Psikolog Klinis dan Forensik Surabaya, Riza Wahyuni menyoroti pentingnya kesehatan mental dan komunikasi dalam rumah tangga berkaca dari kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dilakukan seorang badut penjual balon di Mojokerto hingga menewaskan ibu mertuanya. Menurutnya, baik laki-laki maupun perempuan sama-sama dapat mengalami luka batin hingga ledakan emosi ketika merasa tidak dihargai.
"Terlepas dari gender, yang namanya manusia semua punya hati, semua punya ego, semua punya rasa. Ketika mereka memiliki problem dengan trauma atau yang mengecewakan, itu akan menimbulkan rasa sakit, kecewa, sedih, bingung, dan lain sebagainya," kata Riza saat diwawancarai detikJatim, Jumat (8/5/2026).
Riza menjelaskan, masih banyak stigma di masyarakat yang menganggap laki-laki harus selalu kuat dan tidak boleh menunjukkan kesedihan. Padahal, menurutnya, laki-laki juga manusia yang bisa merasa kecewa, takut, sedih, hingga terluka secara emosional.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menilai laki-laki dan perempuan memiliki hak serta kebutuhan emosional yang sama. Perbedaannya hanya terletak pada kondisi fisik.
"Nah stigma masyarakat yang menuntut bahwa laki-laki harus kuat, perempuan itu lemah, itu sebenarnya juga tidak menjadi stigma yang positif. Semua orang memiliki titik-titik tertentu di dalam kehidupan pribadinya," ujarnya.
Riza juga menyinggung soal narcissistic injury atau luka harga diri. Menurutnya, kondisi tersebut muncul ketika seseorang merasa sudah berjuang menjadi pasangan atau pribadi yang baik, namun justru merasa dikecewakan dan tidak dihargai.
"Nah kemudian dampaknya adalah pada satu titik tertentu, beberapa orang itu bisa menjadi meluap dan meledak kemarahannya. Ada yang menyakiti dirinya sendiri, menyakiti orang lain, menarik diri, bahkan sampai pada kondisi-kondisi tertentu mereka mengalami gangguan jiwa berat yang kita sebut dengan psikotik," jelasnya.
Menurut Riza, setiap orang memiliki respons berbeda ketika menghadapi tekanan psikologis berat. Karena itu, ia menekankan pentingnya mencari bantuan profesional sebelum emosi berubah menjadi tindakan berbahaya.
"Kami sebagai profesional psikolog, tidak perlu takut datang kepada profesional. Sepengalaman saya, laki-laki terkadang tidak membutuhkan solusi, tetapi hanya ingin didengar. Jadi bagaimana emosi itu bisa tersalurkan dengan baik," ujarnya.
Ia pun menegaskan bahwa laki-laki memiliki ruang yang sama untuk mengekspresikan emosi.
"Laki-laki boleh nangis, perempuan boleh nangis. Laki-laki boleh lelah, perempuan juga boleh lelah," tambahnya.
Selain itu, Riza juga menyoroti dampak pertengkaran rumah tangga terhadap anak. Menurutnya, anak yang menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga berpotensi mengalami trauma yang memengaruhi perkembangan emosional dan sosial mereka.
"Pasti akan menimbulkan trauma tersendiri bagi anak. Makannya kalau rame, kalau berantem, jangan di depan anak-anak. Kasihan mereka. Mereka masih masa bermain, mereka masih masa tumbuh kembang, mereka juga ingin kehidupannya normal," ujarnya.
Lebih lanjut, Riza mengingatkan pentingnya kolaborasi dan pemahaman antara suami dan istri dalam menjalani kehidupan rumah tangga, termasuk memahami dampak pertengkaran yang terus-menerus terjadi di depan anak.
Menurutnya, konflik rumah tangga yang berkepanjangan dapat memengaruhi kehidupan sosial, perilaku, pendidikan, hingga perkembangan emosi anak.
Riza mengatakan komunikasi menjadi kunci utama dalam rumah tangga. Ia menilai hubungan suami istri seharusnya dibangun melalui komunikasi dua arah dan kebiasaan saling mendengar.
"Menikah itu sebenarnya mencari teman ngobrol, dari situ bisa saling memahami dan mengasihi," katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa tidak ada kehidupan rumah tangga yang sempurna. Karena itu, pasangan suami istri perlu saling mendukung, menguatkan, serta menghargai kelebihan dan kekurangan masing-masing.
"Ketika ada pertengkaran di dalam rumah tangga, ingat bagaimana sebelum terjadi pernikahan itu ada cinta yang menyatukan," kata Riza.
Di akhir wawancara, Riza mengajak masyarakat agar lebih peduli terhadap kesehatan mental keluarga dan tidak malu mencari bantuan profesional.
"Mari kita jaga kewarasan mental, anak-anak kita, masa depan kita, keluarga kita. Jangan takut untuk bercerita," pungkasnya.
Sebelumnya, Satuan (43), seorang badut yang juga berjualan balon dan mainan anak, tega membunuh ibu mertuanya berinisial SA (53) dan melukai istrinya SW (35) di Mojokerto.
Motif penganiayaan diduga dipicu rasa cemburu terhadap istrinya, konflik rumah tangga, serta masalah ekonomi. Pelaku juga mengaku sering mencurigai istrinya berselingkuh. Selain itu, ia merasa istrinya tidak bertanggung jawab terhadap keluarga dan memiliki penghasilan lebih besar darinya.
Menurut pengakuan pelaku, istrinya jarang mau mengasuh anak balita mereka dengan alasan lembur bekerja. Sang istri disebut baru bersedia mengurus anak apabila seluruh kebutuhannya dipenuhi, mulai dari uang belanja, biaya sekolah anak, hingga biaya perawatan diri.
Di sisi lain, Satuan merasa tidak dihargai sebagai menantu karena penghasilannya yang pas-pasan sebagai badut dan penjual balon serta mainan anak. Meski demikian, ia mengaku masih mencintai istrinya dan sempat berpesan agar perempuan tidak mempermainkan laki-laki yang tulus mencintai.
"Terhadap perempuan di luar sana supaya tidak mempermainkan laki-laki. Karena laki-laki kalau sudah tulus cinta, matipun dilakukan. (Anda cinta?) Cinta pak," ujarnya sambil menangis pada Kamis (7/5) sore.
Namun, Satuan menegaskan dirinya menghabisi nyawa sang mertua karena panik setelah kepergok menganiaya istrinya.
