Khofifah Ungkap Dinamika Global di Forum Jatim Talk yang Digelar BI

Khofifah Ungkap Dinamika Global di Forum Jatim Talk yang Digelar BI

Faiq Azmi - detikJatim
Jumat, 03 Apr 2026 20:20 WIB
Khofifah Soroti Tantangan Global di Jatim Talk, Dorong Hilirisasi dan Investasi
Hadapi Tekanan Global, Khofifah Dorong Penguatan Pangan dan Investasi di Jatim (Foto: Istimewa)
Surabaya -

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah Jawa Timur menggelar seminar Jatim Talk bersama Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Surabaya Koordinator Jawa Timur. Dalam forum itu Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa hadir sebagai salah satu keynote speaker.

Seminar ini mengangkat tema "Sinergi Penguatan Daya Saing Jawa Timur melalui Hilirisasi Komoditas Unggulan dan Iklim Investasi Berkelanjutan". Kegiatan ini juga menjadi bagian dari diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi (LPP) Jawa Timur yang diterbitkan secara triwulanan, sekaligus rangkaian menuju East Java Economic Forum (EJAVEC) 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada September 2026.

Dalam paparannya, Khofifah menyoroti dinamika geopolitik global yang semakin meningkat, khususnya eskalasi konflik di Timur Tengah. Menurutnya, kondisi tersebut menuntut adanya sinergi, kolaborasi, serta langkah adaptif guna menjaga stabilitas dan melanjutkan momentum pertumbuhan ekonomi Jawa Timur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Diketahui, kinerja ekonomi Jawa Timur tetap solid dengan pertumbuhan sebesar 5,33 persen (year on year) pada tahun 2025.

"Hal itu menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan ke depan sekaligus memanfaatkan peluang yang ada," kata Khofifah.

ADVERTISEMENT

Ia menegaskan bahwa ketahanan ekonomi Jawa Timur harus terus diperkuat melalui kerja sama lintas sektor, serta kemampuan beradaptasi dalam menghadapi tantangan dan menangkap peluang di tengah situasi global.

Khofifah juga menekankan peran strategis Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara. Peran ini diwujudkan melalui penguatan kerja sama perdagangan dan investasi antar daerah, percepatan hilirisasi komoditas strategis, serta penciptaan iklim investasi yang kondusif untuk menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi.

"Upaya tersebut didukung melalui hilirisasi lanjutan dari bahan baku olahan, penguatan distribusi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia," ungkapnya.

Lebih lanjut, Khofifah menekankan bahwa sektor pangan menjadi salah satu kunci dalam menghadapi situasi global yang tidak menentu. Jawa Timur saat ini dinilai memiliki ketahanan pangan yang kuat serta menjadi pemasok berbagai bahan pokok ke sejumlah wilayah di Indonesia, bahkan hingga pasar ekspor.

"Kerja sama perdagangan dan investasi antar daerah tentu harus terus diperkuat. Kemudian percepatan hilirisasi komoditas strategis dan penciptaan iklim investasi kondusif itu juga sangat penting," terangnya.

Sebagai salah satu lumbung pangan nasional, Jawa Timur disebut memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas pasokan.

"Dan yang utama adalah Jawa Timur harus terus melakukan penguatan di sektor pangan. Kuncinya lahan di sektor pangan kita pastikan memadai, kemudian penguatan distribusi serta penguatan SDM," tambahnya.

Khofifah juga mengungkapkan bahwa kondisi global saat ini berpotensi memberikan tekanan terhadap perekonomian nasional, termasuk di Jawa Timur. Meski demikian, ia menilai peluang tetap terbuka jika dikelola dengan baik.

"Tekanan tentu ada, tapi kita juga harus tetap melihat peluang. Bahwa peluang tetap terbuka melalui pemanfaatan sumber pertumbuhan baru, penguatan iklim investasi, peningkatan kualitas tenaga kerja, serta dukungan kebijakan strategis yang terarah," jelasnya.

Ia berharap forum Jatim Talk dapat menjadi titik temu para pemangku kepentingan untuk menyamakan persepsi dalam merespons dinamika ekonomi global, termasuk dampak konflik geopolitik.

Dalam kesempatan tersebut, Bank Indonesia Jawa Timur juga menyerahkan buku Laporan Perekonomian Provinsi (LPP) kepada Gubernur Jawa Timur. Buku ini memuat sejumlah rekomendasi kebijakan utama, mulai dari pembangunan dan integrasi distribusi barang, percepatan investasi untuk mendukung hilirisasi industri, termasuk komoditas pertanian unggulan.

Selain itu, terdapat pula rekomendasi terkait penguatan ketahanan pangan dan agribisnis dalam pengendalian inflasi, pengembangan sektor pariwisata, ekonomi syariah, serta UMKM, hingga optimalisasi kredit produktif dan peningkatan pendapatan asli daerah.




(ihc/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads