Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak memastikan langkah antisipasi terjadinya cuaca ekstrem di Jawa Timur melalui skema Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pada periode puncak arus mudik Idul Fitri 1447 Hijriyah. Upaya ini dilakukan untuk mengendalikan intensitas curah hujan agar mobilitas masyarakat selama arus mudik tetap lancar dan aman.
Emil menghadiri langsung rapat briefing OMC dalam rangka Penanganan Bencana Hidrometeorologi. Koordinasi tersebut difokuskan pada kesiapan pelaksanaan OMC, termasuk penentuan strategi, titik operasi, serta koordinasi lintas instansi guna mengantisipasi potensi cuaca ekstrem khususnya periode mudik.
Emil menyebut OMC telah berlangsung sejak 16 hingga 26 Maret 2026. Maka, berdasarkan data empiris dari BMKG, pelaksanaan OMC mampu menurunkan intensitas hujan sangat lebat hingga sekitar 74% dari prediksi, menjadi hujan dengan intensitas ringan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ibu Gubernur telah memulai OMC sebetulnya sudah lama. Kemudian melihat perkembangan cuaca, kerawanan instensitas pergerakan masyarakat dimomen lebaran ini maka sejak tanggal 16 hingga 26 Maret dilakukan operasi modifikasi cuaca," kata Emil didampingi Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto di Base Ops Lanudal Juanda, Kamis (19/3/2026).
Secara khusus, Emil menyampaikan, periode mudik tahun ini diperkirakan bertepatan dengan peningkatan kejadian cuaca ekstrem yang bisa memicu bencana hidrometeorologi di Jawa Timur. Untuk itu dirinya memastikan supaya OMC bisa meminimalkan risiko gangguan akibat hujan lebat, terutama pada jalur-jalur utama transportasi.
"Ini bagian dari ikhtiar dengan memanfaatkan science, ada data empirisnya di BMKG, bagaimana intensitas hujan sangat lebat berkurang menjadi minus 74 persen dari prediksi. Setelah OMC, berubah menjadi curah hujan intensitas ringan. Secara ilmiah ini berdampak, tetapi dengan mawas diri semua bergantung kepada Tuhan," katanya.
Emil menilai OMC merupakan upaya yang tidak banyak dilakukan oleh Pemerintah Daerah. Karenanya ia menyebut Jawa Timur sebagai salah satu provinsi yang sangat proaktif terhadap rekayasa cuaca terlebih saat intensitas pergerakan masyarakat tinggi khususnya saat libur Lebaran.
"Kita kedatangan 20 juta lebih pemudik yang masuk ke Jawa Timur. Yang pergi banyak, tapi yang datang juga banyak. Ini intensitas pergerakan tinggi, maka kemaslahatan masyarakat yang harus kita jaga," imbuhnya.
Lebih lanjut Emil mengatakan, OMC dioperasikan sebanyak 2 rute dalam sehari. OMC dilakukan dengan fokus di wilayah yang menjadi prioritas utama untuk menghindarkan bencana hidrometeorologi yang berdampak besar.
"Kami datang menyaksikan betul profesionalme dari BMKG dan semua mitra lintas sektor. Ini memang dipetakan, di Jawa Timur itu ada 74 zona musim, lalu kita harus memilih mana yang menjadi prioritas utama untuk menghindarkan bencana yang bisa berdampak besar," tambahnya.
"Sehingga yang dilakukan teman-teman itu menyasar dimana titik-titik pembentukan awan yang sangat lebat berdasarkan citra satelit. Itu yang dicari," imbuhnya.
Kemudian, lanjut Emil, penentuan titik wilayah dengan curah hujan intensitas lebat hingga ekstrem didasarkan pada dua kriteria antara lain intensitas dari hujan itu sendiri dan kerawanan tempat dibawahnya.
"Berdasarkan dua kriteria, intensitas dari hujan itu sendiri dan kerawanan tempat di bawahnya. Jadi misalnya intensitas hujannya tinggi dan daerah di bawahnya rawan longsor, maka itu akan ditarget," terangnya.
"Misalnya hari ini ada dua titik salah satunya di kawasan Mojokerto. Ada juga sasarannya hari ini di Jawa Timur bagian tengah," jelasnya.
Kalaksa BPBD Jatim Gatot menambahkan OMC dilakukan selama 10 hari sejak 16 Maret lalu dalam rangka menekan cuaca ekstrem saat momen mudik Lebaran 2026 di Jatim.
"Jadi sudah ada 7 sorti garam dan kapurnya yang sudah kami sebar yakni di Banyuwangi, Situbondo, Jombang, Selatan Malang dan pada hari Kamis ini khusus dilakukan sorti di area Mojokerto," jelas Gatot.
Sementara Kepala BMKG Juanda Taufiq Hermawan mengatakan rekayasa cuaca direncanakan berlangsung selama mulai 16 hingga hingga 26 Maret 2026 dilakukan sebagai langkah preventif agar intensitas hujan di jalur-jalur utama mudik dapat terkendali.
"Kami terus memantau perkembangan cuaca, manakala ada kondisi yang signifikan penambahan curah hujan maka kami rekomendasikan untuk pelaksanaan OMC," kata Taufiq.
"Sehingga masyarakat bisa merayakan lebaran dengan aman, nyaman sehingga ancaman bencana hidrometeorologi basah bisa diminimalisir atas upaya kerja sama Pemprov Jatim dan stakeholders terkait lainnya," pungkasnya.
(auh/abq)
