Titik tanah longsor di KM 16 jalur utama Trenggalek-Ponorogo diprediksi menyimpan potensi bencana susulan dengan volume lebih besar. Jalur luncuran lokasi kondisinya kritis.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek, Stefanus Triadi Atmono mengatakan, upaya mitigasi di titik KM 16 Desa Nglinggis, Kecamatan Tugu, Trenggalek dilakukan dengan menggunakan pemantauan kamera pesawat tanpa awak (drone) dan pengamatan langsung.
"Longsor di KM 16 ini memiliki mahkota longsor setinggi kurang lebih 147 meter. Area mahkota menjadi titik awal pergerakan tanah, di mana massa tanah telah terpisah dari bagian utama dan masih berpotensi mengalami longsor lanjutan," kata Triadi, Kamis (5/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Timbunan material longsor juga terlihat di atas lereng dengan kondisi yang masih labil. Kondisi tersebut cukup rawan akan terjadi bencana susulan. Terbukti pascakejadian pertama pada Selasa petang, terdapat beberapa kali longsor susulan.
Luncuran material batu bercampur batang pohon meluncur ke bawah tebing. Beruntung timbunan material masih ada yang tertahan di balik tembok penahan tebing.
Dengan kondisi struktur lereng yang ekstrem dan material yang ada, potensi longsor susulan diprediksi bisa lebih besar dibandingkan kejadian sebelumnya. Bahkan dampak kerusakan bisa merusak akses utama jalan nasional Trenggalek-Ponorogo dan tembok penahan.
"Jika terjadi longsor susulan yang lebih besar, juga berpotensi merusak lahan pertanian warga dan mengganggu akses maupun aliran air di sekitar lokasi," jelas Triadi.
