Kabupaten Nganjuk menjadi pilot project penghasil kedelai secara nasional. Tonggaknya dimulai dari aksi penanaman secara serentak 10 ton benih kedelai varietas unggul dukungan dari Komando Daerah TNI Angkatan Laut V (Kodaeral V) yang dipimpin langsung oleh Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi di persawahan Desa Ngudikan, Kecamatan Wilangan.
Bupati Marhaen mengungkapkan bahwa kedelai adalah satu dari 5 komoditas utama pertanian di Nganjuk. Luas lahan kedelai di Nganjuk saat ini mencapai 3.200 hektare yang tersebar di Kecamatan Rejoso, Bagor, Wilangan, Gondang, dan Kecamatan Nganjuk.
Namun, Marhaen menyebutkan belum semua lahan tersebut ditanami kedelai. Dia mengatakan masih ada seluas 1.200 hektare lahan yang akan dikhususkan sebagai pertanian kedelai yang saat ini belum ditanami.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini adalah buah kolaborasi Pemkab Nganjuk bersama Kodaeral V dan Kementerian Pertanian, di mana hari ini dimulai dari Desa Ngudikan," ujar Kang Marhaen, sapaan akrab Bupati Nganjuk usai penaman secara serentak benih kedelai, Kamis (5/3/2026).
Kang Marhaen manyampaikan bahwa kegiatan ini adalah bagian dari visi besar revitalisasi pertanian Nganjuk periode 2025-2030. Ini juga menjadi tindak lanjut instruksi Presiden Prabowo Subianto untuk menekan angka impor kedelai melalui kolaborasi lintas sektoral.
Dia juga mengungkapkan rasa bangganya atas terpilihnya Nganjuk sebagai pilot project nasional yang mana pencapaian panen kedelai ini tidak lepas dari sinergi erat bersama TNI Angkatan Laut yang memberikan pendampingan intensif kepada para petani dan memberi bantuan 10 ton benih kedelai varietas unggul.
Dia meyakini bahwa kualitas kedelai yang dihasilkan Nganjuk tidak kalah dengan produk impor. Namun hal itu juga harus dibarengi dengan perlindungan ekonomi bagi para petani. Saat ini harga kedelai lokal Nganjuk Rp 8.500/kg dengan kapasitas panen 2 ton per hektare. Sedangkan kedelai impor harganya Rp 9.500/kg.
"Yang sekarang ditanam ini bibitnya lebih berkualitas. Lebih besar dan putih. Diproyeksikan bisa panen 3 bulan lagi dengan kapasitas 4,5 ton per hektare, dan harga jual bisa sampai Rp 10 ribu/kilogram," urai Kang Marhaen.
Gerakan Tanam Kedelai di lahan persawahan Desa Ngudikan, Kecamatan Wilangan, Nganjuk. (Foto: Bakrie/detikJatim) |
Ia menekankan bahwa intervensi pemerintah sangat diperlukan agar petani tidak menjadi korban permainan spekulasi pasar atau tengkulak.
"Kunci utama kemajuan pertanian adalah stabilitas harga. Pemerintah daerah akan terus mendorong penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) dan intervensi harga yang tegas untuk melindungi petani. Jika harga adil dan pasti, petani akan tetap semangat menanam," ungkapnya.
Selain itu, untuk menjamin hasil panen terjual, Kang Marhaen juga mendatangkan perwakilan gabungan koperasi produsen tahu-tempe Indonesia, untuk menampung dan membeli panen kedelai petani.
"Langsung dilakukan penandatanganan MoU antara kelompok tani dengan gabungan koperasi produsen tahu-tempe Indonesia," tambah Kang Marhaen.
Komandan Kodaeral V Laksda TNI Ali Triswanto mengatakan TNI AL tidak hanya berperan menjaga kedaulatan laut tetapi juga terlibat aktif dalam mendukung sektor pertanian melalui pembinaan potensi wilayah dan pendampingan strategis.
"Kegiatan tanam kedelai ini difokuskan pada kesiapan lahan dan sarana pendukung sekaligus mengoptimalkan koordinasi antara pemerintah daerah dan kelompok tani sehingga mampu meningkatkan produksi kedelai sebagai salah satu komoditas strategis nasional," ujar Ali kepada detikJatim di lokasi, Kamis (5/3/2026)
Laksda Ali Triswanto juga memastikan bahwa TNI AL akan terus mengawal proses penanaman kedelai, dan program Nganjuk sebagai pilot project kedelai nasional dari hulu ke hilir. Mulai dari masa tanam hingga masa panen yang akan datang.
"Sehingga kedelai Nganjuk bisa memberikan kontribusi bagi ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan taraf hidup petani secara berkelanjutan," pungkas Ali.
(auh/dpe)












































