Melonjaknya harga kedelai impor kian mencekik para pengrajin tempe rumahan di Kelurahan Beji, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, harga bahan baku utama tempe ini melambung tinggi hingga membuat pengrajin tempe kelimpungan.
Salah satu pengrajin tempe skala rumah tangga, Siti Komariah menuturkan bahwa kondisi usaha para pengrajin tempe saat ini sangat memprihatinkan. Bahkan, banyak juga pengrajin skala kecil tidak bisa tiap hari memproduksi tempe karena terganjal tingginya modal kerja.
"Kalau usaha kelas kecil kayak kita ini ya susah. Banyak yang akhirnya tidak setiap hari produksi, terutama golongan (pengrajin) kecil," ujar Siti saat dihubungi detikJatim, Rabu (20/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Siti mengungkapkan bahwa di tengah badai kenaikan harga kedelai ini, pengrajin skala kecil dengan modal cekak menjadi pihak yang pertama bertumbangan. Sebab, hanya bisa memproduksi tempe secara musiman, tergantung ketersediaan modal yang tersisa.
"Ya ada yang sampai tidak jualan, kondisinya kembang kempis. Kadang jualan kalau ada uang (modal), kadang ya tidak," ungkap Siti.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan para produsen tempe skala besar. Menurut Siti, produsen kakap yang memiliki modal kuat justru memiliki peluang besar memanfaatkan momentum ini untuk menggenjot kapasitas produksinya di saat para pengrajin kecil mulai bertumbangan dari pasar.
"Banyak yang berhenti pengrajin yang kecil-kecil ini. Akhirnya produsen yang besar-besar itu yang bisa menambah produksinya. Karena mereka uangnya banyak, jadi masih bisa menanggulangi biaya produksinya," terangnya.
Siti menceritakan, dalam kondisi normal harga kedelai impor biasanya berkisar antara Rp 8.700 hingga Rp 9.000 per kilogram. Namun kini, harganya melesat tajam hingga menyentuh angka Rp 12.000 per kilogram.
Kenaikan yang mencapai lebih dari Rp 3.000 per kilogram ini tentu menjadi pukulan telak bagi Siti yang setiap harinya mengolah sekitar 40 kilogram kedelai. Belum lagi, para pengrajin juga harus dihadapkan pada kenaikan harga plastik pembungkus atau kresek yang kian melambung.
Menghadapi situasi pelik ini, Siti mengaku tidak punya banyak pilihan. Menaikkan harga jual tempe ke konsumen bukanlah opsi yang bijak karena berisiko membuat dagangannya tidak laku di pasaran.
Alhasil, ia terpaksa memutar otak dengan mengurangi ukuran atau memotong panjang tempe yang dijualnya demi menekan biaya produksi.
"Ya itu, disiasati ukurannya diperkecil. Tidak bisa kalau menaikkan harganya. Tadinya ukuran tempe 25 sentimeter, sekarang dikurangi jadi 21 sentimeter, kadang malah cuma 20 sentimeter," bebernya.
Meski sempat menerima komplain dari pelanggan setianya, Siti bersyukur sebagian besar konsumen akhirnya bisa memaklumi kondisi sulit yang sedang dihadapi para pengrajin.
Para pengrajin tempe di Kota Batu kini hanya bisa berharap ada intervensi dan bantuan nyata dari pemerintah untuk menstabilkan harga kedelai, sebelum produsen tempe rumahan banyak yang gulung tikar.
(auh/abq)
