Ada 257 ODGJ yang Masih Dipasung di Jatim, Begini Upaya Dinsos

Ada 257 ODGJ yang Masih Dipasung di Jatim, Begini Upaya Dinsos

Faiq Azmi - detikJatim
Senin, 06 Apr 2026 17:15 WIB
Kepala Dinsos Jatim Restu Novi Widiani
Kepala Dinsos Jatim Restu Novi Widiani/Foto: Faiq Azmi/detikJatim
Surabaya -

Sebanyak 257 orang dalam gangguan jiwa (ODGJ) masih dipasung di Jawa Timur. Pemprov Jatim melalui Dinas Sosial terus melakukan pendekatan persuasif ke pihak keluarga ODGJ untuk membebaskan dan dirawat.

"Per 31 Maret ada 257 ODGJ yang dipasung," kata Kepala Dinsos Jatim Restu Novi Widiani saat dikonfirmasi detikJatim, Senin (6/4/2026).

Novi membeberkan pihaknya terus berupaya melakukan pendekatan ke keluarga agar mengizinkan ODGJ yang dipasung untuk dilakukan rehabilitasi di layanan kesehatan milik Pemprov Jatim.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Upaya Dinsos Jatim dalam menekan angka pasung pada dasarnya dilakukan melalui pendekatan komprehensif mulai dari medis, sosial, dan berbasis masyarakat. Program ini dikenal luas sebagai Jatim Bebas Pasung dan telah berjalan sejak sekitar 2014. Dari awalnya kala itu ada 2.000-an ODGJ dipasung kini tinggal 257," jelasnya.

ADVERTISEMENT

Novi menyebut, Tim Jatim Social Care (JSC) juga terus melakukan penyisiran untuk memastikan jumlah ODGJ yang dipasung.

"Kami terus melakukan penyisiran kasus atau case finding dengan kunjungan langsung ke desa serta melakukan evakuasi korban pasung. Kami pendekatan ke keluarga dengan harapan keluarga mengizinkan ODGJ dibuka pasungnya dan kami bawa ke layanan kesehatan," terangnya.

"Nantinya ODGJ akan menjalani rehabilitasi medis di RSJ, ada RSJ Menur Surabaya, atau rehabilitasi sosial di UPT Dinsos Bina Laras Pasuruan, Bina Laras Kediri, dan Balai PMKS Sidoarjo. Pembebasan pasung tidak sekali dilakukan, tapi terus kita monitoring," tambahnya.

Menurut Novi, ada sejumlah hambatan yang dihadapi saat Dinsos Jatim ingin melakukan pembebasan pasung.

"Meskipun upaya sudah masif, masih terdapat hambatan, salah satunya soal stigma masyarakat tinggi. Kemudian keterbatasan fasilitas, lalu resistensi lingkungan dan keluarga," jelasnya.

"Dinsos Jatim tidak hanya fokus pada pembebasan, tetapi juga kolaborasi dengan Dinsos kabupaten/kota serta pilar sosial di daerah untuk pencegahan pasung ulang dengan monitoring rutin, kontrol pengobatan, dan pendampingan keluarga," tandasnya.




(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads