Menjaga Reyog Tetap Hidup dengan Regenerasi

Menjaga Reyog Tetap Hidup dengan Regenerasi

Salma Nisrina Fahriyyah - detikJatim
Minggu, 05 Apr 2026 20:00 WIB
Reyog, Warisan Budaya Takbenda 2025.
Reyog, Warisan Budaya Takbenda 2025. Foto: Istimewa
Surabaya -

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan pentingnya regenerasi dalam kesenian Reyog agar tetap lestari dan relevan di tengah perkembangan zaman. Hal ini disampaikannya saat menerima tim Reyog Kyai Lodra dalam rangka persiapan menuju Festival Reyog Nasional Ponorogo 2026.

Menurut Khofifah, Reyog bukan sekadar pertunjukan budaya, tetapi sarat nilai filosofis yang berperan dalam membentuk karakter bangsa. Karena itu, keberlanjutan ekosistem Reyog, termasuk regenerasi pelaku seni, menjadi hal yang perlu didorong secara serius.

Khofifah Terima Tim Reyog Jelang Festival Nasional

Gubernur Khofifah menerima tim Reyog Kyai Lodra di Gedung Negara Grahadi Surabaya. Pertemuan ini menjadi bagian dari tradisi "kulo nuwun", sekaligus persiapan menuju Festival Reyog Nasional Ponorogo 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada Juni mendatang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam suasana yang hangat, acara diisi dengan ramah tamah dan pemotongan tumpeng. Turut mendampingi dalam kesempatan tersebut, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur Evy Afianasari.

Sebagai bentuk dukungan konkret, Khofifah juga memberikan bantuan dana pembinaan sebesar Rp 25 juta untuk mendukung persiapan tim Reyog Kyai Lodra dalam menghadapi festival tersebut.

ADVERTISEMENT

Reyog Bukan Sekadar Atraksi, Tapi Punya Nilai Filosofis

Dalam sambutannya, Khofifah menekankan bahwa Reyog memiliki makna yang jauh lebih dalam dibanding sekadar hiburan atau pertunjukan visual.

"Reyog bukan sekadar atraksi. Di dalamnya ada filosofi yang sangat kuat, tentang keberanian, kebenaran, dan bagaimana suku serta agama dapat dirajut dalam harmoni budaya," ujarnya, dikutip dari unggahan Instagram @dishubparjatimprov.

Ia juga menambahkan nilai-nilai tersebut memiliki peran strategis dalam membentuk karakter bangsa, termasuk dalam menanamkan semangat keberanian untuk memperjuangkan kebenaran.

"Yang lebih penting dari festival adalah filosofinya. Reyog membawa napas keberanian untuk memperjuangkan kebenaran," lanjutnya.

Regenerasi Reyog di Jawa Timur

Selain menyoroti aspek filosofi, Khofifah juga menekankan pentingnya regenerasi pelaku seni Reyog sebagai kunci keberlanjutan budaya. Menurutnya, eksistensi Reyog tidak akan bertahan tanpa adanya generasi baru yang terus belajar, berlatih, dan mengembangkan kesenian ini.

Regenerasi ini juga menjadi bagian penting dalam menjaga identitas budaya yang kini telah dikenal secara luas, termasuk dalam upaya pengakuan internasional seperti UNESCO. Dengan kata lain, keberlanjutan Reyog tidak hanya bergantung pada pelestarian tradisi, tetapi juga pada adaptasi dan keterlibatan generasi muda.

Dalam kesempatan yang sama, Evy menjelaskan berbagai langkah yang telah dilakukan untuk memperkuat ekosistem Reyog. Pemprov Jatim menggandeng berbagai institusi pendidikan seperti Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW), SMK 12 Surabaya, dan Universitas Negeri Surabaya.

Selain itu, kolaborasi juga dilakukan dengan sanggar-sanggar seni Reyog untuk mendukung pelatihan hingga pengembangan kreativitas. Upaya ini bertujuan menciptakan ekosistem yang berkelanjutan, mulai dari pembinaan talenta hingga inovasi dalam pertunjukan.

Selain regenerasi, aspek keberlanjutan juga menjadi perhatian penting dalam pengembangan Reyog. Salah satunya terkait penggunaan material dalam properti pertunjukan yang selama ini melibatkan unsur satwa.

Evy menjelaskan pihaknya tengah menjajaki kerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk pengembangbiakan burung merak Jawa. Langkah ini dilakukan sebagai solusi atas keterbatasan material sekaligus memastikan bahwa praktik kesenian tetap memperhatikan prinsip animal welfare.




(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads