Mengapa Era Digital Picu Kenakalan Remaja Menjadi Gangster yang Brutal?

Mengapa Era Digital Picu Kenakalan Remaja Menjadi Gangster yang Brutal?

Jihan Navira - detikJatim
Sabtu, 11 Apr 2026 13:30 WIB
Gangster di Surabaya
Ilustrasi Gangster di Surabaya. (Foto: Istimewa)
Surabaya -

Fenomena kenakalan remaja yang menjurus pada aksi gangster di Surabaya kembali menjadi sorotan. Meski data kepolisian menunjukkan tren penurunan hingga April 2026 dibanding tahun sebelumnya, kasus serupa masih terus bermunculan dan meresahkan masyarakat.

Psikolog Klinis dan Forensik Surabaya, Riza Wahyuni, menjelaskan kenakalan remaja bukanlah fenomena baru. Hal tersebut selalu ada di setiap generasi, termasuk generasi Z saat ini. Namun, yang membedakan adalah bentuk dan pola perilakunya.

"Setiap masa pasti ada kenakalan remaja. Itu tidak bisa dipungkiri. Tapi yang berbeda sekarang adalah bagaimana perilaku mereka dan pengaruh lingkungan, terutama di media sosial," ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Secara psikologis, masa remaja merupakan fase krusial dalam perkembangan individu. Pada tahap ini, remaja berada dalam proses pencarian jati diri sehingga rentan terhadap pengaruh lingkungan, baik dari keluarga maupun pergaulan.

Riza menekankan, keluarga menjadi fondasi utama. Ketika remaja tidak mendapatkan rasa aman, kenyamanan, atau pengakuan di rumah, mereka cenderung mencarinya di luar.

ADVERTISEMENT

"Kalau di rumah mereka tidak merasa didengar atau bahkan mengalami kekerasan, mereka akan mencari validasi di luar, biasanya lewat teman sebaya. Dari situ terbentuk kelompok-kelompok yang bisa mengarah ke perilaku negatif termasuk gangster," jelasnya.

Ia menjelaskan, perilaku agresif yang muncul di luar rumah kerap menjadi pelampiasan dari tekanan atau kekecewaan yang dipendam.

"Mereka tidak bisa melawan di rumah dan mereka sulit melampiaskannya kepada keluarga. Kemarahan yang dipendam selama ini akhirnya dilampiaskan ke dunia luar, ke orang lain," ujar Riza.

Selain faktor keluarga, perkembangan teknologi juga memperkuat pengaruh tersebut. Media sosial dinilai berperan besar dalam membentuk pola pikir dan perilaku remaja.

Jika sebelumnya interaksi terbatas pada tatap muka, kini konflik bisa muncul di dunia digital melalui ejekan atau provokasi, yang kemudian berlanjut ke dunia nyata. Karena itu, ia menilai pembatasan akses usia terhadap konten maupun aplikasi tertentu menjadi langkah penting untuk melindungi remaja.

"Itu yang membuat perilakunya terlihat lebih berani, bahkan cenderung lebih brutal. Ini disebut dengan delinkuen atau perilaku melanggar hukum dan mereka sangat berani bahkan tidak berpikir ada empati dan lain sebagainya," ungkapnya.

Riza juga mengungkap, sebagian besar remaja yang terlibat kasus kekerasan memiliki riwayat mengonsumsi zat tertentu, seperti alkohol hingga narkoba.

"Dengan mengonsumsi itu, menurut mereka akan menambah kepercayaan diri. Di situlah mereka sangat mudah untuk dipengaruhi," katanya.

Bahkan, karena keterbatasan ekonomi, sebagian remaja mencari alternatif dengan mencampurkan obat-obatan untuk mendapatkan efek tertentu.

"Bahkan anak usia SMP banyak yang sudah mengenal minuman keras. Mereka sekarang sudah lebih canggih lagi. Mereka tahu nih, kalau beli itu pasti mahal dan nggak cukup uangnya, mereka menggunakan obat-obatan kayak obat masuk angin, obat sakit kepala, dioplos semua supaya nge-fly," kata Riza.

Menurut Riza, fenomena ini tidak bisa dipetakan berdasarkan wilayah atau latar belakang pendidikan tertentu. Faktor lingkungan dan keluarga tetap menjadi penentu utama. Ia pun mengimbau orang tua agar lebih peka terhadap perubahan perilaku anak, seperti menjadi lebih agresif, menarik diri, depresi, atau mulai membangkang.

"Ini perlu diwaspadai sejak dini. Jangan menunggu sampai terjadi sesuatu yang besar. Kalau ada perubahan, segera konsultasikan ke psikolog. Itu bisa membantu mencegah hal-hal yang tidak diinginkan," tegasnya.

Riza menambahkan, kondisi tersebut masih bisa ditangani. Dengan intervensi psikologis yang tepat dan dukungan keluarga, banyak remaja dapat kembali ke jalur yang positif.

"Dengan dukungan keluarga dan penanganan profesional, banyak yang akhirnya bisa kembali sekolah, kuliah, dan tidak lagi melakukan tindakan merugikan diri sendiri maupun orang lain," tuturnya.



(ihc/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads