Temuan Pesulap Merah di Gunung Kawi: Ada Kepercayaan di Luar Islam

Temuan Pesulap Merah di Gunung Kawi: Ada Kepercayaan di Luar Islam

Tim detikJatim - detikJatim
Rabu, 20 Mei 2026 18:10 WIB
Pesulap Merah bongkar dugaan pesugihan Keraton Gunung Kawi
Pesulap Merah bongkar dugaan pesugihan Keraton Gunung Kawi (Foto: Tangkapan layar)
Malang -

Marcel Radhival alias Pesulap Merah membongkar dugaan praktik pesugihan di Keraton Gunung Kawi, Kabupaten Malang. Marcel pun menemukan beberapa hal yang kemudian dipastikan keluar dari ajaran agama.

Dalam perjalanan diunggah dalam akun media sosialnya itu, Marcel memulai dengan berbincang dengan masyarakat dan juru kunci Keraton Gunung Kawi. Marcel kemudian mendatangi langsung lokasi situs yang konon disakralkan oleh sejumlah orang tersebut.

Ketika mendatangi sebuah bangunan bersama juru kunci, Marcel menemukan beberapa hal yang mengejutkan. Mulai dari tempat untuk menaruh sesajen, dupa, foto, patung, susunan batu sampai buku tamu yang memuat nama-nama siapa saja yang pernah berkunjung kesana. Lokasinya berada di Keraton Gunung Kawi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ada daftar buku tamu, ada usaha rental mobil dan MBG. Ada di sini," ucap Marcel sambil menunjuk daftar buku tamu.

Selain hal itu, Marcel juga menemukan gua, patung Hanoman yang di depannya tersaji beberapa sesajen.

ADVERTISEMENT

Pesohor ini juga mendatangi beberapa makam. Di mana Marcel sudah berbincang dengan juru kunci, bahwa makam tersebut ada kaitan dengan kepercayaan kejawen.

"Ini ada makam kejawen, yang sebenarnya dalam Islam tidak boleh. Apalagi meminta-minta atau ngalap berkah. Saya juga gak mengerti, apakah ini kejawen beneran," kata Marcel.

Marcel turut membaca prasasti berdirinya Keraton Gunung Kawi. Tak jauh dari sana, Marcel kembali menemukan gua penuh sesajen.

Setelah melakukan perjalanan di Keraton Gunung Kawi, Marcel kemudian menyimpulkan bahwa lokasi tersebut, akan lebih tepat dikunjungi untuk belajar sejarah dan budaya.

"Kalau datang ke sini (Keraton Gunung Kawi) sangat rekomendasi untuk belajar sejarah dan budayanya," ungkap Marcel.

Ia pun membeberkan bahwa apa yang ditemukan saat menelusuri Keraton Gunung Kawi banyak terlihat kepercayaan di luar ajaran Islam.

"Dari hasil eksplore bisa dilihat ada kepercayaan kepercayaan di luar Islam itu sendiri dan bahkan dan bahkan sebenarnya dari keterangan orang-orang yang menjalankan ritual itu memang mereka memintanya ke kuburan," tegasnya.

"Dan bagi umat muslim minta ke kuburan itu memang tidak diperbolehkan, karena itu bagian dari mursyik," sambungnya.

Marcel turut mengungkapkan hasil wawancara dengan juru kunci bahwa Keraton Gunung Kawi dikunjungi untuk tujuan ngalap berkah.

Bagi siapapun yang ingin berubah menjadi kaya raya bergantung nasib dari orang itu sendiri.

"Dan kalau kita dengarkan dari juru kuncinya pesugihan di sana atau ngalap berkah bahasanya itu pasti kaya raya tetapi tergantung nasib," tuturnya.

Dengan begitu, Marcel kemudian menyarankan agar semua bisa memanjatkan doa dengan ajaran agama dan keyakinannya sendiri.

Tanpa harus menguras tenaga, waktu dan biaya untuk melakukan ritual di Keraton Gunung Kawi.

"Kalau tergantung nasib, apa bedanya dengan kita berdoa. Karena di sana (Keraton Gunung Kawi), banyak hal-hal yang keluar dari kepercayaan agama itu sendiri. Karena minta ke kuburan.walaupun kata juru kunci tidak minta kuburan, tapi ngalap berkah," bebernya.

Marcel pun menambahkan, dirinya juga menemukan bahwa warga Malang sendiri tidak mempercayai adanya pesugihan di Keraton Gunung Kawi.

Orang-orang yang katanya berhasil dan sukses, ternyata karena nasib yang sudah ditakdirkan.

"Orang Malang sendiri tidak percaya ada pesugihan, yang katanya berhasil karena nasib mereka. Bukan karena faktor dari gunung kawi," tandasnya.




(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads