Banyuwangi Tambah Rumah Pompa untuk Antisipasi Kekeringan

Banyuwangi Tambah Rumah Pompa untuk Antisipasi Kekeringan

Eka Rimawati - detikJatim
Jumat, 08 Mei 2026 14:30 WIB
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani saat meresmikan rumah Pompa di Desa Kaotan, Blimbingsari.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani saat meresmikan rumah Pompa di Desa Kaotan, Blimbingsari/Foto: Istimewa
Banyuwangi -

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menambah satu lagi rumah pompa untuk mendukung sektor pertanian menghadapi ancaman kekeringan saat musim kemarau. Fasilitas bantuan dari Kementerian Pertanian tersebut diharapkan mampu menjaga pasokan air irigasi sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian warga.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, keberadaan rumah pompa dan sumur bor tak hanya membantu kebutuhan irigasi sawah, namun juga memberi dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Dengan pasokan air yang lebih stabil, petani dinilai dapat meningkatkan intensitas tanam, mempercepat masa tanam, hingga mengurangi risiko gagal panen saat musim kemarau.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, distribusi air ke lahan pertanian juga menjadi lebih tertata sehingga petani tidak lagi harus bergantian mendapatkan pasokan air.

ADVERTISEMENT

"Mari kita jaga bersama-sama fasilitas yang sudah tersedia ini supaya bisa digunakan secara jangka panjang untuk kesejahteraan semua," terang Ipuk, Jumat (8/5/2026).

Salah satu penerima manfaat program tersebut adalah Kelompok Tani Keji Beling di Desa Kaotan, Kecamatan Blimbingsari. Sumur bor di lokasi itu mampu mengairi lahan sawah seluas 50,63 hektare yang dikelola 63 petani.

"Adanya sumur bor ini memberikan kepastian ketersediaan air bagi petani sepanjang tahun. Sehingga dapat mendorong produktivitas pertanian sekaligus juga sebagai upaya antisipasi kekeringan jelang musim kemarau yang segera tiba," kata Ipuk yang pada Kamis (7/5/2026) telah meresmikan rumah pompa di areal persawahan Poktan Kejibeling saat Nantor di Desa tersebut.

Program sumur bor itu merupakan bagian dari Program Optimasi Lahan (Oplah) Kementerian Pertanian. Program tersebut bertujuan meningkatkan indeks pertanaman dan produktivitas tanaman melalui penataan sistem pengairan serta lahan pertanian.

Pada 2025, program Optimasi Lahan di Banyuwangi dilaksanakan di lahan seluas 1.008 hektare yang tersebar di Kecamatan Rogojampi, Blimbingsari, dan Srono.

Program tersebut meliputi pembangunan 29 unit sumur bor, pembangunan jaringan irigasi tersier sepanjang 300 meter, serta bantuan benih untuk 1.001 hektare sawah dengan total 25.025 kilogram.

Ketua Kelompok Tani Keji Beling Desa Kaotan, Isa Ansori mengaku bersyukur dengan adanya bantuan sumur bor tersebut. Menurutnya, ketersediaan air kini jauh lebih baik dibanding sebelumnya.

"Sebelum ada sumur bor, petani harus bergantian untuk dapat air, sekarang tidak lagi. Masa tanam dan panen juga bertambah yang tadinya dua kali setahun bisa tiga kali setahun. Kami juga tidak perlu khawatir lagi menanam di musim kemarau karena airnya cukup," ujar Isa.

Isa menambahkan, keberadaan rumah pompa dan sumur bor juga membuka peluang usaha baru bagi kelompok tani. Selain dimanfaatkan untuk pertanian, air dari sumur bor kini digunakan untuk budidaya ikan hingga wahana kolam renang anak.

"Penghasilan dari usaha itu sebagian digunakan untuk biaya operasional sumur bor, seperti membeli token listrik dan kebutuhan operasional kelompok tani lainnya," imbuhnya.

Sementara itu, produksi padi Banyuwangi tercatat terus mengalami peningkatan. Pada 2025, produksi padi Banyuwangi mencapai 806.771 ton dengan luas tanam 121.319 hektare. Angka itu meningkat dibanding tahun 2024 yang mencapai 794.783 ton dengan luas tanam 119.651 hektaree




(erm/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads