian menetapkan 21 Mei sebagai Hari Teh Internasional dan menunjuk Food and Agriculture Organization atau Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia untuk memimpin peringatannya secara global.
Penetapan tersebut dilakukan karena sektor teh dinilai punya kontribusi penting terhadap pembangunan pedesaan, pengurangan kemiskinan, hingga ketahanan pangan di berbagai negara berkembang.
Peringatan ini juga menjadi momentum untuk mendorong produksi dan perdagangan teh yang berkelanjutan, mulai dari proses budidaya hingga sampai ke tangan konsumen.
Karena itu, FAO mengangkat tema besar tentang keberlanjutan rantai industri teh "dari ladang hingga cangkir" agar manfaat ekonomi, budaya, dan lingkungannya tetap terjaga dari generasi ke generasi. FAO juga menyebut sektor teh merupakan industri bernilai miliaran dolar yang berkontribusi terhadap ekonomi dunia.
Bahkan, di banyak negara penghasil teh, pendapatan dari ekspor teh membantu menopang perekonomian sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi jutaan masyarakat, terutama perempuan dan komunitas pedesaan.
Sederet Fakta tentang Teh
Teh bukan sekadar minuman sehari-hari, tetapi juga menyimpan banyak cerita menarik di baliknya. Berikut sederet fakta menarik tentang teh yang mungkin belum banyak kamu ketahui.
1. Teh jadi salah satu minuman tertua di dunia
Teh sudah dikonsumsi sejak ribuan tahun lalu dan menjadi salah satu minuman tertua yang masih populer hingga sekarang. Bahkan, teh disebut sebagai minuman paling banyak dikonsumsi di dunia setelah air putih.
2. Punya nilai budaya dan sosial yang kuat
Tidak hanya sebagai minuman yang banyak dikonsumsi tetapi juga sebagai simbol penting keramahan, tradisi, dan hubungan sosial.
3. Jenisnya sangat beragam
Teh hadir dalam berbagai macam varietas yang berbeda-beda tergantung pada teknik oksidasi dan fermentasi yang diterapkan.
4. Menjadi sumber penghasilan jutaan orang
Budidaya teh menyediakan lapangan kerja dan pendapatan bagi jutaan petani kecil, yang melengkapi atau bahkan menggantikan produksi perkebunan teh yang lebih besar di banyak negara.
5. Jadi komoditas perdagangan global
Meski sebagian besar teh dikonsumsi di negara asal produksinya, teh tetap menjadi salah satu komoditas yang diperdagangkan secara luas di pasar internasional.
6. Konsumsi teh terus meningkat dan potensi pasarnya masih besar
Meskipun konsumsi teh meningkat di negara-negara penghasil utama, konsumsi per kapita tetap relatif rendah, menunjukkan bahwa masih ada potensi pertumbuhan yang cukup besar di negara-negara tersebut.
6. Ada kawasan teh yang diakui sebagai warisan dunia
Enam lokasi budidaya teh telah ditetapkan oleh FAO sebagai Globally Important Agricultural Heritage Systems (GIAHS) atau Sistem Warisan Pertanian Penting Global, di mana empat di antaranya terletak di Tiongkok, satu di Jepang, dan satu di Republik Korea.
Simak Video " Video: Nelayan Prigi Gelar Larung Sembonyo di Tengah Paceklik Ikan"
(irb/hil)