Gerindra Jatim Bahas Pangan Jatim Bersama Anak Muda, ini Gagasannya

Gerindra Jatim Bahas Pangan Jatim Bersama Anak Muda, ini Gagasannya

Faiq Azmi - detikJatim
Jumat, 06 Mar 2026 21:17 WIB
Gerindra Jatim menggelar diskusi soal pangan bersama anak muda.
Gerindra Jatim menggelar diskusi soal pangan bersama anak muda. (Foto: Istimewa)
Surabaya -

DPD Partai Gerindra Jawa Timur kembali menggelar Tadarus Politik Gen Z Edisi ke-3. Kali ini, Tadarus Politik Gen Z bertemakan 'Politik "Sego Sambel": Kedaulatan Pangan Jatim di Mata Anak Muda'.

Sekretaris DPC Gerindra Pasuruan, Adinda Denisa menegaskan bahwa Jawa Timur tidak lagi cukup berbicara soal ketahanan pangan, tetapi harus melangkah menuju kedaulatan pangan.

Ia memaparkan, sistem pangan berdiri di atas tiga pilar utama yakni ketersediaan stok, akses dan keterjangkauan harga, serta stabilitas pasokan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ketahanan pangan memastikan rakyat tidak kelaparan. Kedaulatan pangan berarti rakyat punya kendali atas sistem pangannya," kata Adinda di Kantor Gerindra Jatim, Jumat (6/3/2026).

Data yang dipaparkan menunjukkan peran strategis Jawa Timur. Produksi jagung mencapai sekitar 4,8 juta Ton atau hampir 30% nasional. Sementara produksi Gabah Kering Panen (GKP) pada awal 2025 mendekati 9 juta ton, setara sekitar 4,2 juta ton beras. Di sektor peternakan, populasi sapi potong dan sapi perah turut menopang kebutuhan protein hewani nasional.

ADVERTISEMENT

Namun, sektor pangan masih menghadapi tantangan persepsi di kalangan anak muda. Pertanian kerap dipandang sebagai pekerjaan berat dengan pendapatan tak menentu. Padahal, menurut Adinda, sektor ini menyimpan peluang besar jika dipadukan dengan teknologi.

Adinda mencontohkan penggunaan drone untuk pemantauan lahan, sensor tanah berbasis Internet of Things (IoT), pengembangan startup agritech, hingga pemasaran digital hasil tani. Transformasi menuju smart farming dinilai menjadi kunci agar pertanian tampil sebagai sektor modern dan menjanjikan.

Isu pangan, lanjut Adinda juga disinggung dalam konteks krisis iklim. Pertanian berkelanjutan, pengurangan pupuk kimia, serta pengelolaan limbah berbasis ekonomi sirkular dinilai penting untuk menjaga keseimbangan lingkungan.

"Bukan hanya cukup makan, tapi cukup dengan cara yang berkelanjutan," tegasnya.

Meski demikian, Wakil Ketua DPRD Pasuruan ini mengakui faktor kesejahteraan tetap menjadi pertimbangan utama generasi muda. Hilirisasi produk, penguatan merek lokal, akses ekspor, hingga inkubator bisnis pertanian bagi pemuda disebut sebagai langkah strategis.

Ke depan, Jawa Timur dibayangkan memiliki youth agripreneur hub di setiap kabupaten, integrasi pendidikan vokasi dengan agroteknologi, serta koperasi digital milik anak muda.

"Melalui forum ini, Gerindra Jatim berupaya menegaskan bahwa politik tak semata soal kekuasaan. Bagi generasi Z, politik bisa menjadi ruang merancang masa depan termasuk memastikan kedaulatan pangan menjadi agenda bersama lintas generasi," tandasnya.

Diskusi politik ini diikuti 75 mahasiswa dari Universitas Airlangga, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Universitas Tujuh Belas Agustus 1945 Surabaya, serta Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya. Ragam latar belakang kampus membuat diskusi berkembang dinamis dan kritis.




(ihc/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads