Harga Kresek Naik Ugal-Ugalan, Pedagang Kecil Mulai Sambat

Harga Kresek Naik Ugal-Ugalan, Pedagang Kecil Mulai Sambat

Anastasia Trifena - detikJatim
Kamis, 02 Apr 2026 13:33 WIB
Sejumlah pedagang mengeluhkan kenaikan harga plastik yang berdampak pada menurunnya omzet hasil dagangan mereka
Pedagang Es Teh sambat soal harga kenaikan cup plastik. (Foto: Anastasia Trifena/ detikjatim)
Surabaya -

Kenaikan harga plastik imbas perang AS-Iran bukan lagi sekadar angka di nota belanja. Bagi para pedagang kecil, lonjakan ini menjadi beban tersendiri karena biaya kemasan biasanya tidak masuk dalam perhitungan harga jual.

Kondisi ini dialami Sujayanto, pedagang es teh di Surabaya. Harga plastik kemasan yang biasa dibelinya kini naik hampir dua kali lipat.

"Biasanya beli plastik satu pak Rp12.000, sekarang Rp20.000. Mulai akhir-akhir ini naiknya," ucapnya saat ditemui detikJatim, Rabu (1/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski demikian, ia memilih tidak menaikkan harga es teh. Sujayanto rela keuntungannya tergerus demi mempertahankan pelanggan.

"Mau naik (harga) nggak enak sama langganan," ujar pria yang sudah berambut putih itu sembari tersenyum tipis.

ADVERTISEMENT

Kenaikan harga plastik juga membuatnya lebih berhati-hati saat kulakan. Ia kini hanya membeli plastik secukupnya dan menggunakannya seperlunya. Misalnya, kantong kresek hanya diberikan kepada pembeli yang membeli lebih dari satu minuman.

"Jadi sementara kalau orang beli satu es teh nggak saya kasih kresek, kalau beli dua baru saya kasih kresek," tutup Sujayanto.

Tak jauh dari kedai es teh tersebut, pedagang ubi cilembu juga merasakan dampak serupa. Bahkan, kenaikan biaya terjadi secara beruntun seperti efek domino. Tidak hanya plastik, harga minyak hingga ongkos kirim turut mengalami kenaikan.

"Saya akhirnya menaikkan harga keripik mbak. Jadi Rp20.000. Kalau ubi, Alhamdulillah masih ketutup, masih Rp25.000 harganya. Sedangkan lapak ubi lainnya sudah Rp27.000," ujar pedagang ubi cilembu tersebut.

Sejumlah pedagang mengeluhkan kenaikan harga plastik yang berdampak pada menurunnya omzet hasil dagangan merekaSejumlah pedagang mengeluhkan kenaikan harga plastik yang berdampak pada menurunnya omzet hasil dagangan mereka (Foto: Anastasia Trifena/ detikjatim)

"Soalnya plastik paling kecil buat kemasan per kilo naik Rp2.000, minyak yo naik, naik semua mbak," imbuhnya.

Beban tidak berhenti di situ. Biaya distribusi ubi yang dikirim langsung dari Jawa Barat juga ikut membengkak.

"Ekspedisi yang mahal kalau telo (ubi), karena dikirim dari Jawa Barat. Biasanya 4,5 juta jadi 5 juta," ucapnya.

Meski dihimpit kenaikan biaya dari berbagai sisi, ia tetap berupaya menjaga harga jual agar tidak terlalu membebani pelanggan setianya.

Keluhan serupa juga datang dari pedagang di luar Surabaya. Agung, pemilik toko sembako di Jombang, mengaku mengalami hal yang sama.

"Plastik naik ugal-ugalan. Kemarin baru beli, biasanya Rp7.500 per pak, saiki Rp9.000 merk Beko," ujar Agung.

Kenaikan ini membuatnya turut menghemat penggunaan plastik seperti yang dilakukan Sujayanto. Salah satunya untuk barang seperti telur yang dibungkus lebih dari satu lapis.

"Sementara ini kalau orangnya nggak minta kresek, nggak kami kasih. Terus kalau orang beli telur kan biasanya didobeli dua kresek karena takut pecah. Nah sekarang kalau nggak minta, ya cuma dikasih satu kresek aja," tuturnya.

Menurutnya, plastik selama ini dianggap sebagai fasilitas bagi pembeli dan bukan bagian dari harga pokok penjualan. Kondisi tersebut membuat para pedagang harus memutar otak agar tidak merugi.

Untuk sementara, para pedagang memilih menyesuaikan penggunaan plastik sembari memantau perkembangan ke depan. Mereka berharap harga bisa segera stabil agar tidak terus menambah beban usaha kecil.



(ihc/dpe)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads