Siswa SMA Katolik St. Louis 1 Surabaya, berinisial R (15) sempat ramai diperbincangkan atas aksinya diduga melakukan tindakan rasis dalam event street basketball di Taman Kunang-Kunang bersama K Showtime atau Kevon Watt. Kevon adalah YouTuber dan pebasket streetball asal Kanada.
Usai aksinya viral dan mendapat sejumlah respons dari warganet, R akhirnya meminta maaf.
R menjelaskan, peristiwa itu terjadi dalam kegiatan street basketball pada Rabu (29/4/2026) pukul 18.00 WIB di Taman Kunang-Kunang. Kegiatan itu digelar oleh Kevon Watt dan ia ikuti atas inisiatif pribadi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya mengikuti atas nama pribadi saya sendiri dan saya tidak mengatasnamakan sekolah, serta saya bukanlah anggota tim basket SMA Katolik St. Louis 1," ujarnya kepada detikJatim, Senin (4/5/2026).
Ia pun menyampaikan penyesalan mendalam atas ucapan yang dilontarkannya kepada Kevon.
"Saya dengan kerendahan hati yang paling dalam dan rasa penyesalan yang besar, ingin menyampaikan permohonan maaf secara terbuka atas tindakan dan ucapan rasis yang telah saya lakukan terhadap saudara Kevon," ungkapnya.
Dirinya mengakui perbuatannya tidak dapat dibenarkan dan telah melukai perasaan korban.
"Saya menyadari sepenuhnya bahwa tindakan saya tidak dapat dibenarkan dari sudut pandang mana pun. Ucapan saya telah melukai perasaan saudara Kevon, mencoreng nilai-nilai kemanusiaan, serta mengkhianati semangat sportivitas," lanjutnya.
Ia juga menegaskan bahwa tidak ada alasan yang membenarkan tindakan diskriminatif dalam bentuk apapun.
"Saya secara pribadi memohon maaf atas luka dan ketidaknyamanan yang saya timbulkan, terutama terhadap saudara Kevon. Tidak ada seorang pun yang pantas menerima perlakuan diskriminatif," tegasnya.
R turut meminta maaf karena nama sekolah terseret ke dalam polemik tersebut.
"Saya juga memohon maaf karena telah membawa nama baik SMA Katolik St. Louis 1 Surabaya ke dalam situasi negative ini. Perilaku saya sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai moral dan etika yang diajarkan oleh bapak dan ibu di SMA Katolik St. Louis 1," ujarnya.
Dia mengatakan, kejadian ini menjadi pelajaran penting baginya untuk memperbaiki diri sekaligus lebih menghargai keberagaman.
"Saya menyadari bahwa rasisme adalah isu serius yang merusak tatanan sosial. Saya berkomitmen untuk belajar lebih baik lagi agar kejadian serupa tidak pernah terulang kembali," katanya.
Sementara itu, pihak SMA Katolik St. Louis 1 Surabaya turut memberikan klarifikasi terkait keterlibatan siswanya dalam peristiwa tersebut.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, Dra. Maria Viciati, membenarkan bahwa R (15) merupakan siswa di sekolah tersebut. Namun, ia menegaskan kegiatan yang diikuti bukan agenda resmi sekolah.
"Adapun event yang diikuti oleh R di Taman Kunang-Kunang, Surabaya bukanlah event basket yang diadakan oleh sekolah kami dan juga bukan event yang diikuti oleh SMA Katolik St. Louis 1 Surabaya, melainkan niatan pribadi atau kapasitas pribadi dari R untuk mengikuti event street basketball di dekat rumahnya, di luar jam sekolah," ujar Viciati.
Meski demikian, pihak sekolah menegaskan tetap akan melakukan pembinaan terhadap siswanya.
"Meskipun kejadian tersebut, adalah event pribadi yang diikuti oleh R di luar sekolah, kami selaku pihak sekolah, juga turut bertanggung jawab secara moral untuk melakukan pendidikan dan pembinaan lebih lanjut terhadap R, sehingga di kemudian hari perbuatannya tidak terjadi lagi, agar R dapat menjadi lebih baik dan berguna bagi bangsa dan negara," pungkas Viciati.
