Dugaan praktik joki terungkap dalam pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) hari pertama tahun 2026 di Universitas Negeri Malang (UM). Pihak kampus mengakui adanya anomali data peserta dan saat ini tengah dalam proses investigasi mendalam untuk membuktikan kecurigaan atas kecurangan itu.
Kepala Subdirektorat Seleksi UM Dr Rizky Firmansyah mengatakan setidaknya ada 2600 pelajar mengikuti UTBK untuk menjadi calon mahasiswa baru di UM pada 2026. Dia ungkapkan bahwa modus kecurangan kali ini terbilang cukup rapi karena melibatkan pertukaran identitas peserta.
Dia menegaskan bahwa secara fisik data yang dibawa peserta ke lokasi ujian tampak identik dengan identitas resmi seperti KTP, SIM, maupun kartu pelajar. Namun, kecurigaan muncul setelah sesi pertama pelaksanaan UTBK hari pertama pada Selasa (21/4) berakhir, yakni sekitar pukul 12.00 WIB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami pastikan bahwa saat itu antara dokumen yang ada dari kampus berupa data ke kami dengan peserta yang datang itu sama. Meskipun demikian, kami juga curiga karena ada anomali di salah satu datanya," ujar Rizky kepada wartawan, Rabu (22/4/2026).
Rizky menjelaskan bahwa panitia langsung bergerak cepat ketika mendapatkan informasi dugaan praktik perjokian dengan melakukan penelusuran secara digital maupun fisik. Tim investigasi tengah mencocokkan data visual yang terekam selama proses ujian berlangsung, mulai dari rekaman kamera pengawas hingga dokumentasi foto yang diambil pengawas.
Pihak UM saat ini fokus membedah setiap detail bukti yang ada untuk memastikan kebenaran dugaan pertukaran orang itu. Rizky menyebutkan bahwa tim investigasi sudah mulai mengerucutkan sejumlah nama yang diduga terlibat dalam praktik ilegal ini.
"Kami sudah melakukan investigasi, kami cek CCTV ruangan, mencocokkan data dari kampus, dan kami coba samakan antara data yang kami miliki. Berupa apa? CCTV, foto, kan pengawas memfoto dari depan sehingga semuanya kelihatan. Kemudian album, kami juga sempat bertanya ke pengawas dan teknisi ruang," tambahnya.
Lebih lanjut, Rizky memaparkan bahwa sistem seleksi tahun ini sebenarnya sudah dirancang sangat ketat oleh panitia pusat SNPMB untuk mempersempit ruang gerak pelaku kecurangan, terutama pada program studi dengan tingkat persaingan tinggi seperti program studi kedokteran dan kedokteran gigi.
Penempatan peserta pada hari pertama secara serentak dimaksudkan agar praktik perjokian di banyak lokasi dan waktu yang berbeda bisa diminimalisir.
Meski protokol keamanan fisik seperti penggunaan metal detector hingga pemeriksaan atribut pakaian peserta sudah dijalankan dengan ketat, modus pemalsuan dokumen identitas menjadi tantangan tersendiri bagi pengawas di lapangan. Keterbatasan waktu identifikasi di dalam ruangan menjadi celah yang dimanfaatkan oknum untuk meloloskan joki.
"Kan tidak mungkin pengawas dalam waktu 30 menit ada 20 peserta dalam ruangan diidentifikasi masing-masing beserta kartu pesertanya. Sehingga untuk kasus yang seperti ini agak sulit untuk mendeteksi saat itu juga," tegasnya.
Hingga saat ini, proses investigasi masih terus berjalan dan pihak universitas terus berkoordinasi dengan pimpinan pusat. Rizky menegaskan bahwa UM berkomitmen penuh menjaga integritas pelaksanaan UTBK dan akan membuka hasil temuan tersebut setelah seluruh data terverifikasi secara final.
UM juga berharap langkah tegas ini bisa memberikan efek jera agar praktik kecurangan serupa tidak terulang di masa mendatang.
"Jangan menghalalkan segala cara untuk bisa masuk ke prodi tertentu, berlaku jujurlah untuk masa depan," pungkasnya.
Sebelumnya, temuan modus kecurangan UTBK sudah ditemukan cukup beragam. Ada modus perjokian yang mana satu orang menggunakan dua identitas. Pelaku tersebar di Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar), Universitas Negeri Surabaya (Unesa), hingga Universitas Negeri Malang (UM).
Modusnya berupa peserta UTBK 2025 yang mengikuti ujian kembali di 2026. Dengan sistem pelacakan data, panitia berhasil menemukan identitas asli joki tersebut berhasil terdeteksi sejak dini.
"Juga masih di pusat UTBK Unsulbar, itu ditemukan upaya perjokian dengan mengganti peserta. Jadi ini sengaja dilihat, jadi orang yang sama itu mengikuti UTBK di tahun 2025-2026 untuk nama pesertanya. Jadi orangnya sama, ikut ujian 2025-2026 untuk dua nama. Bisa dipahami ya? Jadi itu sudah pasti merupakan joki yang mengganti," kata Ketua Umum Tim Penanggung Jawab Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) 2026 Prof Dr Ir Eduart Wolok, ST, MT dilansir detikEdu, Selasa (21/4/2026).
(irb/dpe)











































