Candaan soal Surabaya yang seolah punya "satu matahari untuk tiap orang" terasa nyata belakangan ini. Cuaca terik dengan suhu mencapai 34 derajat celsius membuat warga mengeluhkan hawa panas yang menyengat sejak pagi hingga siang hari.
Prakirawan BMKG Juanda, Rendy Irawadi menjelaskan, cuaca panas di Surabaya dan sejumlah wilayah Jawa Timur dipengaruhi minimnya tutupan awan saat masa peralihan menuju musim kemarau.
Langit di Surabaya dalam beberapa hari terakhir memang cenderung cerah sejak pagi sehingga pancaran sinar matahari dapat menyinari permukaan bumi secara maksimal. Ini membuat suhu terasa lebih panas dari biasanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tutupan awan di wilayah Surabaya dan Jawa Timur cukup sedikit, bahkan cenderung clear sehingga sinar matahari dapat menyinari permukaan bumi dengan cukup intensif," kata Rendy dikonfirmasi detikJatim, Jumat (8/5/2026).
Ia mengatakan, kondisi tersebut mulai terasa sekitar tiga hari terakhir dan diperkirakan masih berlangsung hingga sekitar satu pekan ke depan karena Jawa Timur masih berada pada fase pancaroba atau masa peralihan musim.
"Biasanya kalau fase pancaroba ini bertahan selama satu minggu. Tapi satu minggu kemudian masih akan ada potensi pertumbuhan awan cukup signifikan sehingga turun hujan. Itu ciri-ciri masa peralihan atau pancaroba," ujarnya.
Berdasarkan pengamatan BMKG dari 12 stasiun cuaca di Jawa Timur, suhu maksimum saat ini berkisar 33 hingga 34 derajat celsius. Pengamatan tersebut dilakukan di Tanjung Perak, wilayah Surabaya yang dikenal memiliki panas maksimum. Sementara intensitas paparan sinar ultraviolet (UV) tertinggi biasanya terjadi pada pukul 11.00 hingga 13.00 WIB.
"Paparan UV tertinggi biasanya antara jam 11.00 WIB hingga jam 13.00 WIB siang. Itu yang paling panas dan dampaknya ke kulit akan lebih berbahaya," katanya.
Kondisi itu turut dirasakan Melina, pekerja yang setiap hari pulang-pergi Menganti-Siwalankerto. Ia mengaku panas matahari kini sudah terasa menyengat sejak pagi hari.
"Sekarang matahari jam setengah tujuh pagi itu sudah terik banget. Rasanya nyelekit sampai kayak bikin kulit terbakar," katanya.
Menurutnya, cuaca yang berubah drastis dari panas ke hujan membuat banyak orang gampang sakit.
"Biasanya habis panas siang nanti sore mendung terus hujan. Perubahan cuacanya drastis, makanya sekarang banyak yang sakit," ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Nur Habiba, pengemudi ojek online di Surabaya. Ia mengaku cuaca panas belakangan terasa lebih menyengat dibanding biasanya.
"Bener-bener panas banget. Kadang tiba-tiba hujan, habis itu langsung panas lagi. Itu yang bikin badan gampang sakit kalau imun nggak kuat," kata Habiba.
Sebagai pekerja lapangan, ia merasakan langsung panas matahari yang menusuk kulit terutama saat berkendara pada siang hari. Bahkan menurutnya, penggunaan sarung tangan pun belum cukup melindungi dari teriknya matahari.
"Walaupun sudah pakai sarung tangan tetap terasa kayak terbakar. Kalau nggak pakai malah lebih parah," ujarnya.
Habiba juga sempat mengalami iritasi pada tangan akibat terlalu lama terpapar panas matahari saat tidak menggunakan pelindung.
"Saya kemarin tangannya sempat diperban jadi nggak bisa pakai sarung tangan. Panasnya sampai bikin gatal karena terlalu panas," katanya.
Menurutnya, panas paling menyengat biasanya terasa pada pukul 11.00 WIB hingga 13.00 WIB, sesuai dengan yang disampaikan BMKG. Kondisi tersebut sudah dirasakan sekitar satu bulan terakhir, terutama di wilayah Surabaya.
BMKG pun mengimbau masyarakat, khususnya pekerja luar ruangan untuk mengurangi paparan sinar matahari langsung terlalu lama saat siang hari. Warga juga diminta menggunakan pelindung seperti sunscreen, pakaian tertutup, topi, maupun sarung tangan serta memperbanyak konsumsi air putih agar terhindar dari dehidrasi dan dampak paparan sinar UV.
(auh/hil)
