Amalan yang Bisa Dilakukan Wanita Haid di Akhir Ramadhan

Amalan yang Bisa Dilakukan Wanita Haid di Akhir Ramadhan

Muhammad Faishal Haq - detikJatim
Selasa, 17 Mar 2026 20:00 WIB
Ilustrasi amalan wanita haid di akhir Ramadhan.
Ilustrasi amalan wanita haid di akhir Ramadhan. Foto: Getty Images/iStockphoto/trumzz
Surabaya -

Menjelang berakhirnya bulan Ramadhan, umat Islam biasanya semakin giat memperbanyak ibadah untuk meraih pahala di hari-hari terakhir. Namun, bagi sebagian perempuan, datangnya haid di penghujung Ramadhan kerap menimbulkan rasa sedih karena tidak bisa menjalankan puasa, Tarawih, atau berburu Lailatul Qadar.

Padahal dalam Islam, kondisi tersebut bukan berarti pintu ibadah tertutup sepenuhnya. Meski sedang berhalangan, muslimah tetap memiliki banyak kesempatan untuk meraih pahala di akhir Ramadhan melalui berbagai amalan lain yang juga bernilai besar di sisi Allah SWT.

Hukum Puasa bagi Wanita Haid dalam Islam

Berdasarkan keterangan di laman MUI Digital, menstruasi adalah kondisi khas yang dialami hampir semua perempuan. Menstruasi terjadi ketika lapisan rahim meluruh sehingga darah keluar dari uterus. Umumnya kondisi ini berlangsung sekitar 5-7 hari dengan siklus antara 28-35 hari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam Al-Qur'an, haid disebut dengan istilah adza, yaitu sesuatu yang menimbulkan rasa tidak nyaman, namun bukan termasuk penyakit. Pada masa haid, perempuan dibebaskan dari kewajiban sholat dan tidak diperkenankan berpuasa. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam sabda Rasulullah SAW:

أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ ، وَلَمْ تَصُمْ فَذَلِكَ نُقْصَانُ دِينِهَا

ADVERTISEMENT

Artinya: Bukankah apabila si wanita haid, ia tidak shalat dan tidak pula puasa? Itulah kekurangan agama si wanita. (HR Bukhari No 1951 dan Muslim No 79)

Perempuan yang sedang mengalami haid atau nifas memang tidak diperkenankan menjalankan puasa dan sholat. Kondisi ini sering kali menimbulkan rasa sedih, karena mereka tidak dapat melaksanakan ibadah wajib seperti biasanya, terutama di bulan Ramadan.

Namun dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Sayyidah Aisyah RA pernah mengalami hal serupa ketika hendak menunaikan ibadah haji. Saat itu ia bahkan menangis karena datangnya haid.

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، قَالَ: سَمِعْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ القَاسِمِ، قَالَ: سَمِعْتُ القَاسِمَ بْنَ مُحَمَّدٍ، يَقُولُ: سَمِعْتُ عَائِشَةَ تَقُولُ: خَرَجْنَا لَا نَرَى إِلَّا الحَجَّ، فَلَمَّا كُنَّا بِسَرِفَ حِضْتُ، فَدَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا أَبْكِي، قَالَ: مَا لَكِ أَنُفِسْتِ؟ قُلْتُ: نَعَمْ، قَالَ: إِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ، فَاقْضِي مَا يَقْضِي الحَاجُّ، غَيْرَ أَنْ لَا تَطُوفِي بِالْبَيْتِ

Artinya: Menceritakan kepadaku Ali bin Abdilah, ia berkata: "Menceritakan kepadaku Sufyan, ia berkata: "Aku mendengar Abdurrahman bin Al-Qasim berkata: "Aku mendengar Al-Qasim bin Muhammad berkata: "Aku mendengar Aisyah berkata: "Kami keluar untuk melaksanakan haji. Ketika kami sampai di daerah Sarifa aku mengalami menstruasi." Kemudian Nabi Muhammad saw mendatangiku sedang aku dalam keadaan menangis. Nabi Muhammad berkata: "Kenapa kamu, apakah kamu haid?" Aku menjawab: "Iya". Nabi Muhammad kemudian bersabda: "Itu adalah ketetapan yang telah digariskan oleh Allah kepada perempuan, tunaikanlah apa yang ditunaikan oleh orang yang berhaji selain thawaf. (HR Al-Bukhari)

Hadis ini menjadi landasan bahwa meskipun terdapat larangan tertentu seperti sholat, puasa, dan menyentuh mushaf, perempuan yang sedang haid tetap dapat melakukan berbagai bentuk ketaatan lainnya. Bahkan, menaati larangan tersebut juga termasuk bentuk ibadah dan kepatuhan kepada Allah SWT.

Amalan Pengganti Puasa untuk Wanita Haid

Meski tidak bisa menjalankan puasa dan sholat, wanita yang sedang haid tetap memiliki banyak jalan untuk meraih pahala, terutama di hari-hari terakhir Ramadhan menjelang Idul Fitri. Berikut beberapa amalan yang bisa dilakukan.

1. Bersedekah

Sedekah adalah amalan yang paling fleksibel dan tidak memerlukan syarat suci dari hadas. Di bulan biasa saja sedekah memiliki keutamaan luar biasa, apalagi di bulan Ramadhan. Allah SWT menjanjikan balasan berlipat ganda bagi mereka yang menyisihkan hartanya, sebagaimana termaktub dalam surat Al-Baqarah ayat 261:

مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمۡوَٰلَهُمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتۡ سَبۡعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنۢبُلَةٖ مِّاْئَةُ حَبَّةٖۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

Artinya: Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui (QS Al-Baqarah: 261).

Sedekah tidak harus selalu berupa uang dalam jumlah besar. Berbagi takjil di jalan, menyumbang ke kotak amal masjid, atau sekadar berbagi air mineral pun sudah dicatat sebagai amal saleh.

2. Memberi Makan Orang yang Berbuka Puasa

Bagi ibu rumah tangga atau anak kos sekalipun, menyiapkan hidangan berbuka adalah ladang pahala raksasa. Rasulullah SAW memberikan motivasi khusus bagi siapa saja yang memberi makan orang yang berpuasa. Dalam hadis riwayat At-Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الجُهَنِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ، غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

Artinya: Dari Zaid bin Khalid Al-Juhani, ia berkata, Rasulullah saw bersabda: "Barang siapa yang memberi makanan kepada orang untuk berbuka puasa, maka ia mendapatkan pahala sesuai orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikitpun". (HR At-Tirmidzi)

Bayangkan jika menyiapkan makanan untuk satu keluarga atau teman-teman satu asrama, pahala puasa mereka juga akan mengalir tanpa mengurangi jatah pahala mereka sedikitpun.

3. Memperbanyak Zikir

Mulut yang sedang tidak bisa melafalkan ayat Al-Qur'an (karena larangan membaca mushaf bagi sebagian mazhab saat haid), bisa diganti dengan basah lidah oleh zikir. Amalan ini bisa dilakukan kapan saja, saat memasak, di perjalanan, atau saat istirahat kerja.

Kalimat thayyibah seperti tasbih (Subhanallah), tahmid (Alhamdulillah), tahlil (Laa ilaha illallah), dan takbir (Allahu Akbar) memiliki bobot timbangan amal yang berat di sisi Allah. Rasulullah SAW bersabda dalam riwayat Imam Muslim:

: [ يسبح مائة تسبيحة فيكتب له ألف حسنة أو يحط عنه ألف خطيئة ] رواه مسلم

Artinya: Bertasbih 100 kali maka ditulislah untuknya 1000 kebaikan atau dihapus darinya 1000 kesalahan. (HR Imam Muslim)

4. Menuntut dan Mengajarkan Ilmu

Masa haid adalah waktu untuk memperdalam khazanah keislaman. Mendengarkan kajian agama, membaca buku-buku sirah (sejarah Nabi), atau menyimak tafsir melalui podcast dan YouTube termasuk kategori Tholabul 'Ilmi. Syekh Abu Laits Nasr bin Muhammad As-Samarqandi dalam kitab Tanbihul Ghafilin menyebutkan:

وَعَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ، قَالَ: تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ فَإِنَّ تَعَلُّمَهُ حَسَنَةٌ، وَطَلَبَهُ عِبَادَةٌ، وَمُذَاكَرَتَهُ تَسْبِيحٌ، وَالْبَحْثُ عَنْهُ جِهَادٌ وَتَعْلِيمَهُ مَنْ لَا يَعْلَمَهُ صَدَقَةٌ، وَبَذْلَهُ لِأَهْلِهِ قُرْبَةٌ

Artinya: Dari Muadz bin Jabal ra berkata," Belajarlah ilmu pengetahuan, sebab sesungguhnya belajar merupakan kebaikan, mencarinya merupakan ibadah, menelaahnya merupakan tasbih, mengkajinya merupakan jihad, mengajarkannya kepada yang belum tahu merupakan sedekah dan menyerahkannya kepada ahlinya merupakan amal yang dapat mendekatkan kepada Allah". (As-Samarqandi, Tanbihul Ghafilin, [Beirut, Dar Ibnu Katsir: 2000], halaman 429)

5. Melakukan Kerja Sosial

Bulan Ramadhan adalah bulan kepedulian. Kerja sosial (khidmah) untuk membantu orang lain adalah wujud nyata dari kesalehan sosial. Bentuknya bisa sangat beragam.

Mulai dari membantu orang tua membersihkan rumah, terlibat dalam kepanitiaan bakti sosial, hingga sekadar menyingkirkan duri atau sampah dari jalan. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Maidah ayat 2:

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰۖ وَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِۚ

Artinya: Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. (QS Al-Maidah: 2)

6. Memperbanyak Doa

Doa adalah senjata orang mukmin yang tidak memiliki batasan waktu dan kondisi suci. Wanita haid bebas berdoa dengan bahasa apapun dan meminta apapun kepada Allah SWT. Salah satu momen krusial adalah memburu Lailatul Qadar.

Meski tidak bisa sholat malam, wanita haid tetap bisa bangun di sepertiga malam terakhir untuk memanjatkan doa. Doa yang sangat dianjurkan Rasulullah SAW, khususnya di malam-malam ganjil akhir Ramadhan adalah sebagai berikut.

اللهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ، فَاعْفُ عَنِّي

Artinya: Ya Allah, Engkau Maha Pengampun yang menyukai orang yang meminta ampunan, karenanya ampuni lah aku.

Berbagai amalan tersebut menjadi pengingat bahwa ibadah tidak hanya terbatas pada puasa dan sholat. Bahkan, di penghujung Ramadhan sekalipun, perempuan yang sedang haid tetap memiliki kesempatan luas untuk meraih pahala melalui berbagai bentuk kebaikan.

Karena itu, datangnya haid menjelang Lebaran tidak perlu disikapi dengan kesedihan berlebihan. Justru momen tersebut dapat dimanfaatkan untuk tetap mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui sedekah, doa, zikir, hingga membantu sesama.

Artikel ini ditulis Muhammad Faishal Haq, peserta magang PRIMA Kemenag di detikcom.




(hil/irb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads