Keren! Bocah 3 SD di Bojonegoro Mahir Servis Kipas Belajar dari YouTube

Keren! Bocah 3 SD di Bojonegoro Mahir Servis Kipas Belajar dari YouTube

Ainur Rofiq - detikJatim
Jumat, 10 Apr 2026 21:00 WIB
Daffa Ardian Pratama saat mengutak-atik mesin
Daffa Ardian Pratama saat mengotak-atik mesin. (Foto: Ainur Rofiq/detikJatim)
Bojonegoro -

Di usia yang baru menginjak 9 tahun, Daffa Ardian Pratama sudah menunjukkan kemampuan di luar kebiasaan anak seusianya. Bocah asal Desa Growok, Kecamatan Dander, ini dikenal gemar mengutak-atik mesin dan perangkat elektronik.

Putra pertama pasangan Andik Sujianto dan Lusy Ardiana ini terlihat sudah mahir memperbaiki perkakas elektronik rumah tangga, seperti kipas angin, komputer hingga paham mekanikal komponen kendaraan dan alat elektronik.

Dituturkan oleh Andik Sujianto, dari kecil sang anak terlihat telah menunjukkan rasa ingin tahu dan ketertarikan yang tinggi, terutama pada mesin dan teknologi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau soal memperbaiki kipas angin sudah hafal, bahkan dia (Daffa) bisa menganalisa kerusakan komponennya, sekaligus menjelaskan cara memperbaikinya," ujar Andik, Jumat (10/4/2026).

Semua kemampuan itu, kata Andika, di pelajari bocah kelas 3 SD itu secara otodidak. Bermodal tutorial dari salah satu medsos yang lalu di praktekkan sendiri.

ADVERTISEMENT

Rasa ingin tahunya yang tinggi membuat Daffa terus mengeksplorasi pengetahuan baru. Bahkan Daffa pernah menciptakan dimmer, alat untuk mengatur tegangan listrik untuk menaikan turunkan kecepatan dinamo. Hingga eksperimen merakit sepeda listriknya sendiri.

"Komponen alatnya dia beli online. Ya saya fasilitasi, dia beli batrai dan alat-alatnya, pernah juga buat alat sapu otomatis dari cikrak dan dinamo," ucap Andik.

Keunikan lain dari Daffa adalah kemampuannya memahami cara kerja suatu alat hanya dengan melihat atau mencoba sebentar. Ia tidak sekadar menggunakan, tetapi juga menganalisis sistem di dalamnya.

Seperti saat Daffa menunjukkan kemampuannya saat menggulung dinamo di hadapan sang ayah yang membuatnya tercengang.

"Tidak ada yang mengajari, saya sendiri nggak paham. Kok bisa gulung dinamo dan berfungsi baik. Dia bilang, ini kalau jumlah lilitan gulungannya tidak pas bakal gak stabil," ujar Andik.

Andik juga bercerita pernah suatu ketika Daffa yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak ngambek tidak mau sekolah, karena gurunya tidak bisa menjawab pertanyaannya.

Daffa dengan polos mengajukan pertanyaan sederhana namun cukup teknis kepada sang guru, tentang apa fungsi busi pada kendaraan.

"Dia itu sejak usia 3 tahunan, memang sudah saya perbolehkan main HP buat nonton Youtube. Dengan didampingi dan waktu tertentu. Yang di tonton itu bukan kartun. Dia suka lihat cara buat robot, mesin-mesin kayak gitu," imbuh Andik.

"Di usia itu, dia belum bisa baca tulis. Tapi, sudah bisa pakai voice di Youtube, kalau apa yang ingin dia cari tapi ternyata tidak sesuai. Protes dia," tambahnya.

Meski memiliki kecerdasan tinggi, perjalanan akademik Daffa tidak selalu berjalan mulus. Nilai sekolahnya cenderung biasa saja. Ia kurang tertarik dengan metode pembelajaran formal, dan lebih memilih belajar melalui praktik langsung.

Melihat potensi ini, orang tua Daffa kini berupaya mencari pola pendidikan yang lebih sesuai. Mereka menyadari bahwa Daffa membutuhkan pendekatan khusus agar kemampuannya dapat berkembang secara maksimal.

Selain itu, Andik mengungkapkan bahwa putra kebanggaannya itu mempunyai cita-cita tinggi dan mulia. Daffa diketahui ingin menjadi seorang insinyur penemu alat-alat baru yang bermanfaat bagi banyak orang.

"Kalau ditanya cita-cita Daffa apa? Pengen jadi insinyur," pungkas Andika.




(auh/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads