Menteri HAM Natalius Pigai menyoroti kapasitas SPPG di Surabaya yang menyuplai Makan Bergizi Gratis (MBG) ke 13 sekolah sekaligus. Jumlah tersebut dinilai terlalu banyak dan perlu dievaluasi.
"1 SPPG meng-handle 13 sekolah. Mulai dari TK, SD, SMP. Saya pikir satu dapur mengelola 13 sekolah itu terlalu banyak, ya," kata Pigai kepada wartawan di RS Ibu dan Anak IBI Surabaya, Rabu (13/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pigai mengatakan, di daerah metropolis seperti Surabaya, seharusnya SPPG tidak boleh menyuplai MBG lebih dari 3.500 porsi. Meski belum mengetahui jumlah pasti ideal satu SPPG menyuplai berapa sekolah, menurutnya lima sekolah masih wajar.
"Llima sekolah atau tiga sekolah. Ini 13 sekolah 1 SPPG. Kota Surabaya loh. Ya maaf ya, Kota Surabaya. Itu Kota Surabaya itu mungkin satu sekolah saja sudah ribuan anak. Karena kan ini penduduk terpadat di Indonesia ya. Saya pikir itu tidak wajar. Oleh karena itulah memang harus ditinjau ulang," jelasnya.
Menurutnya, hal seperti itu tidak hanya terjadi di Surabaya. Namun banyak di daerah lain, 1 SPPG menyulai MBG ke banyak sekolah.
"Jangan satu SPPG itu dibebani 13 sekolah. Terlalu banyak. Saya pikir kejadian seperti ini tidak satu atau dua dua kali. Sudah banyak ditemukan," ujarnya.
Pada kasus keracunan massal MBG di Surabaya, Pigai meminta pihak SPPG bertanggung jawab atas keracunan MBG kepada ratusan siswa Surabaya. Bahkan, menurutnya, SPPG harus diganti dengan yang baru.
"Untuk itu, maka dapur yang bertanggung jawab atas pengelolaan pemberian MBG kepada 13 sekolah tersebut sudah wajib dan harus diganti dan dihentikan dengan yang lebih profesional, yang lebih disiplin, yang lebih cekatan lebih cermat dan lebih hati-hati," tegasnya.
