Bagi jemaah perempuan yang akan berangkat ke Tanah Suci, mengelola siklus menstruasi menjadi salah satu persiapan penting yang tak boleh diabaikan. Pasalnya, kondisi haid dapat membatasi pelaksanaan beberapa rangkaian ibadah haji dan umrah, sehingga diperlukan perencanaan matang agar ibadah tetap berjalan optimal.
Salah satu solusi yang kerap direkomendasikan adalah penggunaan obat penunda haid sesuai anjuran tenaga medis. Dengan pilihan obat yang tepat dan penggunaan yang benar, jemaah dapat menjalani rangkaian ibadah dengan lebih tenang, nyaman, dan tanpa hambatan berarti.
Obat Penunda Haid untuk Jemaah Haji
Obat-obatan ini bekerja dengan cara mengatur sistem hormon agar dinding rahim tidak meluruh selama detikers berada di tanah suci. Simak tiga pilihan obat penunda haid yang aman dan efektif berikut ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Norethisterone (Progesteron Sintetis)
Obat ini menjadi salah satu pilihan yang paling sering diresepkan dokter untuk jemaah haji. Lalu, bagaimana cara kerjanya?
Secara alami, haid terjadi saat kadar hormon progesteron menurun. Nah, norethisterone berfungsi menjaga kadar hormon tersebut tetap tinggi, sehingga dinding rahim tidak meluruh.
Penggunaan umumnya diminum 2-3 kali sehari, dimulai beberapa hari sebelum jadwal haid.Kapan haid kembali? Setelah konsumsi dihentikan, detikers biasanya akan mengalami haid lagi dalam waktu dua hingga empat hari.
2. Pil KB Kombinasi
Kalau detikers sudah rutin mengonsumsi pil KB, metode ini bisa dibilang paling simpel karena hanya perlu mengubah cara minumnya.
Pil ini bekerja dengan kandungan estrogen yang membantu menghentikan ovulasi. Dalam satu strip biasanya terdapat pil plasebo (kosong) yang memicu haid.
Untuk menunda haid, bisa melewati atau membuang tujuh pil plasebo tersebut. Setelah pil aktif habis, konsumsi dapat langsung dilanjutkan ke strip baru tanpa jeda.
Namun, sebaiknya tetap konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter agar skema penggunaannya sesuai dengan durasi ibadah selama di tanah suci.
3. Agonis GnRH (Gonadotropin Releasing Hormone)
Berbeda dengan dua jenis sebelumnya yang berbentuk pil, obat ini umumnya diberikan melalui suntikan atau semprotan hidung.
Obat ini bekerja langsung pada pusat pengatur hormon di kelenjar pituitari untuk menghentikan produksi hormon pemicu haid di ovarium.
Efeknya cukup efektif dalam menunda siklus menstruasi untuk sementara.
Namun, pada beberapa orang bisa muncul efek samping ringan seperti sakit kepala atau sensasi gerah (hot flashes).
Sebagai catatan penting, detikers tidak disarankan membeli obat penunda haid secara sembarangan di apotek. Mengingat kondisi fisik setiap orang berbeda, konsultasi dengan dokter sangat diperlukan.
Hal ini untuk menentukan jenis obat, dosis, serta waktu konsumsi yang tepat sesuai dengan jadwal keberangkatan dan kepulangan dari tanah suci. Dengan persiapan matang, ibadah pun bisa dijalani dengan lebih lancar dan tenang. Semangat menunaikan rukun Islam yang kelima, detikers!
(irb/hil)
