Memperingati Jumat Agung, Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Roh Kudus Surabaya menggelar aksi teatrikal Jalan Salib Hidup pada Jumat (3/4) pagi. Kegiatan ini tidak sekadar menjadi peragaan kisah sengsara Yesus Kristus, tetapi juga menjadi sarana refleksi iman yang dikaitkan dengan realitas kehidupan sehari-hari.
Jalan Salib Hidup dimulai pukul 07.00 WIB. Sejak awal, suasana hening dan penuh penghayatan terasa, seiring umat mengikuti setiap perhentian yang menggambarkan perjalanan sengsara Kristus.
Keunikan Jalan Salib Hidup tahun ini terletak pada pengemasan visual yang lebih dramatik dan reflektif. Selain menampilkan adegan haru, para pemeran juga menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan, solidaritas, dan kepedulian sosial yang relevan dengan kehidupan masa kini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua panitia Jalan Salib Hidup, Catharina Fiorensa Adinda menjelaskan, konsep Jalan Salib tahun ini sengaja dibuat lebih kontekstual agar umat dapat melihat makna pengorbanan Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
"Melalui Jalan Salib, umat diajak untuk merenungkan perjalanan penderitaan Yesus dari penangkapan hingga penyaliban, sekaligus menyadari bahwa salib kehidupan juga hadir dalam realitas hidup manusia saat ini," ujarnya.
Rangkaian Jalan Salib terdiri dari 14 perhentian yang menyatu dengan lingkungan gereja. Rute dimulai dari area altar, kemudian bergerak menyusuri halaman gereja, area Goa Maria, hingga keluar ke sekitar lingkungan gereja, termasuk area parkir dan jalan kecil di samping kompleks.
Setiap titik perhentian merepresentasikan peristiwa penting dalam kisah sengsara Yesus, mulai dari jatuhnya Yesus, perjumpaan dengan tokoh-tokoh Alkitab, maupun saat Yesus dicemooh dan disiksa dengan cambuk hingga berdarah-darah.
Aksi teatrikal jalan salib di gereja Paroki Roh Kudus Surabaya, Purimas Foto: Raihan Mahendra/ detikjatim) |
Antusias jemaat terlihat saat ikut mengarak Yesus mengelilingi luar gereja. Para umat juga dihadapkan langsung dengan visualisasi peristiwa penyaliban hingga matinya Yesus di kayu salib.
Melalui Jalan Salib Hidup ini, OMK Paroki Roh Kudus Surabaya berharap umat tidak hanya menjadikannya sebagai tradisi tahunan, tetapi sebagai pengalaman iman yang mampu menggerakkan hati untuk lebih peka terhadap sesama.
"Jalan Salib bukan hanya tradisi, tetapi sarana refleksi iman agar umat semakin peka terhadap penderitaan sesama dan mampu hidup dalam kasih, pengorbanan, serta solidaritas," pungkas Catharina.
Kegiatan ini juga mendapat respons emosional dari umat yang mengikuti. Salah satu jemaat, Alicia Stephanie Carlene mengaku tersentuh dengan penghayatan yang ditampilkan para pemeran.
"Jalan Salib tahun ini terasa lebih hidup. Penghayatan para pemerannya sangat kuat. Saya tadi sempat menangis di beberapa bagian, terutama saat adegan penyaliban," ungkapnya.
Ia juga berharap umat Katolik dapat meluangkan waktu untuk terlibat dalam perayaan Jumat Agung di tengah kesibukan sehari-hari.
"Semoga umat bisa lebih aktif menghayati Jumat Agung, meskipun banyak kegiatan. Setidaknya menyediakan waktu untuk merenungkan maknanya," tambahnya.
Jemaat Paroki Roh Kudus lainnya, Mira Oktini menilai, Jalan Salib Hidup menjadi cara nyata untuk menghayati iman, bukan sekadar menyaksikan kisah sengsara melalui media.
"Dengan mengikuti langsung Jalan Salib seperti ini, kita bisa lebih menghayati pengorbanan Yesus yang sungguh luar biasa. Dan supaya kita bisa mengerti bahwa Yesus itu benar-benar menyelamatkan manusia sampai berkorban penuh," ujarnya.
(ihc/hil)












































