Kabupaten Sidoarjo dikenal sebagai kota penyangga metropolitan Surabaya. Selain terkenal dengan hasil tambak bandeng dan udang, daerah ini juga dikenal sebagai kawasan industri dengan ratusan pabrik berdiri di berbagai wilayah.
Namun di balik geliat industri tersebut, masih ada warga yang hidup dalam kondisi memprihatinkan. Sebanyak 93 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 254 jiwa di RT 03 RW 06 Dusun Tanggulrejo, Kelurahan Porong, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo masuk kategori miskin ekstrem.
Mayoritas warga bekerja sebagai pemulung, pengepul barang bekas hingga membuka warung kopi kecil-kecilan. Penghasilan mereka pun tidak menentu, rata-rata hanya Rp 40 ribu hingga Rp 60 ribu per hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua RT 03 RW 06 Dusun Tanggulrejo, Nur Halimatus Sadiah mengatakan sebagian besar warganya masuk kategori Desil 1 atau kelompok masyarakat paling miskin dan paling membutuhkan bantuan.
Kampung pemulung di Sidoarjo Foto: Suparno/detikJatim |
Ia menjelaskan, kawasan tersebut awalnya merupakan lahan penampungan milik Dinas Sosial dan pengairan sejak sekitar tahun 1989-1990. Karena status tanah bukan milik pribadi, banyak warga kesulitan masuk data resmi penerima bantuan sosial pemerintah.
"Kesulitannya memang di status tanah. Banyak warga sebenarnya sangat membutuhkan bantuan, tapi sering terkendala administrasi karena tanah ini bukan milik pribadi," ujarnya.
Menurutnya, kondisi rumah warga juga masih memprihatinkan. Meski dari depan tampak layak, banyak bagian belakang rumah yang sudah rusak dan tidak sehat untuk ditempati.
"Ada sekitar lima rumah yang terlihat rusak parah. Tapi sebenarnya banyak rumah lain kalau dilihat belakangnya juga bobrok. Ada yang dindingnya dipakai dua rumah, banyak pakai triplek dan kayu penutup, kamar mandinya juga tidak layak," ungkapnya.
Nur Halimatus Sadiah menambahkan, beberapa hari terakhir petugas BAZNAS Sidoarjo mulai melakukan pendataan terhadap warga setempat.
"BAZNAS sudah datang mendata warga. Informasinya masih tahap pencatatan dan ada bantuan sekitar Rp 625 ribu untuk kebutuhan dasar, tapi belum semuanya cair," tambahnya.
Menurut Camat Porong, Feri Prasetiya Budi, mengaku, jumlah warga terdiri dari 93 KK warga tetap dan 7 KK warga kontrak. Meski kondisi ekonomi warga sangat memprihatinkan, mereka tetap tercatat resmi sebagai warga Kelurahan Porong dan berada di bawah naungan administrasi pemerintah kelurahan.
Permasalahan utama yang dihadapi warga bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga status lahan tempat tinggal mereka.
"Kawasan tersebut berdiri di atas tanah milik negara atau aset Dinas Pengairan dan Irigasi, sehingga banyak rumah tidak bisa mendapatkan bantuan program rehabilitasi rumah tidak layak huni (RTLH) maupun program PENKAP karena terbentur aturan kepemilikan lahan," kata Feri kepada detikJatim.
Padahal, kondisi rumah warga sebagian besar dinilai sudah tidak layak huni dan membutuhkan perhatian serius. Banyak bangunan berdinding seadanya, atap rusak, hingga kondisi lingkungan yang memerlukan penanganan.
Meski demikian, sejumlah bantuan sosial pemerintah sudah diterima warga, di antaranya Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), hingga bantuan beras dan pangan lainnya.
"Selain itu, ke depan juga direncanakan ada bantuan dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) berupa sembako dan kebutuhan makan dasar yang diprioritaskan bagi warga dengan kondisi paling parah," imbuh Feri.
Pihak kecamatan berharap bantuan sosial berbasis zakat, kemanusiaan, dan kepedulian masyarakat dapat menjadi solusi sementara bagi warga. Sebab, seluruh warga dinilai layak dibantu, hanya saja terbentur persoalan legalitas lahan yang bukan milik pribadi.
Sementara itu, salah satu warga bernama Sakri (71) mengaku masih harus bekerja mencari rongsokan setiap hari demi mencukupi kebutuhan hidup bersama istrinya.
"Kalau nggak kerja ya nggak makan. Penghasilan tidak tentu, kadang Rp 40 ribu sampai Rp 60 ribu sehari tergantung dapatnya," kata Sakri.
Meski usia sudah lanjut dan kondisi tubuh mulai sakit-sakitan, Sakri tetap berusaha bekerja dan menjalani hidup dengan penuh rasa syukur.
"Namanya hidup dijalani saja, disyukuri. Saya masih tinggal berdua sama istri, saling menjaga dan cari nafkah bersama," ujarnya.
Semangat Sakri menjadi gambaran perjuangan warga miskin ekstrem di tengah pesatnya perkembangan Kabupaten Sidoarjo sebagai kota industri.

