Sampah makanan masih menjadi persoalan besar di berbagai kota, termasuk Surabaya. Melihat kondisi itu, sekelompok anak muda menjalankan misi sosial dengan menyelamatkan makanan berlebih agar tidak terbuang sia-sia melalui komunitas Garda Pangan.
Garda Pangan merupakan komunitas sekaligus social enterprise yang bergerak di bidang penyelamatan makanan berlebih atau food rescue. Ketua Yayasan Garda Pangan Kevin menjelaskan komunitas ini berdiri sejak 2017 di Surabaya.
Lahirnya Garda Pangan dipunggawai oleh tiga orang, Eva Bachtiar, Dedhy Trunoyudho, dan Indah Audivtia. Selaku CEO, Eva memiliki perhatian besar terhadap isu sampah makanan dan ingin menghadirkan konsep food bank di Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Awalnya Mbak Eva memang fokus banget ke isu sampah makanan. Dia ingin membuka food bank di Indonesia," kata Kevin kepada detikJatim.
Garda Pangan sempat berencana memperluas kegiatan ke Malang. Namun, rencana itu tertunda akibat pandemi COVID-19 sehingga hingga kini aktivitas masih difokuskan di Surabaya.
Kegiatan utama Garda Pangan adalah food rescue, yakni 'menyelamatkan' makanan berlebih (surplus) yang masih layak konsumsi untuk kemudian didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Dilakukan setiap hari Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu dengan rata-rata pelaksanaan kurang lebih 5 jam dan 8 jam pada hari Minggu.
Setiap makanan yang diterima tidak langsung dibagikan. Tim terlebih dahulu melakukan proses penyortiran untuk memastikan kualitasnya.
Ada standar pengecekan khusus yang disebut SOP organoleptik. Pemeriksaan dilakukan melalui beberapa tahap, mulai dari melihat kondisi fisik makanan, mencium aromanya, hingga mencicipinya. Inilah yang disebut organoleptik atau pengujian kualitas produk dengan menggunakan seluruh panca indera manusia untuk memastikan kelayakannya.
"Pertama kita lihat dari fisiknya dulu, ada perubahan warna atau jamur atau tidak. Kedua dari aromanya, apakah ada bau yang tidak seharusnya. Baru terakhir kita lakukan random sampling dengan mencicipi," jelas Kevin.
Komunitas Garda Pangan Foto: Anastasia Trifena/detikJatim |
Jika makanan tidak lolos pemeriksaan, maka tidak akan dibagikan kepada masyarakat. Makanan tersebut akan langsung masuk ke pengolahan sampah milik Garda Pangan.
Makanan yang diselamatkan Garda Pangan berasal dari berbagai sumber. Kevin menyebut, kontribusi terbesar berasal dari supermarket.
Produk dari supermarket biasanya berupa bahan makanan yang kemasannya rusak, bentuknya tidak sempurna, atau mendekati masa kedaluwarsa namun masih aman dikonsumsi. Minimal tujuh hari sebelum tanggal kedaluwarsa saat proses penyortiran.
Industri lain yang bekerja sama dengan Garda Pangan yakni hotel berbintang, bakery, hingga kedai kopi di seluruh wilayah Surabaya maupun Sidoarjo.
Garda Pangan juga kerap melakukan penyelamatan makanan dari acara besar seperti pernikahan atau kegiatan lain yang berpotensi menghasilkan makanan berlebih.
Biasanya informasi mengenai potensi makanan berlebih datang dari masyarakat yang menghubungi Garda Pangan melalui media sosial, terutama Instagram.
"Kami biasanya edukasi juga ke masyarakat. Kalau ada acara yang berpotensi ada makanan berlebih, bisa hubungi kami lewat link di bio Instagram. Nanti tim kami akan datang selepas acara untuk mengambil makanan yang berlebih itu. Tapi kalau semisal makanannya ternyata habis semua juga nggak masalah," ujarnya.
Untuk kasus makanan berlebih dalam jumlah besar, seperti dari pesta pernikahan, Garda Pangan menyimpannya terlebih dahulu di lemari pendingin baru menghangatkan ulang dan mengemas makanan-makanan tersebut di hari Minggu siang pada kegiatan Dapur Umum. Barulah proses distribusi dijalankan pada sore harinya.
Selain menyelamatkan makanan dari kota, Garda Pangan kadang melipir sejenak ke daerah pedesaan untuk melaksanakan gleaning. Program ini merupakan kegiatan penyelamatan hasil panen langsung dari lahan pertanian.
Program ini dilakukan ketika harga komoditas anjlok sehingga petani memilih tidak memanen karena biaya panen lebih besar daripada harga jual. Dalam kondisi tersebut, Garda Pangan bersama relawan membantu memanen hasil pertanian sekaligus menanggung biaya transportasi.
"Kadang harga komoditas bisa turun sangat jauh. Misalnya normalnya Rp 6.000 sampai Rp 8.000 per kilo, tapi bisa anjlok sampai Rp 500 per kilo. Kalau dipanen petani malah rugi karena biaya buruh dan transportasi," kata Kevin.
Melalui program ini, hasil panen yang berpotensi terbuang bisa tetap dimanfaatkan. Lalu kemana perginya makanan dan produk yang selesai disortir? Makanan yang berhasil diselamatkan tidak dibagikan secara acak di jalanan. Garda Pangan memiliki basis data penerima manfaat yang sebagian besar berasal dari kampung prasejahtera.
Saat ini terdapat sekitar 200 kampung yang menjadi target distribusi makanan. Selain itu, bantuan juga disalurkan ke shelter atau tempat singgah bagi masyarakat jalanan.
"Fokus kami memang ke orang-orang yang benar-benar membutuhkan," ujar Kevin.
Namun tidak semua makanan yang diterima bisa diselamatkan. Makanan yang tidak layak konsumsi akan diolah menjadi sampah organik. Garda Pangan memiliki unit pengolahan sampah menggunakan maggot atau larva lalat Black Soldier Fly. Fasilitas pengolahan ini memiliki kapasitas hingga 3 ton sampah organik per hari.
Unit pengolahan sampah tersebut juga menjadi salah satu business unit Garda Pangan yang membantu menopang operasional organisasi. Melalui unit ini, Garda Pangan bekerja sama dengan berbagai pihak seperti hotel dan lembaga lain untuk mengelola sampah organik mereka.
Saat ini, Garda Pangan tercatat bekerja sama dengan sekitar 19 hingga 20 mitra pengelolaan sampah di wilayah Surabaya dan Sidoarjo. Sebagian besar kegiatan Garda Pangan dijalankan oleh relawan. Karena banyak relawan memiliki pekerjaan utama, aktivitas biasanya dilakukan pada sore hingga malam hari.
Relawan terbagi menjadi dua kategori, yaitu public volunteer yang disebut sebagai food heroes, serta relawan inti yang memiliki komitmen lebih dalam operasional.
Nada, salah satu relawan inti Garda Pangan, mengaku pertama kali bergabung sebagai public volunteer pada 2019 setelah diajak oleh teman kuliahnya.
"Awalnya dari public volunteer dulu. Aku first rescue (kegiatan volunter pertama) tahun 2019, diajak teman kuliah yang sudah lebih dulu bergabung," kata Nada.
Seseorang bisa menjadi relawan inti setelah mengikuti kegiatan lebih dari 10 kali dan menjalani proses OJT atau on job training. Saat ini tercatat ada kurang lebih 60 relawan dalam grup Garda Pangan, dengan sekitar 30 hingga 40 orang yang aktif secara rutin membantu kegiatan.
Para relawan biasanya memiliki jadwal masing-masing agar kegiatan dapat tetap berjalan meski mereka memiliki kesibukan lain.
Komunitas Garda Pangan Foto: Anastasia Trifena/detikJatim |
Siapapun bisa menjadi relawan, Garda Pangan selalu membuka pendaftaran setiap hari Sabtu di Instagram @gardapangan. Namun harus cepat! Sebab sistemnya war dan jika kuota terpenuhi pendaftaran otomatis ditutup.
Menurut Nada, sebelum bergabung dengan Garda Pangan ia sebenarnya sudah tertarik pada isu lingkungan. Namun persoalan sampah makanan baru benar-benar dipahaminya setelah terlibat langsung dalam kegiatan komunitas tersebut.
Ia melihat bahwa sampah makanan menjadi salah satu komposisi terbesar di tempat pembuangan akhir (TPA). Di sisi lain, masih banyak masyarakat yang membutuhkan makanan.
"Di satu sisi kita lihat makanan yang terbuang banyak sekali, tapi di sisi lain masih banyak orang yang membutuhkan. Dari situ kelihatan ada masalah yang sebenarnya bisa dihubungkan," ujar Nada.
Karena itu, bagi Nada dan para relawan lainnya, kegiatan di Garda Pangan menjadi cara untuk berkontribusi mengurangi sampah makanan sekaligus membantu masyarakat yang membutuhkan.
(auh/hil)













































