Pemprov Jatim melalui Dinas Perhubungan akan segera menerapkan teknologi baru untuk Bus Trans Jatim. Teknologi baru ini bernama Bus Priority yang diklaim bisa memangkas waktu perjalanan.
"Jadi beberapa waktu kemarin kami diundang perusahaan swasta Cina yang bergerak di sektor teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk transportasi. Sebenarnya semua teknologi di sana ternyata sudah seperti smart bus kami," kata Kepala Dinas Perhubungan Jawa Timur Nyono di Gedung Negara Grahadi, Selasa (19/5/2026).
"Namun, ada satu hal yang menarik, yaitu teknologi Bus Priority. Ini kami pelajari untuk kami adaptasikan di Bus Trans Jatim," tambahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nyono menyebut Bus Priority merupakan teknologi sensor yang dipasang di bus dan traffic light yang dilalui sesuai rute perjalanan.
"Nanti, sensor dari bus akan mengirim sinyal ke sensor yang dipasang di traffic light agar ketika bus lewat itu traffic light-nya hijau. Jadi jarak sekitar 25 Meter sebelum traffic light, sensor bus akan mengirim sinyal ke sensor traffic light apabila masih merah untuk diubah menjadi lampu kuning," jelasnya.
Saat jarak bus mencapai 5 meter dari lampu lalu lintas, lampu akan menyala hijau sehingga secara otomatis bus langsung jalan tanpa menunggu traffic light. Sementara di simpang yang berlawanan akan menjadi merah, karena akan diprioritaskan untuk transportasi umum.
"Jadi teknologi ini sebenarnya dirancang agar masyarakat mau naik transportasi umum dan naik transportasi umum lebih cepat dan bisa memangkas waktu perjalanan," tambahnya.
Nyono mengatakan teknologi Bus Priority rencananya akan diterapkan di Koridor I Bus Trans Jatim (Sidoarjo-Surabaya-Gresik) dan Koridor Bus Trans Jatim Malang Raya.
"Rencana kami pilot project-nya di koridor satu dan koridor Malang Raya. Namun sekali lagi kami masih menunggu fiskal di PAPBD nanti, kalau memungkinkan atau anggarannya ada, maka akan kami terapkan tahun ini," tambahnya.
Nyono menambahkan pihaknya juga perlu untuk berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah pusat terkait lokasi traffic light yang titiknya berada di luar jalan provinsi.
"Karena Bus Trans Jatim ini kan tidak hanya melintas di jalan provinsi, tapi juga jalan kabupaten, jalan nasional. Maka kami perlu koordinasi dan komunikasi dengan stakeholder terkait," tandasnya.
Dalam kunjungan ke China International ITS Industry Expo 2026 (CITSE) yang diselenggarakan di Xiamen ini, Pemprov Jatim juga turut memperkenalkan berbagai inovasi transportasi publik yang telah dikembangkan di Jawa Timur.
Salah satunya layanan Bus Trans Jatim sebagai transportasi publik berbasis skema Buy The Service (BTS) yang terus berkembang dan mendapat respons positif dari masyarakat.
Nyono menyampaikan Trans Jatim hadir sebagai bagian dari upaya meningkatkan konektivitas wilayah, mengurangi kemacetan, serta mendorong penggunaan transportasi publik yang aman, nyaman, dan terjangkau. Saat ini, layanan Transjatim telah melayani berbagai koridor strategis di wilayah Gerbangkertosusila hingga Malang Raya dengan dukungan integrasi digital, sistem pembayaran non tunai, hingga pengembangan teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI).
Selain memperkenalkan pengembangan layanan Transjatim, forum CITSE juga dimanfaatkan membuka peluang investasi di sektor transportasi lebih luas di Jatim. Tak hanya di sektor transportasi darat seperti pengembangan layanan angkutan massal, terminal, dan sistem transportasi cerdas namun pada sektor transportasi laut lewat pengembangan infrastruktur dan pelayanan pelabuhan.
"Potensi investasi pelabuhan dinilai memiliki peran strategis dalam mendukung konektivitas logistik, distribusi barang, hingga penguatan jaringan perdagangan dan industri di Jatim," kata Nyono.
"Kami juga memperkenalkan inovasi terbaru berupa TRADISI (Transjatim Ekspedisi), yakni layanan ekspedisi barang berbasis jaringan Transjatim yang mengedepankan pengiriman cepat, aman, dan tarif terjangkau di wilayah Gerbangkertosusila. Inovasi ini diharapkan mampu memperluas fungsi layanan transportasi publik tidak hanya untuk mobilitas penumpang, tetapi juga mendukung distribusi logistik masyarakat secara lebih efisien," tandasnya.
(auh/dpe)











































