Aksi Protes Komunitas Warga Cat Ulang Halte Trans Jatim di Veteran Malang

Aksi Protes Komunitas Warga Cat Ulang Halte Trans Jatim di Veteran Malang

Muhammad Aminudin - detikJatim
Sabtu, 25 Apr 2026 18:40 WIB
Tak Tahan Kondisi Memprihatinkan, Warga Malang Benahi Halte Transjatim sendiri
Warga mengecat halte transjatim (Foto: Muhammad Aminudin/ detikjatim)
Malang -

Aksi protes unik terjadi di jantung Kota Malang. Lantaran geram melihat fasilitas publik yang terbengkalai. Sejumlah komunitas yang dipelopori oleh Wahyu Setyo Pratama nekat turun ke jalan untuk mengecat ulang Halte Trans Jatim di kawasan Jalan Veteran, Kota Malang.

Pantauan di lokasi, sekitar 10 orang tampak sibuk mengeroyok halte yang berada tepat di depan Universitas Brawijaya (UB) tersebut. Dengan peralatan seadanya, mereka bahu-membahu membersihkan coretan, menyapu debu tebal, hingga memoles ulang dinding halte yang sebelumnya tampak kusam dan kumuh.

Koordinator aksi Wahyu Setyo Pratama mengungkapkan bahwa tindakan ini merupakan puncak kekesalan warga terhadap Pemerintah Kota (Pemkot) Malang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Wahyu, halte Veteran 2 merupakan salah satu titik tersibuk, namun kondisinya sangat memprihatinkan sejak layanan Trans Jatim resmi beroperasi.

"Halte Veteran 2 ini penumpangnya selalu ramai, salah satu yang paling padat setelah Kayutangan. Tapi berbulan-bulan sejak Trans Jatim beroperasi, tidak ada perubahan sama sekali dari Pemkot Malang. Seolah tutup mata," ujar Wahyu kepada wartawan, Sabtu (25/4/2026).

ADVERTISEMENT

Wahyu menilai, Pemkot Malang terkesan 'lepas tangan' dan hanya mengandalkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur terkait urusan transportasi publik.

Tak Tahan Kondisi Memprihatinkan, Warga Malang Benahi Halte Transjatim sendiriTak Tahan Kondisi Memprihatinkan, Warga Malang Benahi Halte Transjatim sendiri Foto: Muhammad Aminudin/ detikjatim)

Padahal, fasilitas pendukung seperti halte merupakan tanggung jawab pemerintah daerah setempat.

Pihaknya pun menyentil besaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Malang yang menyentuh angka triliunan rupiah, namun tak mampu menyentuh perbaikan fasilitas remeh seperti halte.

"Dengan APBD lebih dari Rp 2 triliun, semestinya perbaikan halte bukanlah perkara sulit. Setidaknya bisa lah renovasi beberapa titik. Ini digunakan masyarakat yang juga bayar pajak. Masa dibiarkan kumuh begini," tegasnya.

Menariknya, aksi "bedah halte" ini tidak hanya dilakukan oleh warga Malang. Berbagai elemen komunitas dari luar kota pun turut bergabung sebagai bentuk solidaritas transportasi publik, di antaranya dari Transport for Malang, Transport for Surabaya, Transport for Banyuwangi, dan Aliansi Malang Bersatu.

Aksi spontan ini pun memancing perhatian pengguna jalan dan masyarakat sekitar. Beberapa warga bahkan memberikan dukungan moral atas inisiatif tersebut.

Wahyu menegaskan bahwa tuntutan mereka sebenarnya sederhana. Komunitas tidak meminta halte yang dilengkapi teknologi canggih atau desain mewah, melainkan fasilitas yang manusiawi dan layak bagi penumpang.

"Transportasi boleh modern, tapi fasilitasnya minimal harus memadai. Kami tidak minta yang canggih, cukup fungsional dan tidak terlihat kumuh. Jangan sampai layanan transportasinya bagus, tapi tunggunya di tempat yang rusak," pungkasnya.




(ihc/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads