Kunang-kunang, hewan pemendar cahaya saat malam seolah mulai hilang dari pandangan. Sejak dunia mulai modern, tidak ada lagi lampu alami yang menghiasi tepi sawah maupun halaman rumah.
Jadi, apakah benar kunang-kunang perlahan 'pergi', dan kita menjadi generasi terakhir yang melihatnya? Mengutip The Guardian, para ilmuwan memang menempatkan kunang-kunang dalam daftar serangga yang terancam punah.
Sebab, populasi mereka terus menurun dengan rincian puluhan spesies masuk kategori terancam punah. Sementara lainnya berpotensi menyusul karena kerusakan habitat dan perubahan lingkungan yang terus berlangsung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penyebab Hilangnya Kunang-kunang
Penurunan populasi kunang-kunang tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan dipengaruhi perubahan lingkungan yang terus menerus.
Studi berjudul "The Impact of Environment Situation on Fireflies and the Contribution of Fireflies on Environment Situation (2023)" mengungkapkan, kunang-kunang merupakan spesies yang sangat sensitif terhadap kondisi alam.
Jadi, sedikit gangguan saja bisa berdampak besar pada kelangsungan hidup kunang-kunang. Berikut beberapa pemicu hilangnya kunang-kunang di alam berdasarkan rangkuman detikJatim dari sumber yang sama.
1. Hilangnya Habitat
Perluasan kawasan permukiman, pembangunan komersial, dan berkurangnya area hijau membuat ruang hidup kunang-kunang semakin menyempit. Padahal, kunang-kunang memiliki kemampuan berpindah yang terbatas. Akibatnya, banyak spesies sulit beradaptasi ketika habitatnya rusak, atau bahkan hilang.
Karena sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan dan pencemaran, keberadaan kunang-kunang kerap dijadikan penanda alami atau bioindikator yang efektif untuk menunjukkan kondisi ekologis suatu wilayah secara rinci.
2. Polusi Cahaya
Polusi cahaya turut mempengaruhi kehidupan kunang-kunang. Meski mampu menghasilkan cahaya sendiri, kunang-kunang termasuk serangga dengan sifat fototropik negatif, yang artinya mereka menghindari cahaya selain cahaya alami dari sesama spesiesnya.
Seiring meningkatnya taraf hidup manusia, penggunaan cahaya buatan di malam hari semakin meluas. Meski memberikan kenyamanan bagi manusia, kondisi ini justru berakibat fatal bagi kunang-kunang.
Sumber cahaya lain dapat mengganggu kemampuan mereka mengenali lokasi pasangan, sehingga sulit bagi kunang-kunang jantan untuk menemukan betina.
Hal ini dicatat dalam jurnal "Ecology dan Evolusi (2018)", cahaya buatan mengacaukan kemampuan kunang-kunang dalam berkomunikasi dan mencari pasangan sehingga berdampak pada keberhasilan reproduksi mereka.
3. Pencemaran Air dan Penggunaan Bahan Kimia
Kunang-kunang menyukai area lembap dengan tingkat kelembapan sekitar 90 persen, baik fase larva maupun dewasa. Kondisi tubuh mereka yang relatif rapuh membuat pencemaran air, bahkan pada tingkat yang umum, dapat berujung pada kematian.
Selain itu, kunang-kunang bergantung pada moluska seperti cacing tanah, siput, keong, dan bekicot sebagai sumber makanan.
Organisme-organisme ini sama-sama membutuhkan habitat berkualitas tinggi, sehingga ketika air dan tanah tercemar, rantai makanan kunang-kunang ikut terganggu dan mempercepat penurunan populasinya.
Baca juga: 10 Taman Instagramable di Surabaya |
Cara Menjaga Kunang-kunang yang Tersisa
Menjaga keberadaan kunang-kunang tidak membutuhkan langkah besar. National Geographic Indonesia menyebut, upaya pelestarian dapat dimulai dari lingkungan sekitar melalui kebiasaan sederhana yang berdampak langsung pada habitat mereka.
- Ciptakan habitat ramah kunang-kunang dengan membiarkan serasah daun atau tumpukan kayu di sudut halaman sebagai tempat berlindung larva kunang-kunang.
- Pertahankan kelembapan tanah dengan menanam tanaman hijau dan membiarkan rumput tumbuh sedikit lebih tinggi.
- Kurangi polusi cahaya dengan meminimalkan penggunaan lampu luar ruangan, menggunakan sensor gerak, atau menutup tirai di malam hari.
- Bijak saat berwisata ke habitat kunang-kunang dengan tidak menginjak tanah sembarangan dan menghindari senter terang tanpa filter merah gelap.
- Hentikan penggunaan pestisida dan dukung upaya konservasi bersama komunitas lokal agar ekosistem tetap terjaga.
(irb/hil)
