Ada sebuah kegiatan keagamaan yang rutin digelar untuk ragam disabilitas di Surabaya. Namanya Ngaji Braille yang tak hanya diikuti tunanetra, tetapi juga merangkul tunarungu, tunadaksa hingga down syndrome.
Dari pantauan detikJatim, kegiatan Ngaji Braille diikuti puluhan orang dengan ragam disabilitas seperti tunanetra, tunarungu, tunadaksa, hingga down syndrome. Ada pula beberapa teman hingga orang tua yang ikut mendampingi mereka.
Para tunanetra terlihat membaca Al-Qur'an menggunakan huruf braille. Beberapa di antaranya sudah mahir, sementara lainnya masih belajar meraba huruf demi huruf. Selain membaca Al-Qur'an, kegiatan juga diisi kajian dan diskusi bersama ustaz. Suasana pun semakin hidup dengan penampilan jingle musik akustik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pembina Kerohanian Komunitas Ngaji Braille, Arif Hadi Umam mengatakan, kegiatan ini dimulai sejak 2014 yang awalnya diikuti tunanetra.
"Ngaji braille ini mulai 2014, awalnya peserta ngaji pertama adalah teman tunanetra, setelah berjalan, awalnya ngaji membetulkan bacaan kemudian ada diskusi kecil-kecil begitu," ujar Arif kepada detikJatim, Minggu (8/3/2026).
Arif menyebut, mulanya kegiatan ini diinisiasi Almarhum Gandi Wicaksono, pegiat komunitas disabilitas yang kemudian menggagas Ngaji Braille.
"Nah almarhum Pak Gandi Wicaksono pendiri Ngaji kemudian punya ide, ustaz ini bagaimana kalau teman-teman tunanetra kita kumpulkan untuk event kebetulan, ada event seperti Isra Mi'raj, kami kumpul awalnya tunanetra semua, kemudian ada temanya, ada tanya jawab," tuturnya.
Antusiasme yang tinggi membuat kegiatan ini mulai merangkul ragam disabilitas lainnya. Hingga akhirnya kegiatan ini rutin digelar dua kali dalam tiap bulan.
Ngaji Braille yang merangkul ragam disabilitas di Surabaya Foto: Aprilia Devi/detikJatim |
"Setelah kemudian antusias, akhirnya almarhum punya gagasan bagaimana kalau ini bukan hanya tunanetra saja, tapi mengundang beberapa komunitas yang lain, disabilitas yang lain maka kemudian kami mulai mengundang teman-teman tunarungu, kemudian tunadaksa, termasuk down syndrome," lanjutnya.
Dalam satu kali pertemuan, jumlah peserta ternyata cukup banyak.
"Di satu kali pertemuan Ngaji Braille bisa 30-50 disabilitas yang hadir. Ada yang beberapa datang sudah mahir membaca Al-Qur'an, ada yang baru memulai," beber Arif.
Konsep kajian pun berkembang, tak hanya fokus pada pembetulan bacaan Al-Qur'an.
"Kajian kita itu kan tidak, mengkhususkan untuk membaca saja, walaupun awalnya dulu waktu didirikan pertama itu memang keduanya untuk membaca Al-Qur'an dan dibetulkan bacaannya," katanya.
Agar tak terbebani, ada pula sesi diskusi untuk merangkul peserta yang hadir. Pertanyaan yang muncul dalam sesi diskusi pun beragam, termasuk dari orang tua peserta.
"Ada beberapa kekhawatiran mereka yang jadi diskusi dalam kajian. Ada yang dari orang tua misalnya anaknya yang down syndrome itu bagaimana cara mereka beribadah," ungkap Arif.
Secara umum, kajian ini mengajak peserta dengan ragam disabilitas untuk mensyukuri hidup. Namun, dalam tiap sesi, menurut Arif, pertanyaan peserta pun semakin berkembang dan progresif.
"Misalnya bagaimana pandangan Islam terhadap hubungan dengan lawan jenis. Jadi mereka tidak lagi mempertanyakan bagaimana takdir Tuhan tentang saya yang kurang itu hampir tidak ada pertanyaan seperti itu," imbuhnya.
Dalam pelaksanaannya, ia menambahkan, tantangan juga muncul, terutama saat mendampingi tunarungu. Komunikasi dibantu dengan teknologi berupa laptop yang mengubah suara menjadi teks.
"Kalau Tunanetra enggak ada masalah ya, karena mereka ini kan mengerti intonasi ya. Jadi misalnya kita marah, tersinggung mereka tahu. Tapi kalau teman Tunarungu ini agak sulit karena mereka tidak mengerti intonasi," jelasnya.
Bagi Arif, kegiatan ini juga memiliki makna personal. Ia memiliki anak tunarungu yang menjadi spirit tersendiri dalam pengabdiannya. Ia menyadari kondisi anaknya sekitar 2013. Awalnya sulit untuk menerima hal tersebut, namun pertemuan dengan komunitas disabilitas perlahan mengubahnya.
"Tapi setelah saya kumpul dengan teman-teman ini, saya menyaksikan bahwa saya bukan satu-satunya orang tua yang punya problem seperti itu," kata dia.
Pengalaman tersebut menjadi penguat sekaligus penyemangat bagi Arif untuk terus mendampingi teman-teman disabilitas melalui Ngaji Braille. Dirinya juga menegaskan prinsip utama kegiatan ini adalah mendorong kemandirian dan kesetaraan.
"Perlakukan teman-teman disabilitas itu seperti layaknya orang normal. Di sini kita mengajari teman-teman disabilitas untuk mandiri, tidak bergantung, tidak merepotkan," pungkasnya.
(irb/hil)












































