Kisah Wali Songo tidak lepas dari peran besar para ulama dalam menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa. Dari sembilan wali yang dikenal, lima di antaranya mempunyai jejak sejarah kuat di wilayah Jawa Timur.
Kelima Wali Songo tersebut tak hanya dikenal sebagai penyebar agama, tetapi juga tokoh yang piawai dalam merangkul budaya lokal lewat seni, pendidikan, hingga pendekatan sosial, sehingga ajaran Islam dapat diterima masyarakat secara damai dan berkelanjutan.
Deretan Cerita Wali Songo di Jatim
Kelima tokoh ini memiliki peran penting dalam perkembangan Islam di Jawa Timur, dengan pendekatan dakwah yang beragam, mulai dari pendidikan pesantren, seni budaya, hingga kegiatan sosial yang dekat dengan masyarakat. Berikut kisah singkat perjalanan dan kontribusi mereka di berbagai wilayah Jatim.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sunan Giri
Sunan Giri masuk dalam deretan Wali Songo yang menyebarkan agama Islam di Jawa Timur. Ia lahir pada tahun 1443 di Blambangan (Banyuwangi). Ia merupakan anak dari pasangan Maulana Ishaq dan Dewi Sekardadu.
Menurut Babad Tanah Jawi maupun Serat Walisana, Sunan Giri disebut mempunyai garis keturunan Raja Blambangan. Bahkan, nama "Giri' kemudian dipakai sebagai penamaan wilayah tempat tinggalnya di Gresik.
Sunan Giri mempunyai nama asli Muhammad Ainul Yaqin, dan dikenal juga sebagai Raden Paku, Joko Samudro, Abdul Faqih, dan Prabu Satmata.
Salah satu bidang dakwah yang dilakukan Sunan Giri yaitu melalui pendidikan. Sunan giri berdakwah dengan cara mengembangkan sistem pesantren yang diikuti oleh para santri dari berbagai daerah di Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumbawa, Kalimantan, Makassar, Lombok, Sumba, Flores, Ternate, Tidore dan Hitu.
Sunan Ampel
Salah satu dari lima gapuro di Makam Sunan Ampel. Foto Malik Ibnu Zaman. Foto: Malik Ibnu Zaman |
Sunan Ampel atau Raden Rahmat berasal dari Campa, serta disebut-sebut tiba di tanah Jawa pada 1421. Ia lahir di Kerajaan Champa, Vietnam. Ayahnya bernama Ibrahim As-Samarkandi, sementara Ibunya adalah Dewi Chandra Wulan.
Sunan Ampel menjadi salah satu tokoh penting yang menyebarkan agama Islam di wilayah Jawa Timur. Ia juga menjadi sunan pertama di Demak, dan pemimpin asli Wali Songo. Selain itu, ia juga merupakan pembina pondok pesantren pertama di Jawa Timur.
Ia mendirikan Pesantren Ampeldenta dengan tujuan mendidik para penggerak dakwah Islam. Adapun para kader tersebut, yakni Sunan Giri, Raden Patah, Raden Kusen Sunan Bonang, dan Sunan Drajat.
Sunan Ampel turut membangun jaringan keluarga muslim melalui ikatan kekerabatan dengan menikahkan para juru dakwah Islam dengan putri-putri penguasa bawahan Majapahit, sehingga penyebaran ajaran Islam dapat menjangkau berbagai daerah.
Sunan Drajat
Kompleks makam Sunan Drajat. Foto: Eko Sudjarwo/detikJatim |
Sunan Drajat atau Raden Qasim diperkirakan lahir pada tahun 1470 Masehi. Ia merupakan putra bungsu dari pasangan Sunan Ampel dan Nyi Ageng Manila. Diketahui, ia mempunyai garis keturunan Sunan Bonang, yakni berdarah Champa-Samarkandi-Jawa. Sebab, sang ayah merupakan putra Ibrahim Asmarakandi.
Raden Qasim dibesarkan dalam lingkungan keluarga ibunya yang berlatar belakang Jawa, sehingga ia menguasai berbagai ilmu, bahasa, seni, budaya, sastra, serta ajaran agama bercorak Jawa.
Sunan Drajat menetap di kawasan Drjat yang kini masuk wilayah Kabupaten Lamongan, tak jauh dari kawasan Wisata Bahari Lamongan (WBL). Ia juga menyebarkan agama Islam di wilayah Lamongan dan sekitarnya.
Sunan Drajat disebut mudah dipahami cara dakwahnya karena menggunakan metode yang sederhana. Selain itu, Sunan Drajat dikenal menggubah beberapa tembang macapat langgam pangkur. Salah satu ajarannya yang terkenal sebagai berikut.
"Memehono teken marang wong kang wuto, menehono mangan wong kang luwe, menehono busono wong kang wudo, menehono ngiyup wong kang kodanan". (Berilah tongkat kepada yang buta, berilah makan kepada yang lapar, berilah pakaian kepada yang telanjang, dan berilah tempat berteduh kepada yang kehujanan)
Sunan Bonang
Makam Sunan Bonang Tuban. Foto: Ainur Rofiq/detikJatim |
Salah satu Wali Songo yang berasal dari daerah Jawa Timur adalah Sunan Bonang. Pemilik nama asli Syekh Maulana Makdum Ibrahim ini merupakan putra dari Sunan Ampel dan Dewi Condrowati (Nyai Ageng Manila).
Tempat dan tanggal lahirnya tidak diketahui secara pasti, namun para sejarawan memperkirakan bahwa Sunan Bonang lahir di Desa Bonang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur sekitar tahun 1465.
Nama "Bonang" pada gelarnya dipercaya berasal dari Desa Bonang, tempat ia tinggal. Sementara ada juga yang berpendapat nama tersebut berasal dari alat musik tradisional Jawa yang bernama bonang.
Konon penciptanya merupakan Raden Makdum. Karena alat musik tersebut ditemukan dan berkembang di kawasan tersebut, wilayah itu kemudian dikenal dengan sebutan Bonang.
Sunan Bonang menyebarkan ajaran Islam dengan menyesuaikan diri dengan kebudayaan masyarakat Jawa yang gemar wayang dan musik gamelan. Ia menciptakan gending-gending bernuansa keislaman yang setiap baitnya terselip dua kalimat syahadat. Dari sinilah musik gamelan tersebut dikenal dengan istilah sekaten.
Sunan Gresik
Sunan Malik Ibrahim di Gresik, Jawa Timur Foto: Imam Wahyudiyanta |
Sunan Gresik atau Syekh Maulana Malik Ibrahim juga dikenal dengan nama Maulana Maghribi (Syekh Maghribi). Ia diperkirakan lahir pada abad ke-14, meski hingga kini belum diketahui secara pasti tempat dan tahun kelahirannya.
Dalam menyebarkan ajaran Islam, Sunan Gresik datang ke Jawa melalui jalur perairan sambil berdagang. Ia pertama kali mendarat di Desa Sembalo, yang lokasinya tidak jauh dari Desa Leran, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, atau sekitar 9 kilometer di utara Kota Gresik.
Mengutip laman resmi UKM UM berdasarkan catatan Babad Gresik I, pada abad ke-14 Syekh Maulana Malik Ibrahim menggunakan dua metode dakwah dalam proses Islamisasi di Gresik, yakni melalui perdagangan dan pendidikan pesantren.
Dalam praktiknya, ia membangun masjid pertama di Desa Pasucinan Manyar. Aktivitas perdagangan awalnya dilakukan di area terbuka dekat pelabuhan yang dikenal sebagai Desa Rumo, kawasan permukiman orang Rum. Cara ini dipilih agar dakwah yang dilakukan tidak mencolok dan lebih mudah diterima masyarakat setempat.
Selain itu, Sunan Gresik juga mengembangkan dakwah melalui jalur pendidikan dengan mendirikan pesantren di Desa Gapura. Pesantren ini bertujuan mencetak pemimpin umat sekaligus penyebar ajaran Islam di wilayah Kerajaan Majapahit yang saat itu tengah mengalami kemunduran akibat konflik internal.
(dpe/irb)















































