Langit malam pada Mei 2026 menghadirkan fenomena yang tak biasa. Dalam satu bulan, akan muncul dua purnama dengan sebutan berbeda, yakni Flower Moon dan Blue Moon. Keduanya kerap disamakan, padahal memiliki makna dan latar belakang yang tidak sama.
Tahun ini, Flower Moon terasa lebih spesial karena juga berstatus sebagai micromoon, yaitu saat Bulan berada di titik terjauh dari Bumi sehingga tampak sedikit lebih kecil dan redup dibanding purnama biasanya.
Apa Itu Flower Moon?
Flower Moon adalah nama tradisional untuk Bulan Purnama yang terjadi setiap bulan Mei. Mengutip BBC Sky at Night Magazine, istilah ini berasal dari tradisi penamaan kuno yang merujuk pada mekarnya bunga-bunga di musim semi, terutama di belahan bumi utara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nama ini tidak berarti Bulan akan berubah warna atau tampilan secara drastis, melainkan lebih kepada penanda musiman. Sama seperti Pink Moon atau Strawberry Moon, Flower Moon hanyalah julukan astronomis populer berdasarkan kalender tahunan.
Waktu Puncak Purnama Flower Moon
Merujuk informasi dari situs astronomi In The Sky, purnama Flower Moon pada Mei tahun ini mencapai fase puncak pada 1 Mei 2026 pukul 20.22 UTC. Jika dikonversi ke Waktu Indonesia Barat (WIB), momen puncak ini terjadi pada 2 Mei 2026 sekitar pukul 03.22 WIB.
Pada waktu tersebut, Bulan berada pada posisi berlawanan dengan Matahari sehingga tampak bulat sempurna dari Bumi.
Agar dapat menikmati purnama Flower Moon secara optimal, lihatlah dari area terbuka atau jauh dari pusat kota. Waktu terbaik untuk mengamati adalah saat Bulan mulai terbit di ufuk timur hingga berada cukup tinggi di langit.
Namun secara umum, saat Flower Moon terbit setelah matahari terbenam penampilannya tetap akan terlihat penuh dan memukau.
Kenapa Flower Moon 2026 Disebut Micromoon?
Dilansir dari BBC Sky at Night Magazine, Flower Moon tahun ini tergolong sebagai micromoon, yaitu kondisi ketika Bulan berada di titik terjauh dari Bumi dalam orbitnya.
Hal ini terjadi karena orbit Bulan berbentuk elips (lonjong) sehingga jaraknya dari Bumi bisa berubah-ubah.
Pada Mei 2026, Bulan berada di titik apogee (terjauh dari Bumi), sehingga akan terlihat sekitar 14,1% lebih kecil dan tampak sekitar 30% lebih redup dibanding saat berada di titik terdekat (perigee)
Meski perbedaannya tidak selalu terlihat jelas dengan mata telanjang, fenomena ini tetap menarik secara astronomis.
Apa Itu Blue Moon?
Blue Moon adalah istilah untuk fenomena dua kali Bulan Purnama dalam satu bulan kalender. Biasanya, purnama hanya terjadi sekali dalam sebulan, tetapi karena siklus Bulan sekitar 29,5 hari, dalam kondisi tertentu bisa muncul dua kali. Purnama kedua inilah yang disebut Blue Moon, sebagaimana dijelaskan Encyclopaedia Britannica.
Meski namanya "blue", Bulan tidak benar-benar berwarna biru. Istilah ini hanya penamaan populer, bukan perubahan tampilan. Selain itu, Blue Moon juga dikenal sebagai fenomena yang relatif jarang terjadi, biasanya muncul sekitar dua hingga tiga tahun sekali.
Dalam konteks Mei 2026, kemunculan Flower Moon di awal bulan membuka peluang hadirnya Blue Moon di akhir bulan. Inilah yang membuat bulan tersebut terasa lebih istimewa karena menghadirkan dua purnama dalam satu periode kalender.
Waktu Puncak Blue Moon Mei 2026
Karena Flower Moon terjadi di awal Mei, maka akan ada Bulan Purnama kedua di akhir Mei 2026. Blue Moon akan terjadi pda 31 Mei 2026.
Fenomena ini disebut sebagai Blue Moon bulanan. Jadi, sepanjang tahun 2026 akan terjadi 13 kali Bulan Purnama, bukan 12 seperti biasanya sebagaimana.
Perbedaan Flower Moon dan Blue Moon
Meski sama-sama berkaitan dengan Bulan Purnama, Flower Moon dan Blue Moon memiliki makna yang berbeda. Flower Moon adalah penamaan tradisional untuk purnama yang terjadi di bulan Mei, yang berasal dari budaya masyarakat di belahan bumi utara sebagai penanda musim bunga bermekaran.
Sementara itu, Blue Moon bukanlah nama musiman, melainkan fenomena kalender, yaitu ketika dalam satu bulan terjadi dua kali Bulan Purnama. Dengan kata lain, Flower Moon berkaitan dengan tradisi penamaan berdasarkan waktu dalam setahun, sedangkan Blue Moon merujuk pada kejadian yang relatif jarang dalam siklus Bulan.
Perbedaan ini penting dipahami agar tidak terjadi salah kaprah. Keduanya tidak menunjukkan perubahan bentuk atau warna Bulan, melainkan hanya cara manusia memberi nama dan mengelompokkan fenomena yang sama, yakni fase purnama.
(irb/hil)
