Puluhan mahasiswa Institut Teknologi Insan Cendikia Mandiri (ITICM) menggelar aksi unjuk rasa damai di depan kampus di Jalan Sarirogo, Kecamatan Sidoarjo Kota. Mereka menuntut pembenahan manajemen yayasan hingga penyelesaian persoalan dosen yang disebut jarang mengajar.
Dalam aksi itu, mahasiswa mengenakan jaket almamater kuning sambil membawa poster bertuliskan "Selesaikan hak-hak mahasiswa dan dosen" serta "Mahasiswa turun bukan untuk membuat gaduh tapi menuntut hak kami".
Koordinator lapangan aksi, Taufik Hidayat mengatakan mahasiswa kecewa karena proses perkuliahan dinilai terganggu. Salah satu penyebabnya, kata dia, sejumlah dosen belakangan jarang hadir mengajar karena belum menerima gaji.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami ingin mengetahui penyebab dosen akhir-akhir ini tidak mengajar. Kalau dosen tidak mengajar, otomatis mahasiswa kurang maksimal mendapatkan pembelajaran di masing-masing prodi," ujar Taufik saat berorasi di depan kampus Rabu (29/4/2026).
Selain itu, mahasiswa juga meminta evaluasi besar-besaran terhadap manajemen yayasan. Mereka menilai sistem administrasi dan tata kelola kampus perlu segera dibenahi.
"Kalau memang ada pihak yang tidak kompeten, sebaiknya dievaluasi atau diganti. Kami memberi waktu satu minggu kepada yayasan untuk memperbaiki sistem. Jika tidak ada penyelesaian, kami akan melaporkan persoalan ini ke LL DIKTI Wilayah VII Jawa Timur," tegasnya.
Taufik menyebut, banyak mahasiswa datang dari luar daerah dengan harapan besar menempuh pendidikan di kampus tersebut. Karena itu, mereka meminta kepastian masa depan akademik dan kualitas pembelajaran.
Sementara itu, pihak yayasan melalui HRD Yayasan Yatim Mandiri, Yuwan Ebit Saputra menyatakan menerima aspirasi mahasiswa dan berjanji menindaklanjuti seluruh tuntutan.
"Kami menyanggupi permintaan mahasiswa. Dalam waktu satu minggu permasalahan ini akan kami selesaikan. Dalam dua hari ke depan kami juga akan melakukan evaluasi menyeluruh," kata Yuwan.
Ia meminta mahasiswa memberi ruang mediasi karena menurutnya persoalan yang berkembang selama ini baru didengar dari satu sisi dan belum melibatkan semua pihak, termasuk dosen.
"Kami ingin menyelesaikan semuanya bersama-sama. Semua dosen sudah kami ajak berdiskusi, dan masalah ini akan diselesaikan secepatnya minggu ini juga," ujarnya.
Yuwan juga mengakui kampus tengah menghadapi dinamika, termasuk berkurangnya jumlah mahasiswa yang berdampak pada operasional. Namun ia memastikan proses pendidikan tetap berjalan.
"Langkah pembelajaran online yang dilakukan sifatnya sementara agar proses belajar mahasiswa tidak terhenti," pungkasnya.
(irb/hil)











































