Puasa mutih kembali jadi sorotan setelah viral Syifa Hadju yang mengaku menjalani ritual ini menjelang pernikahannya dengan El Rumi.
Dalam video yang viral tersebut, Syifa Hadju mengungkapkan bahwa ia hanya mengonsumsi nasi putih, tahu, dan putih telur.
Meski masih banyak dilakukan di kalangan masyarakat, tak sedikit yang belum tahu filosofi, tata cara, dan manfaatnya. Yuk bahas detikers!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengenal Puasa Mutih
Dilansir dari detikHikmah, puasa mutih kerap dilakukan seseorang yang memiliki hajat. Puasa ini dilakukan untuk membersihkan diri dan melatih diri untuk menahan hawa nafsu.
Sementara itu, menurut buku "Primbon Masa Kini: Warisan Nenek Moyang untuk Meraba Masa Depan" oleh Romo RDS Ranoewidjojo, puasa ini dikenal sebagai laku mutih. Laku sendiri merupakan sebuah tindakan yang harus dilakukan untuk dapat mencapai suatu keinginan.
Tujuan dari laku mutih adalah untuk menguatkan 'saudara putih' dalam memimpin ketiga saudara lainnya menghindari bujukan duniawi. Dengan begitu, mereka bisa kembali ke dalam jalan menuju Tuhan.
Filosofi saudara putih ini berasal dari unsur udara atau biasa disebut muthma'innah. Unsur udara ini dimaknai sebagai nafsu yang dipercaya lebih dekat kepada kesucian Tuhan. Kemudian tiga saudara lainnya adalah sebagai berikut.
- Unsur api yang merupakan nafsu amarah.
- Unsur air yang merupakan shuffiyah atau kebijaksanaan.
- Unsur tanah atau lawwamah yang dekat dengan hal-hal duniawi.
Intinya, puasa mutih dilakukan sebagai bentuk kembalinya diri menjadi suci. Seseorang berupaya meredam dorongan nafsu duniawi agar kembali terarah menuju jalan ilahi.
Hukum Puasa Mutih dalam Islam
Mengutip detikHikmah yang merangkum buku "Sejarah Kesultanan Melayu Sanggau" oleh Abang Ishar, puasa mutih biasanya dilaksanakan selama 40 hari. Puasa mutih adalah puasa di luar kaidah yang ditentukan dalam Islam, dan hanya bertujuan mengosongkan perut supaya tidak kenyang atau lapar.
Puasa ini diawali dengan makan sekepal nasi saat malam hari atau waktu sahur. Biasanya, juga menyantap tujuh kepal nasi putih tanpa campuran sayur-sayuran dan lauk pauk.
Kemudian saat berbuka juga hanya memakan tujuh kepal nasi saja. Selain menahan lapar, puasa mutih juga diiringi dengan bertawasul, yakni membaca surah Al-Fatihah di malam hari selama 40 hari berturut-turut.
Amalan lain yang juga dikerjakan saat puasa mutih adalah zikir dan membaca selawat. Orang-orang yang menjalani puasa mutih kerap mengasingkan diri dari keramaian.
Dalam syariat, tidak ada anjuran ataupun penjelasan tentang puasa mutih. Dalil dalam Al-Qur'an maupun hadis Rasulullah SAW juga tidak menjelaskan secara eksplisit tentang puasa mutih.
Ibadah puasa merupakan amalan yang bisa dikerjakan untuk melatih keimanan, sudah sepatutnya dilakukan hanya bertujuan mendapatkan ridho Allah SWT. Ada banyak hadis yang menjelaskan keutamaan puasa. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:
"Allah 'Azzawajalla berfirman -dalam hadis qudsi: "Semua amal perbuatan anak Adam-yakni manusia- itu adalah untuknya, melainkan berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan balasan dengannya. Puasa adalah sebagai perisai -dari kemaksiatan serta dari neraka. Maka dari itu, apabila pada hari seseorang diantara engkau semua itu berpuasa, janganlah ia bercakap-cakap yang kotor dan jangan pula bertengkar.
Apabila ia dimaki-maki seorang atau dilawan dengan bermusuhan, maka hendaklah ia berkata: "Sesungguhnya saya adalah -sedang- berpuasa". Dalam hadis lain yang diriwayatkan Imam Bukhari disebutkan bahwa Allah berfirman dalam hadits qudsi:
"Orang yang berpuasa itu meninggalkan makan, minum dan syahwatnya karena taat pada perintahKu Allah. Puasa adalah untukku (Allah), dan Aku akan memberikan balasannya, sedang sesuatu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipat gandanya."
Baca juga: Kumpulan Filosofi Jawa yang Sarat Makna |
Tata Cara Puasa Mutih
Dilansir dari detikJateng, puasa mutih dilakukan dengan mengonsumsi makanan dan minuman berwarna putih, tanpa rasa. Namun, ada beberapa ketentuan dalam tata cara pelaksanaannya. Bersumber dari buku berjudul "Laku Prihatin" yang ditulis Iman Budhi Santosa, berikut ketentuan puasa mutih.
- Sebelum menjalankan puasa mutih harus didahului dengan mandi keramas.
- Seseorang yang akan melakukan puasa mutih harus menyatakan niat dan tujuannya, serta berapa hari ia akan melakukannya.
- Puasa mutih biasanya dilakukan dalam jumlah hari yang ganjil, seperti 1, 3, 5, 7 hari, dan seterusnya.
- Dilarang makan apapun selain nasi putih, bahkan sayur dan garam tidak diperbolehkan.
- Dilarang minum apapun selain air putih, bahkan teh, kopi, maupun minuman manis lainnya tidak diperbolehkan.
- Buka puasa setelah maghrib, dan sahur sebelum adzan subuh seperti puasa sunnah biasa, tetapi harus makan nasi putih dan minum air putih.
- Tidak boleh berhubungan seksual, berbuat buruk maupun haram.
- Penuhi malam hari mutih dengan dzikir dan berdoa agar cita-citanya dikabulkan oleh Tuhan.
Puasa mutih biasanya dilakukan setiap 35 hari khusus pada hari tertentu, seperti Senin-Kamis,weton lahir atau tiga hari yang jumlah neptunya 40 yang meliputi sebagai berikut.
- Selasa Kliwon, Rabu Legi, dan Kamis Pahing
- Rabu Pon, Kamis Wage, dan Jumat Kliwon
- Kamis Wage, Jumat Kliwon, dan Sabtu Legi
Jenis Puasa Mutih dalam Masyarakat Jawa
Berdasarkan buku berjudul "Siapa Berpuasa Dimudahkan Urusannya" oleh Khalifa Zain Nasrullah, terdapat dua jenis puasa mutih dalam masyarakat Jawa. Adapun dua jenis puasa mutih dalam kalangan masyarakat Jawa tersebut adalah sebagai berikut.
1. Puasa Mutih Bersifat Muthlaq
Puasa mutih jenis ini dilaksanakan layaknya puasa sunnah pada umumnya, atau orang-orang menggolongkannya ke dalam jenis puasa sunah muthlaq. Puasa yang dilakukan dengan menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal lain yang membatalkan puasa, sejak terbit fajar hingga tenggelamnya matahari.
Akan tetapi, keduanya jelas bukan perkara yang sama. Puasa sunnah sesuai ajaran Islam berbuka dengan makanan dan minuman apapun selama itu halal. Sementara puasa mutih harus berbuka dengan makan nasi putih dan air putih saja.
2. Puasa Mutih Bersifat Wishal
Lain lagi dengan puasa mutih yang bersifat wishal ini. Bisa dikatakan, puasa ini memiliki tingkat tirakat yang lebih berat.
Sesuai dengan arti wishal yakni terus menerus, puasa mutih ini dijalankan dengan bersambung hari semalam penuh, bahkan hingga dua hari lebih. Meski demikian, aturan berbukanya pun tetap sama.
(irb/dpe)











































