Malam Nyepi: Makna Ngerupuk, Ogoh-ogoh dan Tradisinya

Malam Nyepi: Makna Ngerupuk, Ogoh-ogoh dan Tradisinya

Chilyah Auliya - detikJatim
Sabtu, 07 Mar 2026 21:30 WIB
Suasana pawai ogoh-ogoh di Semarang, Sabtu (26/4/2025).
Suasana pawai ogoh-ogoh. Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikJateng
Surabaya -

Bagi yang pernah menginjakkan kaki di Pulau Dewata sehari sebelum hari raya Nyepi, pasti merasakan atmosfer yang sangat kontras. Jika keesokan harinya Bali akan sunyi senyap tanpa aktivitas, malam sebelumnya justru dipenuhi keriuhan obor, dentuman gamelan, serta arak-arakan patung raksasa.

Inilah malam Pengerupukan atau Ngerupuk, sebuah perpaduan ritual sakral dan pesta seni ogoh-ogoh yang tak terpisahkan. Tradisi ini bukan sekadar pawai keliling desa. Ngerupuk dan ogoh-ogoh merupakan rangkaian prosesi penyucian, baik secara lingkungan maupun spiritual, sebelum umat Hindu memasuki hari raya Nyepi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tentang Ritual Ngerupuk

Ngerupuk atau Pengerupukan berasal dari kata rupuk yang berarti memukul atau membuat kegaduhan. Ritual ini dilaksanakan tepat pada Tilem Sasih Kesanga, yakni hari bulan mati kesembilan dalam kalender Bali.

Secara spiritual, momen ini diyakini sebagai titik transisi yang rawan karena energi negatif atau Bhuta Kala dianggap sedang aktif. Oleh sebab itu, masyarakat melakukan berbagai ritual untuk menetralisir energi tersebut.

ADVERTISEMENT

Sebelum suasana gaduh dimulai, keluarga akan menghaturkan sesajen caru di persimpangan jalan atau depan rumah. Persembahan ini dimaksudkan agar energi negatif tidak mengganggu kehidupan manusia.

Setelah itu, warga menyalakan obor atau menyemburkan mesiu di setiap sudut rumah untuk mengejutkan serta mengusir roh jahat yang dipercaya bersembunyi dalam kegelapan.

Beragam benda yang menghasilkan suara keras, mulai dari kentongan hingga panci, dipukul bertalu-talu. Bunyi tersebut menjadi simbol pengusiran sifat-sifat buruk agar lingkungan kembali murni menjelang fajar Nyepi.

Tentang Ogoh-ogoh

Jika Ngerupuk adalah prosesi aksinya, maka ogoh-ogoh menjadi representasi visualnya. Nama ini berasal dari bahasa Bali "ogah-ogah" yang berarti sesuatu yang digoyang-goyangkan.

Meski kerap dianggap tradisi kuno, pawai ogoh-ogoh baru berkembang secara masif sekitar tahun 1980-an. Sejak saat itu, kreativitas pemuda desa atau banjar semakin terlihat dalam menciptakan patung dengan ukuran besar dan detail memukau.

Ogoh-ogoh biasanya digambarkan sebagai sosok raksasa bermata melotot, bertaring panjang, dan berkuku tajam. Wujud tersebut melambangkan Bhuta Kala, yakni simbol kekuatan negatif serta sifat buruk manusia seperti amarah, keserakahan, dan dendam.

Proses pembuatannya tidak sederhana. Para pemuda desa bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk merancangnya, menggunakan rangka bambu, anyaman rotan, hingga teknik pengecatan yang detail dan hidup.

Filosofi Pembakaran Ogoh-ogoh Saat Pengerupukan

Puncak malam Pengerupukan adalah pembakaran ogoh-ogoh. Setelah diarak keliling desa dengan iringan gamelan baleganjur yang menghentak, patung-patung tersebut dibakar hingga menjadi abu.

Pembakaran ini bukan bentuk perusakan karya seni, melainkan simbol bahwa sifat-sifat negatif dalam diri manusia telah dibakar dan dimusnahkan. Musnahnya ogoh-ogoh menandakan kesiapan umat Hindu Bali memasuki Nyepi dalam keadaan suci, tenang, dan selaras dengan alam semesta.

Spot Strategis Menikmati Malam Pengerupukan di Bali

Bagi detikers yang ingin menyaksikan langsung kemeriahannya, beberapa lokasi berikut dikenal sebagai titik favorit untuk melihat parade ogoh-ogoh dan suasana malam Pengerupukan yang meriah di Bali.

1. Titik Nol Denpasar (Patung Catur Muka)

Pawai  ogoh-ogoh pada malam Pengerupukan di Catur Muka, Denpasar, Bali, Jumat (28/3/2025).Pawai ogoh-ogoh pada malam Pengerupukan di Catur Muka, Denpasar, Bali, Jumat (28/3/2025). Foto: Aryo Mahendro/detikBali

Kawasan ini menjadi pusat pertemuan ratusan ogoh-ogoh dari berbagai banjar di Denpasar. Di sini, pengunjung dapat melihat karya paling inovatif, bahkan ada yang memanfaatkan teknologi mekanik agar patung dapat bergerak.

2. Ground Zero Kuta

Peringatan Tragedi Bom Bali 1 di Ground Zero Kuta, Bali diikuti beragam kalangan.Peringatan Tragedi Bom Bali 1 di Ground Zero Kuta, Bali Foto: Peringatan Tragedi Bom Bali 1 di Ground Zero Kuta, Bali diikuti beragam kalangan. (Triwidiyanti/detikBali)

Bagi detikers yang menyukai keramaian internasional, Kuta adalah tempatnya. Di sepanjang Jalan Legian hingga Pantai Kuta, parade berlangsung sangat meriah dengan campuran penonton dari berbagai negara. Atmosfernya ramai dan penuh energi.

3. Pasar Seni Ubud

Berburu Oleh-Oleh di Pasar Seni UbudPasar Seni Ubud Foto: Ni Made Nami Krisnayanti

Ubud menawarkan pengalaman yang lebih artistik. Ogoh-ogoh di sini dikenal memiliki detail ukiran yang sangat halus dan narasi cerita pewayangan yang kental. Parade biasanya berpusat di sekitar Pasar Seni Ubud dan perempatan jalan utama.

4. Sanur

Bagi yang ingin suasana lebih lega, namun tetap meriah, Sanur menjadi pilihan tepat karena area menontonnya relatif luas.

5. Lapangan Renon (Monumen Bajra Sandhi)

Lapangan terbuka ini sering menjadi titik kumpul warga. Latar Monumen Bajra Sandhi yang megah membuat pengalaman menonton semakin berkesan.

Tips Menonton Malam Pengerupukan

Agar pengalaman menyaksikan parade ogoh-ogoh saat malam Pengerupukan di Bali lebih nyaman dan aman, ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan. Berikut tips menonton ogoh-ogoh di malam Pengerupukan.

  • Datang lebih awal karena jalan biasanya ditutup mulai pukul 16.00 WITA untuk sterilisasi rute.
  • Hargai Pecalang dan ikuti arahan petugas keamanan adat.
  • Jaga kebersihan karena ini merupakan ritual suci.

Secara keseluruhan, ritual Ngerupuk dan ogoh-ogoh bukan sekadar tontonan wisata budaya. Tradisi ini sarat makna spiritual tentang penyucian diri, pengendalian sifat buruk, serta persiapan menyambut hari raya Nyepi dengan hati yang bersih dan damai.




(ihc/irb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads