Nasib Keturunan Kartini yang Tak Seharum Namanya

Nasib Keturunan Kartini yang Tak Seharum Namanya

Anastasia Trifena - detikJatim
Senin, 20 Apr 2026 22:30 WIB
Potret RA Kartini
Potret RA Kartini (Foto: Collectie Wereldmuseum (v/h Tropenmuseum), part of the National Museum of World Cultures/Wikimedia Commons/CC BY-SA 3.0)
Surabaya -

Nama Raden Ajeng Kartini begitu harum dalam sejarah Indonesia. Gagasannya tentang peran perempuan di masyarakat terus dikenang hingga sekarang sebagai simbol perjuangan kaum hawa. Namun kisah tentang keluarga dan keturunannya jarang ikut dibicarakan.

Kartini merupakan anak seorang Bupati Jepara yang kemudian dinikahi oleh Bupati Rembang, Raden Adipati Djojoadhiningrat. Dari pernikahan itu lahir seorang anak yang kelak membawa kisah berbeda dari bayang-bayang besar sang ibu.

Putra semata wayangnya, Soesalit Djojoadhiningrat tumbuh tanpa kehadiran ibu sejak bayi karena Kartini meninggal dunia empat hari setelah melahirkannya. Hidup Soesalit diwarnai berbagai cobaan hingga namanya perlahan tenggelam dari perhatian publik. Perjalanan hidupnya jauh dari kesan istimewa yang sering dilekatkan pada keluarga tokoh besar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Siapa sangka kisah itu ternyata berlanjut pada generasi berikutnya. Sebagian keturunan Kartini diketahui menghadapi keterbatasan ekonomi. Hal ini menghadirkan kontras antara besarnya nama Kartini dan realitas hidup keluarganya di masa kini.

Kisah Hidup Anak Kartini

Soesalit Djojoadhiningrat lahir pada 13 September 1904 sebagai putra semata wayang Raden Ajeng Kartini. Namun kebahagiaan itu hanya berlangsung singkat karena Kartini wafat empat hari setelah melahirkan tepatnya 17 September 1904. Soesalit kemudian diasuh oleh keluarga dan harus kembali kehilangan ayahnya saat berusia delapan tahun.

ADVERTISEMENT

Meski tumbuh dalam kehilangan, Soesalit dikenal sebagai anak yang cerdas dan bersemangat. Ia menempuh pendidikan di Europe Lagere School (ELS) Rembang lalu melanjutkan ke Hogere Burgerschool (HBS) Semarang sebelum sempat belajar di Rechtschoogeschool (RHS) Batavia.

Setelah itu ia bekerja sebagai pamong praja dan sempat masuk dinas intelijen kolonial sebelum akhirnya bergabung dengan PETA saat masa pendudukan Jepang. Karier militernya cukup cemerlang hingga pernah menyandang pangkat setara mayor dan terlibat dalam perjuangan setelah kemerdekaan.

Namun perjalanan hidupnya tidak berjalan mulus. Melansir dari detikJateng, keterkaitannya dengan isu politik pada peristiwa PKI Madiun 1948 membuat namanya terseret meski tidak pernah terbukti.

Jabatan militernya dicopot dan ia sempat menjalani tahanan rumah hingga akhirnya lebih banyak berada di balik layar pemerintahan. Soesalit wafat pada 17 Maret 1962 dan dimakamkan di kompleks makam Kartini di Rembang.

Nasib Keturunan Kartini di Generasi Berikutnya

Kisah keluarga Raden Ajeng Kartini tidak berhenti pada kehidupan Soesalit Djojoadhiningrat. Dari garis keturunan ini lahir cucu tunggal bernama Boedi Setyo Soesalit yang kemudian menikah dan memiliki lima orang anak yakni Kartini, Kartono, Rukmini, Samimum, dan Rachmat.

Mereka menjadi cicit-cicit Kartini yang hidup jauh setelah masa perjuangan sang tokoh emansipasi perempuan. Kehidupan keluarga ini mulai mengalami kemunduran setelah Boedi Soesalit meninggal dunia. Istri dan anak-anaknya harus bertahan dalam kondisi ekonomi yang terbatas dan jauh dari kata sejahtera.

Sebagian cicit Kartini menjalani pekerjaan sederhana untuk memenuhi kebutuhan sehari hari. Ada yang bekerja sebagai tukang ojek dan ada pula yang menghadapi tekanan ekonomi berat dalam kehidupan rumah tangga. Bahkan ada anggota keluarga yang hidup dalam kondisi memprihatinkan.

Persoalan tempat tinggal juga sempat menjadi beban. Keluarga ini pernah menempati rumah bantuan pemerintah di wilayah Bogor namun kemudian diminta untuk meninggalkan tempat tersebut sehingga kondisi hidup mereka semakin sulit.

Melansir dari laman resmi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, situasi ini sempat menjadi perhatian pemerintah daerah yang berencana memberikan bantuan berkelanjutan seperti pendidikan dan tempat tinggal.

Kisah ini menunjukkan bahwa semangat Kartini tidak cukup hanya dikenang tetapi juga perlu diwujudkan melalui kepedulian nyata, terutama kepada para keturunannya.




(ihc/irb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads